Showing posts with label September. Show all posts
Showing posts with label September. Show all posts

Wednesday, 25 November 2015

MALAM MINGGU MIKO MOVIE (2014) REVIEW : Old Template, New Title



Diangkat dari sebuah Web Series yang secara tak sengaja menjadi sebuah hits di kalangan remaja. Yang pada awalnya seri ini dirilis secara periodik lewat situs Youtube. Malam Minggu Miko, sebuah web series yang dibuat oleh Raditya Dika yang juga salah satu dari penulis serta Comic ternama di Indonesia. Di versi layar lebarnya kali ini, Raditya Dika juga berkesempatan untuk mengarahkan serta menulis langsung skenario film ini. 


Malam Minggu Miko tentu masih memiliki template dari web series-nya. Pria bernama Miko (Raditya Dika) yang lagi-lagi gagal menjalin hubungan dengan seorang wanita. Hal ini menyebabkan dia harus melewati setiap malam minggunya dengan peristiwa tragis dengan wanita yang sedang dekat dengannya. Hingga suatu saat, temannya Ryan (Ryan Adriandhy) kembali lagi menemui Miko untuk melepaskan sebuah kutukannya agar mendapatkan kekasih. 

Menurut Ryan, kutukan itu berada di jas laboratorium milik Miko pada saat SMP dengan tulisan tentang cinta-cintaan. Akhirnya, Miko pun mencari tahu siapa yang menuliskan kutukan tersebut di Jas Laboratorium pada saat SMP. Miko dan Ryan pun memiliki nama-nama untuk diinvestigasi yang akhirnya membuat Miko menemukan seseorang yang cocok di hatinya. 


Pointless Humor about love. 

Raditya Dika masih saja belum jera untuk menyapa lagi penontonnya di layar bioskop. Ya siapa yang bisa menghentikan dia, karena nyatanya film-film miliknya selalu laris manis lantaran nama Dika yang sudah memiliki target pasarnya sendiri. Setelah Marmut Merah Jambu yang juga berhasil dari segi penonton maupun konten di dalamnya, tentu beberapa orang masih menunggu kejutan apa lagi yang akan dibawakan oleh Raditya Dika di film Malam Minggu Miko Movie ini. 

Malam Minggu Miko Movie ini benar-benar menggunakan template yang sama dengan web series miliknya. Baik yang tayang di stasiun televisi lokal, maupun yang rilis di situs Youtube. Bedanya, Malam Minggu Miko Movie tentu saja memiliki durasi lebih panjang daripada web series-nya yang hanya berdurasi 25 menit per-episode. Inilah yang menjadi kendala dari Malam Minggu Miko Movie. Film ini seperti sebuah medley dari episode-episode Malam Minggu Miko series yang ditayangkan di layar lebar. 

Malam Minggu Miko Movie seperti terbagi dalam tiga bagian di filmnya sendiri. Tiga bagian ini memiliki sub plot masing-masing yang ternyata tidak menyokong garis besar cerita di filmnya. Tiga sub plot ini memiliki tiga pion berbeda yang memimpin ceritanya. Salah? Seharusnya tidak jika Raditya Dika bisa mengarahkan sub plot yang ada di film ini dengan baik dan mengkoneksikannya satu sama lain. Sehingga, tidak seperti sebuah sub plot yang berdiri sendiri. 


Sudah waktunya bagi Raditya Dika untuk tidak terlalu sering muncul atau menelurkan karya terbaru di setiap tahunnya. Raditya Dika terlalu sering melakukan pengulangan lelucon di setiap filmnya. Begitupun dengan Malam Minggu Miko Movie yang memiliki gaya humor khas Raditya Dika yang sudah sering didengarkan entah lewat Stand Up Comedy-nya, Buku, ataupun yang lain. Raditya Dika sudah benar-benar kehabisan bahan yang segar untuk komedinya. 

Pengulangan itu beberapa akan berhasil. Tetapi juga beberapa akan sangat gagal dan tidak berhasil membuat penontonnya tertawa. Raditya Dika pun juga terlihat kewalahan dalam gaya arahannya di Malam Minggu Miko Movie. Sangat terlihat jelas, Raditya Dika masih kebingungan untuk mengakhiri Malam Minggu Miko Movie. Paruh akhir film ini seperti diselesaikan secara tiba-tiba dengan satu turning point yang membuat tone dari filmnya berubah. Beberapa pelajaran hidup dan pelajaran tentang cinta yang tidak pernah disinggung sama sekali di paruh awal. 


Malam Minggu Miko Movie tentu tidak bisa memberikan kejutan manis layaknya Marmut Merah Jambu yang juga diarahkan langsung oleh Raditya Dika. Tetapi, Raditya Dika masih setia dengan web series Malam Minggu Miko dengan musik-musiknya and how Raditya Dika deliver the story in this movie version with his web series template. Setidaknya, hal tersebut mengingatkan pada fans-fans Raditya Dika yang mengikuti web-series-nya bahwa ?Oh, ini memang Malam Minggu Miko, banget?. 


Tetapi, hal tersebut tidak bisa menghilangkan bahwa Malam Minggu Miko Movie masih memiliki kekurangan-kekurangan. Raditya Dika tidak mengarahkan film dengan kuat layaknya Marmut Merah Jambu. Hal ini menyebabkan, Malam Minggu Miko Movie hanyalah sebuah film komedi yang pointless yang stereotip ala Raditya Dika. Dengan template jokes yang diulang dari film satu ke film lain. Raditya Dika should trying too hard for making another fans service, this movie is a reason. 
 

THE MAZE RUNNER (2014) REVIEW : The Potential Debut Adaptation


Setiap production house berlomba-lomba untuk mengadaptasi buku-buku populer apalagi buku tersebut berseri. Ada yang berhasil seperti Warner Bros dengan Harry Potter-nya, Lionsgate dengan The Hunger Games-nya, dan yang tak bisa dipungkiri yaitu Summit dengan The Twilight Saga-nya serta Divergent yang juga mulai memiliki massa-nya. 20th Century Fox pun mencoba peruntungan lewat film adaptasi buku berseri milik James Dashner yaitu The Maze Runner

The Maze Runner milik James Dashner ini berbentuk trilogi. Penggemar buku ini mungkin tidak sebesar yang lain. Begitupun dengan promo film ini yang terlihat masih malu-malu untuk sebuah film adaptasi novel. Sutradara yang menangani film ini adalah Wes Ball. Sutradara yang juga baru memulai debut di dunia perfilman. 20th Century Fox juga masih meraba-raba apakah The Maze Runner ini akan sukses atau tidak.


The Maze Runner terfokus pada satu anak bernama Thomas (Dylan O?Brien) yang ingatannya terhapus dan dia terdampar di sebuah area bernama Glade. Di sana, terdapat banyak sekali anak lelaki yang berusaha bertahan hidup. Mereka yang hidup di area ini, menyebut diri mereka Gladers. Di Glade, terdapat sebuah labirin yang setiap hari akan berubah pola. Gladers berusaha untuk mencari jalan keluar yang di dalamnya berisikan makhluk berbahaya bernama Grievers.

Setiap bulannya, anak lelaki baru akan datang ke Glade. Tetapi ketika Thomas datang semuanya berubah. Hanya selang beberapa hari ada anak baru bernama Teresa (Kaya Scodelario). Dengan sebuah pesan yang bertuliskan ?She?s the last one ever? datang bersamanya. Dia mengingat Thomas sehingga menimbulkan pertanyaan bagi Thomas. Thomas yang ingin tahu pun berusaha untuk menjadi seorang Runners dan ingin menemukan jalan keluar dari Glade.


Quite well-directed to cover not so well written script.

Tak dapat dipungkiri, banyak production house berusaha untuk mengekor kesuksesan dari The Hunger Games trilogy. Begitu pun dengan The Maze Runner ini. Buku yang sudah diterbitkan sejak tahun 2009 ini, akhirnya dilirik juga untuk diadaptasi menjadi sebuah film. Tentu dalam mengadaptasi sebuah novel untuk menjadi motion picture, perlu usaha keras agar menjadi film adaptasi yang bagus.

Diperlukan penulis skenario handal agar bisa memindahkan halaman demi halaman dari buku tersebut. Tetapi perlu diingat, buku dan film bukan satu medium yang sama. Selalu akan ada perubahan dalam mengadaptasinya ke film. Tetapi dengan usaha yang baik dari penulis skenario dan arahan yang kuat dari seorang sutradara, tentu akan menghasilkan sesuatu yang bagus. Sayangnya, The Maze Runner memiliki satu departemen yang tidak kuat agar dapat berjalan seimbang.

Yang salah dalam adaptasi The Maze Runner adalah bagian penulisan skenario. Naskah yang ditulis oleh Noah Oppenhaim dan Grant Pierce Mayers ini memiliki penulisan skenario yang lemah. Hal ini memberikan kesan one-dimensional terhadap beberapa karakter. The Maze Runner memiliki banyak sekali karakter di dalamnya. Sayangnya, karakter-karakter yang muncul ini tidak diberi perhatian lebih sehingga semuanya terkesan memenuhi layar. 


Yang menjadi pion untuk menjalankan cerita di film ini hanyalah Thomas. Beban yang cukup berat bagi Dylan O?Brien untuk menjalankan karakter Thomas. Perlu performa yang kuat dan meyakinkan. Sayangnya, Dylan O?Brien sedikit kurang meyakinkan penontonnya bahwa dialah yang mengatur segala permainan film ini. Tentu karakter di film yang terkesan one-dimensional ini, berdampak pada kurangnya koneksi antara karakter dengan penontonnya. Tidak ada rasa simpati dari penontonnya kepada karakter-karakter di film ini.

Tetapi, Wes Ball sebagai sutradara debutan melakukan arahan yang cukup bagus. Dengan lemahnya di bagian penulisan naskah, Wes Ball berhasil membangun filmnya setidaknya menjadi film yang menghibur. Tensi yang terbangun di film ini cukup baik yang setidaknya menciptakan atmosfir horor dan misteri yang cukup baik. Tentu, Wes Ball sebagai sutradara debutan, masih mendapatkan kategori ?layak? tidak seperti halnya sutradara 47 Ronin.


The Maze Runner memang bukanlah menjadi sebuah film adaptasi young adult yang outstanding. Dibandingkan dengan The Hunger Games series, The Maze Runner bukanlah apa-apa. Tetapi, The Maze Runner memberikan hal-hal menarik yang cukup membuat penontonnya penasaran dalam mengikuti setiap menit dari 100 menit film ini. Sayangnya, kekurangan lain menjadi masalah baru bagi The Maze Runner.  Yaitu bagaimana representasi visual di film ini.

Ada yang salah dalam visualisasi di film ini. Tidak ada sesuatu yang spesial dalam production value di film ini. Tidak ada gambar-gambar indah yang dapat ditangkap oleh Director of Photography, terlebih film ini dirilis dalam format IMAX. Visual itu tidak dapat menunjang kelangsungan filmnya. Mata penonton tidak terlalu dimanjakan dengan gambar-gambar di film ini. Apalagi, film ini sering menggunakan waktu malam sebagai setting waktunya. Bisa jadi dengan 'Malam' sebagai setting waktunya, Sang sutradara ingin menyampaikan atmosfir yang lebih mencekam. 


Pada akhirnya, The Maze Runner masih memiliki potensi menjadi salah satu film adaptasi buku young adult yang gagal. Sama halnya seperti Divergent, The Maze Runner memiliki beberapa kelemahan yang sama, terletak pada lemahnya penggalian karakter dan beberapa penyampaian cerita yang masih berantakan. Tetapi, bagaimana sutradara debutan Wes Ball ini bisa menutupi kekurangan dalam skenarionya sehingga The Maze Runner masih menjadi salah satu film yang menghibur.
 

TABULA RASA (2014) REVIEW : ?Makanan? Sederhana, Kaya ?Rasa?

 

Di masa sekarang, kuliner menjadi tren di social media Instagram. Fenomena food porn tentu menarik perhatian banyak orang. Tak terkecuali para sineas untuk menjadikan tren tersebut menjadi hal produktif. Coba kita ingat lagi, sudah berapa film indonesia yang mengangkat kuliner sebagai dasar ceritanya? Brownies, Saus Kacang, dan yang paling baru adalah Madre. Sebuah masakan dijadikan medium untuk menjalankan cerita dari film tersebut.

Lifelike Pictures yang dinaungi oleh Lala Timothy pun mengangkat kembali tema kuliner sebagai dasar cerita film miliknya. Tabula Rasa, satu term adaptasi dari bahasa asing, menjadikan masakan khas padang sebagai ikon untuk filmnya beserta cerita yang ada di dalamnya. Film ini sekaligus menjadi debut layar lebar dari sutradara bernama Adriyanto Dewo yang biasanya hanya menangani film-film pendek.


Mempunyai mimpi yang tinggi sebagai pemain sepak bola terkenal membuat Hans (Jimmy Kobogau) ini rela pergi ke ibu kota Jakarta untuk meraih mimpinya. Sayangnya hal tersebut tidak berjalan manis dan dia harus terlantar di jalanan. Mak (Dewi Irawan) dan Natsir (Ozzol Ramadhan) menemukan Hans tergeletak di jalan dan berinisiatif untuk mengajaknya ke warung padang miliknya. Takana Juo, nama warung padang milik Mak dengan Parmanto (Yayu Unru) sebagai juru masaknya.

Tetapi kedatangan Hans ternyata bukanlah sebuah kabar baik. Rumah Makan Takana Juo memiliki problem dalam kondisi keuangannya. Belum lagi ada rumah makan padang baru yang harus bersaing dengannya. Tentu, Hans menjadi kontradiksi bagi orang-orang yang ada di dalam Takana Juo. Tetapi, Mak tetap mempertahankan Hans yang setidaknya bisa membantunya untuk menemani ke pasar atau sekedar membersihkan rumah makannya. 


?Makanan adalah i?tikad baik untuk bertemu?

Siapa yang tak kenal masakan Padang? Bahkan di pinggiran jalan pun, banyak sekali rumah makan padang berjejeran. Menjadikannya sebagai dasar cerita untuk sebuah film tentu cukup menggairahkan. Masakan berbumbu khas padang itu pun akhirnya bisa kita nikmati lewat layar besar. Tetapi, tentu bukan perkara mudah untuk menjadikan sebuah film bertema kuliner yang benar-benar lezat layaknya sebuah masakan.

Demand yang sudah terbangun dengan cukup baik lewat berbagai media, Tabula Rasa mencoba meyakinkan para calon penontonnya. Dengan gimmick promo yang juga menonjol di antara semua film-film indonesia, tentu Tabula Rasa ingin memberikan sesuatu yang lebih dari sekedar film kuliner. Film debut layar lebar dari Adriyanto Dewo ini, tentu menjadi salah satu sajian hangat di perfilman indonesia dalam genre-nya yang belum banyak ragam.

Tagline di poster Tabula Rasa cukup mewakili apa yang ada di dalam ceritanya. ?Makanan adalah i?tikad baik untuk bertemu? dan masakan khas padang sebagai makanannya. Tabula Rasa bukan hanya sekedar film bertema kuliner dengan gambar-gambar makanan yang menggiurkan saja. Juga memberikan intrik dengan budaya dan keberagamannya yang dipertemukan lewat satu makanan berbumbu dan kaya rasa khas padang. Sajian Tabula Rasa pun juga punya hal tersebut di dalamnya. 


Sebagai karya debut, tentu ini menjadi sebuah karya menjanjikan dari Adriyanto Dewo. Tabula Rasa berhasil meracik bumbu-bumbu itu dengan pas. Film ini pun sesederhana tampilan masakan padang tetapi dibalik kesederhanaan itu ada banyak sekali kekayaan rasa di dalamnya. Tabula Rasa tentu bukan hanya menjadi sebuah film bertema kuliner dengan tampilan saja menggiurkan. Tetapi, ada makna dibalik yang disampaikan dengan cara yang tidak kentara. Mengajak penontonnya menyelami setiap adegan di setiap 100 menitnya itu agar bisa menangkap sendiri pesannya.

Anggap saja para karakter di film ini adalah bahan-bahan dasar untuk memasak. Rempah-rempah dari tanah agraris Indonesia. Mereka sangat beragam, memiliki latar belakang buadaya ataupun agama dan ciri-ciri fisik yang berbeda. Tetapi ketika semua ?bahan? berhasil diracik dan dikolaborasikan, semuanya sangat sedap dipandang dan disantap. Bukankah hidup dalam keberagaman itu sebenarnya begitu indah? Itulah yang coba disampaikan oleh Tabula Rasa.


Tetapi, Tabula Rasa bukanlah film bertema kuliner dengan sajian pop. Sebenarnya, film ini tidak memanjakan penontonnya. Di balik tema-nya yang mainstream itu ada naskah yang ditulis oleh Tumpal Tampubolon yang menyetir Tabula Rasa menjadi film art house. Terlihat cara penuturan film ini yang sebenarnya masih memiliki kesan eksperimental ketimbang ke ranah yang lebih mudah dicerna. Kesan eksperimental itu mungkin tidak akan terasa dominan karena masih ada batasan dalam menyalurkan gaya quirky-nya dalam bertutur di film ini.

Untuk akhirnya bisa mengambil hati penontonnya pun sepertinya masih segmented. Tetapi, kerja keras Adriyanto Dewo berusaha untuk menerjemahkan naskah milik Tumpal Tampubolon ini bisa dibilang berhasil. Toh, Tabula Rasa ini tidak terjerumus terlalu dalam. Karena dengan tema yang seharusnya universal ini, pun harusnya bisa dinikmati oleh segala usia dan kalangan. Bukan hanya sebagian dari penontonnya. 


Character depth pun masih memiliki keterbatasan. Penonton tak bisa masuk lebih dalam lagi agar terkoneksi dengan emosi karakternya. Beruntunglah, kekurangan itu pun bisa ter-cover oleh performa dari jajaran aktor-aktris di film ini. Nama-nama yang ada di film ini mungkin tak eye-catchy, tetapi jangan ragukan performa mereka. Terutama Dewi Irawan yang memerankan sosok Mak dan juga Hans yang diperankan oleh Jimmy Kobogau.

Gambar-gambar indah dari sang DOP ini berperan sangat efektif di film ini. Bagaimana setiap bahan-bahan dapur, makanan-makanan padang seperti rendang atau gulai kepala ikan berhasil memiliki kharismanya. Karena di sinilah bagaimana fenomena foodporn di social media ini berhasil tertangkap lewat gambar bergerak. Alhasil, penonton yang menonton film ini akan merasakan indahnya rendang ataupun gulai kepala ikan. Dengan sesekali membayangkan bau dan rasanya yang akan terasa nikmat saat dihidangkan. Setelah selesai nonton, penonton akan segera mencari rumah makan padang terdekat.


Dengan minimnya keberagaman di tema ini, Tabula Rasa menjadi salah satu cinema gem yang wajib kita santap selagi bisa. Karena, Tabula Rasa bukanlah sekedar tentang sebuah makanan tetapi bagaimana ?Rasa? yang kaya itu sangat penting. Meski penuturan ceritanya yang masih memiliki rasa segmented di dalamnya. Tetapi, Tabula Rasa adalah salah satu karya buatan anak negeri yang patut dapat apresiasi dan perhatian lebih. Selain menggugah selera makan, film ini pun akan menggugah hati penontonnya.

ANNABELLE (2014) REVIEW : ?The Conjuring? Cinematic Universe


Kesuksesan James Wan dalam menangani kasus-kasus supranatural dalam film garapannya tentu tidak diragukan lagi. Kesuksesan yang digapai oleh James Wan ini menjadi babak baru bagi film horror Hollywood. The Conjuring dan Insidious menjadi mahakarya milik James Wan yang mengembalikan lagi semangat-semangat film horror Hollywood yang sudah mulai menghilang. Kedua film tersebut pun mulai meng-expand lagi universe-nya.

The Conjuring pun sudah mendapatkan slot untuk sekuelnya. Sebelum menuju ke sekuelnya, penikmat film horor dimanjakan oleh sebuah spin-off dari The Conjuring. Siapa yang tak tahu boneka ?menggemaskan? di film The Conjuring, Annabelle? Boneka ini berkesempatan untuk mendapatkan penuh 90 menit durasi film yang menceritakan tentangnya. John R. Leonetti ini berkesempatan untuk menjalankan penuh cerita boneka setan ini.


Where to begin the Annabelle? Sepasang suami-istri, John Form (Ward Horton) dan Mia (Annabelle Wallis) hidup di sebuah rumah. Mia yang sedang hamil tua mendapatkan hadiah dari sang suami sebuah boneka Annabelle yang sudah lama di carinya. Di malam yang sama, dua orang pengikut sekte pemuja setan datang tiba-tiba dan meneror rumah mereka. Pertumpahan darah pun terjadi dan boneka Annabelle tersebut menjadi saksi bisu.

Setelah kejadian pada malam itu, Mia merasa tidak nyaman dengan rumahnya. Dia pun mengalami beberapa kejadian janggal di dalam rumahnya dan juga dengan boneka Annabelle miliknya. Dia pun menyuruh sang suami membuangnya dan memutuskan untuk pindah ke tempat lain. Tetapi, Boneka tersebut mengikuti ke mana mereka pergi. Dan teror pun dimulai.


A spin-off to expand ?The Conjuring? universe

Kemunculan boneka Annabelle di film The Conjuring menjadi salah satu hal ikonik untuk film arahan James Wan tersebut. Annabelle pun disandarkan dengan sang boneka setan legendaris, Chucky. Tentu, Warner Bros pun tak mau diam mengenai fenomena boneka Annabelle ini. The Conjuring pun memperluas universe horror dengan sebuah spin-off dari boneka setan Annabelle. Hanya berselang setahun setelah euphoria The Conjuring, Annabelle pun diluncurkan.

Orang pun menilai Annabelle ini adalah aji mumpung dari The Conjuring. Spin off pengeruk uang yang tentu bisa menarik perhatian penontonnya di tengah sepinya film besar di bulan Oktober. John R. Leonetti belum punya track record baik di karya. Dia hanya ikut andil menjadi co-producer dalam dua seri Insidious yang juga disutradarai oleh James Wan. Lantas, Annabelle tentu hanya menggunakan pamornya di The Conjuring untuk menjalankan misinya.

Annabelle arahan dari John R. Leonetti ini belum bisa dikatakan menjadi salah satu film horor yang dapat mengekor kualitas milik The Conjuring. Di tengah sepinya film horor di tahun ini, Annabelle pun belum bisa dikatakan yang paling menonjol untuk tahun ini. Di luar pamornya yang tinggi, Annabelle tidak memberikan efek dalam jangka panjang. Segala hal di dalam film ini pun akan mudah dilupakan oleh penontonnya setelah credit title bergulir.


Harapan yang digantungkan oleh penonton kepada film Annabelle cukup tinggi ketika tahu bahwa The Conjuring benar-benar membuat penonton ketakutan. Nyatanya, Annabelle arahan John R. Leonetti ini masih tidak memiliki potensi yang sama bagusnya. Annabelle tentu memiliki hal klise dalam mengkonstruksi cerita di dalamnya. Lewat naskah yang ditulis oleh Gary Dauberman ini terlihat menggunakan lagi template cerita yang sudah usang.

Cerita yang ada di film ini seperti sudah pernah penonton saksikan di film horor-horor lainnya seperti sekte pemuja setan, simbol, dan beberapa konflik lainnya. Hanya saja yang sedikit berbeda yaitu adanya medium setan tersebut berinang, Boneka Annabelle. Cerita milik Annabelle ini bukan hanya tidak spesial, tetapi penuturannya pun tertatih. Semua terkesan dipercepat di awal hingga pada bagian paruh akhirnya, film ini pun tak tahu akan dibawa dalam penyelesaian seperti apa.


Hasilnya, penonton merasa terkejut dengan penyelesaian yang menggelikan. Cerita milik Annabelle memang tidak ada yang istimewa tetapi cerita yang tak istimewa itu tidak menjadi hal pendukung untuk filmnya. John R. Leonetti terlihat begitu semangat dan tidak sabar untuk  meneror penontonnya. Alhasil, begitu cepat karakter-karakter dan konflik itu masuk di dalam film ini. Paruh pertama masih cukup bagus dalam membangun suasananya. Tetapi setelah itu, segalanya terlihat sangat melelahkan untuk diikuti. Beberapa karakter pun akan terkesan asal tempel untuk menyesaki layar.  

Tetapi, John R. Leonetti masih patut diacungi jempol untuk mengarahkan film Annabelle yang masih mampu meneror penontonnya. Tetapi, tingkatan teror itu masih belum bisa menyaingi The Conjuring yang mampu melekat di penontonnya hingga berhari-hari. John R. Leonetti masih memiliki semangat dan beberapa ciri dari film James Wan yang digunakan di film ini. Beberapa kesan old-school lewat scoring meski tak sekuat jika ditangani oleh James Wan.

Kekuatan dari Annabelle adalah Jump-scare yang beberapa juga masih hit and miss. Tidak ada inovasi yang digunakan oleh sang sutradara untuk mengageti penontonnya. Jump-scare milik Annabelle pun terkesan been-there, done-that tetapi masih efektif untuk membuat penontonnya berteriak. Mungkin ada beberapa yang terasa fresh di jump scare-nya, terutama adegan di dalam lift. John R. Leonetti pun masih bisa memberikan atmosfir yang tegang di beberapa bagian. Tetapi, tak sedikit pula yang masih gagal dalam membangun atmosfir tersebut.


Annabelle mungkin tidak dapat menyaingi The Conjuring yang mematok harga tinggi untuk film horor. Dengan cerita yang dibangun masih sangat lemah dan arahan milik John R. Leonetti yang terlalu bersemangat, Annabelle pun tidak dapat berdiri sejajar dengan pamornya yang tinggi. Tetapi, semangat dan beberapa identitas milik James Wan yang masih diikuti polanya oleh sang sutradara, Annabelle masih akan diburu oleh penonton awam dan pecinta horor untuk dinikmati sensasinya.

THE MAN FROM U.N.C.L.E (2015) REVIEW : Stylish Espionage But Losing Something


Film-film spionase dan agen rahasia akhir-akhir dalam beberapa tahun terakhir ini banyak dihidupkan kembali. Pun, beberapa adaptasi dari beberapa ikon-ikon spionase lama pun dikenalkan kembali kepada penonton-penonton abad 21 ini. Dianggapnya berhasil mengundang penonton, pun para sineas Hollywood mencari ikon mana yang akan digarap ulang menjadi sebuah film berdurasi penuh untuk film layar lebar.

Tahun ini salah satunya adalah The Man From U.N.C.L.E yang diadaptasi dari serial televisi dengan judul yang sama dan sukses di tahun 1960-an. Proyek ini pun ditangani oleh Guy Ritchie yang sebelumnya pernah berhasil lewat Dwilogi Sherlock Holmes dan sebagai pemanasan sebelum seri ketiga, dia menangani proyek film ini. The Man From U.N.C.L.E dibintangi oleh Henry Cavill dan Armie Hammer sebagai pemeran utamanya.

Memiliki premis yang serupa dengan berbagai film-film bertema sama, tentu menjadi kendala bagi The Man From U.N.C.L.E untuk menjadi yang berbeda. Tetapi di tangan Guy Ritchie, The Man From U.N.C.L.E memiliki signature khas miliknya yang berbeda. Signature milik Guy Ritchie yang memiliki banyak gaya yang asyik dalam mengadegankan cerita membuat The Man From U.N.C.L.E setidaknya menarik untuk disimak. Hanya saja, Guy Ritchie kehilangan emosi yang membuat The Man From U.N.C.L.E tak tampil begitu luar biasa. 


Dua negara yang sedang berseteru, Amerika dan Rusia, memiliki dua agen mata-mata yang awalnya saling mengejar satu sama lain. Dua mata-mata itu adalah Napoleon Solo (Henry Cavill) dan Ilya Kuryakin (Armie Hammer). Setelah beberapa kali berseteru, mereka pun dipaksa bekerjasama dalam satu misi yang ditugaskan langsung oleh kedua petinggi mereka. Mereka harus melacak sebuah organisasi kejahatan yang dibuat oleh Nazi untuk mengembangkan senjata Nuklir.

Solo dan Kuryakin yang memiliki latar belakang yang berbeda, jelas merasa kesusahan untuk bekerjasama dengan baik satu sama lain. Mereka pun bersaing untuk menjadi yang terbaik meski ada dalam satu misi. Ada Gaby (Alicia Vikander) yang harus mereka libatkan karena ayahnya adalah salah satu orang yang ada di dalam organisasi tersebut. Napoleon dan Kuryakin menyamar sebagai orang yang ada di dalam kehidupan Gaby agar bisa masuk ke dalam organisasi tersebut. 


Premis-premis cerita seperti ini memang sudah terlalu sering ditemui di beberapa film bertema serupa. Jelas, hadirnya The Man From U.N.C.L.E bukan untuk menjadi sesuatu yang berbeda, tetapi untuk menjadikannya sebuah popcorn movie di waktu senggang. Tujuan The Man From U.N.C.L.E untuk menjadi film seperti itu memang tercapai dengan sangat baik. Hanya saja, setelah film berakhir dan penonton keluar dari teater mereka akan lupa beberapa detil cerita dari film The Man From U.N.C.L.E.

The Man From U.N.C.L.E bukanlah presentasi yang sempurna meskipun tetap menjadi sajian yang menyenangkan. Beberapa adegan aksinya pun digarap semenarik mungkin agar penonton tetap betah dengan 115 menit film ini. Tetapi Guy Ritchie kehilangan satu poin penting agar bisa menarik perhatian penonton hingga merasa simpati dengan karakter maupun konflik di dalam filmnya. Emosi, Guy Ritchie kehilangan itu di dalam presentasi The Man From U.N.C.L.E di sepanjang durasinya.

Setiap adegan aksinya tak memiliki kekuatan untuk memikat penontonnya. Semua terjadi begitu saja dan Guy Ritchie terlihat pasrah dalam mengarahkan The Man From U.N.C.L.E. Adegan aksinya pun tak ada yang megah dan bahkan tak se-stylish film-film Guy Ritchie sebelumnya. Fireshot, Car-chase, and fighting scene tak ada yang mampu mencapai rasa klimaks yang pas di dalam setiap adegannya. Sehingga, The Man From U.N.C.L.E tak membekas begitu lama di benak penontonnya. 


Bagaimana Guy Ritchie menyampaikan plot cerita yang penuh intrik itu pun tak sekuat Sherlock Holmes. The Man From U.N.C.L.E pun memiliki beberapa plot twist yang diselipkan di beberapa adegan filmnya. Sayangnya, Guy Ritchie tak mengolah dan menyampaikan cerita-cerita itu dengan penuh kekuatan dan hasilnya cerita-cerita turning point itu pun melempem. Mungkin penonton hanya bergumam ?oh? ketika cerita itu berusaha disampaikan di tengah filmnya.

Pun, dengan durasi yang mencapai 2 jam, konflik The Man From U.N.C.L.E pun terasa diulur-ulur. Paruh tengah film The Man From U.N.C.L.E terihat bagaimana Guy Ritchie terlihat kebingungan mau diisi apa lagi agar film ini memiliki rasa yang menyenangkan, meskipun hal tersebut gagal dicapai olehnya. Beruntungnya, The Man From U.N.C.L.E memiliki beberapa komedi-komedi segar yang membuat filmnya tak melulu membuat cemberut para penontonnya.

Guy Ritchie terlihat membuat The Man From U.N.C.L.E bermain di comfort zone agar tak terlalu membuat film ini jatuh pamornya. Meski begitu, The Man From U.N.C.L.E akan berhasil bagi beberapa penonton yang ingin melepaskan sejenak pikirannya. Formula-formula usang yang ada di dalam film The Man From U.N.C.L.E setidaknya berhasil menjadikannya sebagai Popcorn movie untuk rehat sejenak dari beberapa beban pikiran penonntonnya. 


Tak mempunyai ambisi untuk menjadi yang berbeda membuat The Man From U.N.C.L.E garapa Guy Ritchie ini pun tampil tak maksimal. Segala upaya Guy Ritchie untuk membuat adegan di dalam The Man From U.N.C.L.E se-asyik mungkin tak sepenuh dicapai. Ada beberapa poin yang kehilangan kekuatan untuk menjadikan The Man From U.N.C.L.E sajian yang tampil prima. Sayangnya, Guy Ritchie lupa menghadirkan emosi di setiap durasinya agar The Man From U.N.C.L.E berhasil memikat penontonnya di dalam durasinya yang cukup panjang.

PAPER TOWNS (2015) REVIEW : Another Fresh Air From John Green?s Adaptation

Setelah sukses luar biasa dari The Fault In Our Stars, buku-buku milik John Green sudah mulai dilirik oleh rumah produksi untuk diangkat menjadi sebuah film. Kesuksesan The Fault in Our Stars tak hanya dalam segi Box Office saja, melainkan juga dari respon para kritikus film. Jelas, hal tersebut akan terlihat menggiurkan bagi para rumah produksi. Beberapa daftar dari buku milik John Green pun satu persatu masuk ke dalam daftar film yang akan rilis di tahun-tahun berikutnya

Di tahun 2015, Paper Towns, buku kedua milik John Green ini mendapatkan kesempatan untuk diadaptasi menjadi 100 menit gambar bergerak. Ditangani oleh sutradara berbeda, tetapi Paper Towns kembali diadaptasi ke dalam naskah yang ditulis oleh Michel H. Weber dan Scott Neutstadter. Jake Schreier menjadi atasan dari proyek adaptasi buku milik John Green ini.

Bukanlah hal mudah bagi Jake Schreier untuk mengadaptasi Paper Towns menjadi sebuah pengalaman menonton yang menyenangkan dalam 100 menit durasinya. Karena tak dapat dipungkiri, presentasi akhir dari Paper Towns akan disandingkan langsung dengan The Fault In Our Stars yang sudah mematok hasil akhir yang luar biasa tinggi. Paper Towns bukan tak memiliki hasil akhir yang menarik, hanya saja Paper Towns tak akan bisa menyaingi The Fault In Our Stars sebagai presentasi sempurna. 


Margo Roth Spiegelmen (Cara DeLevigne), gadis sebelah rumah yang sangat dikagumi oleh Quentin (Nat Wolff). Margo sangat menyukai teka-teki, saat mereka masih anak-anak Quentin dan Margo sering bermain bersama-sama. Hingga semakin lama, intensitas bertemu mereka pun semakin jarang. Apalagi, ketika keduanya masuk dalam masa remaja sekolah lanjut tingkat akhir. Meski begitu, Margo tetap menjadi gadis sebelah rumah Quentin yang ia kagumi.

Hingga suatu ketika, Margo mendatangi kamar Quentin untuk melaksanakan 9 misi balas dendamnya. Quentin pun dengan sigap melakukan semua yang direncanakan oleh Margo. Hal tersebut membuat Quentin merasa dirinya penting bagi Margo. Hingga keesokan harinya, Margo tak kunjung datang ke sekolah mereka. Beberapa hari berjalan, Margo pun tetap tak kunjung datang. Quentin pun dapat kabar bahwa Margo telah hilang. Tetapi, Margo meninggalkan jejak bagi Quentin untuk ditemukan. 


Sebagai sebuah film drama romance yang ditujukan kepada para remaja sebagai target pasar mereka, Paper Towns bisa dianggap sebagai sebuah angin segar di dalam genre ini. Paper Towns menawarkan tak hanya drama romance kental, melainkan ada drama persahabatan yang juga cukup kental di dalam filmnya. Pun, Paper Towns memiliki premis cerita yang akan terkesan tak biasa di dalam genre ini. Mengombinasikan dua genre berbeda yaitu romance dan mystery.

Kombinasi dari dua genre itu pun akan sangat bisa menjadi bumerang bagi film ini sendiri. Meski tak secara keseluruhan gagal menyampaikan ceritanya, Paper Towns pun akan terasa begitu membingungkan bagi penonton yang tak membaca bukunya. Naskah milik Weber dan Neutstadter pun seharusnya sudah dapat mengadaptasi dengan baik buku dari John Green. Hanya saja, Jake Schreier tak begitu kuat mengarahkan Paper Towns. Alhasil, akan banyak sekali plot hole yang tersebar dalam elemen misterinya.

Elemen-elemen yang terlalu banyak di Paper Towns ini lah yang membuat filmnya tak terlalu fokus terhadap poin utamanya. Yang seharusnya film ini kuat dalam elemen misteri di mana Margo pun akan terasa semakin blur di setiap durasinya. Teka-teki yang sudah disebar di sepanjang durasi pun seperti tak berpengaruh penting bagi sisa akhir ceritanya. Tetapi, bagaimana Jake Schreier mengelola Paper Towns dengan caranya sendiri membuat film ini masih menyenangkan untuk diikuti. 


Oleh tangan Jake Schreier diubahnya menjadi sebuah drama coming of age yang lebih kepada persahabatan dan romance sebagai sampingannya. Perkembangan karakter-karakter yang ada di Paper Towns pun berubah menjadi poin utama yang menyenangkan di dalam filmnya. Sehingga, Paper Towns pun akan terasa menyenangkan bagi para penonton dewasa yang ingin merasakan kembali suasana-suasana sekolah tingkat akhir di masa remaja mereka.

Pun, para remaja bukan berarti tak dapat menikmati keseluruhan film ini. Mereka pun akan tetap mendapatkan film yang penuh dengan semangat remaja ceria yang menyenangkan. Akan tetapi, penonton yang mengharapkan film romance luar biasa akan merasakan kekecewaan. Karena Paper Towns tak hanya sekedar film coming of age dengan romansa yang kental, tetapi ada elemen lain yang hadir untuk melengkapi film ini.

Tak hanya menyenangkan, Paper Towns memiliki gambar-gambar cantik yang jelas menguatkan segala kesenangan dan keceriaan nada cerita film ini. Juga, jangan lupakan lagu-lagu pengiring yang manis di dalam film ini yang juga menjadi kekuatan di setiap film-film adaptasi buku John Green. Sayangnya, penempatan lagu pengiring di film Paper Towns tak bisa semegah dan tepat The Fault In Our Stars. Sehingga, beberapa lagu tak mendapat highlight sempurna. 


Dibandingkan dengan film adaptasi buku John Green sebelumnya ?The Fault In Our Stars ?adaptasi Paper Towns tak bisa tampil se-prima itu. Tetapi, Paper Towns menyajikan sesuatu yang cukup menyenangkan untuk diikuti dan menyelipkan sesuatu yang segar di dalam genre ini. Meski terlalu banyaknya elemen di dalam ceritanya membuat fokus utamanya kabur, Paper Towns tetaplah sajian drama Coming of age yang layak untuk ditonton sebagai pengenang masa remaja yang indah. 

SINISTER 2 (2015) REVIEW : Another Inferior Horror?s Sequel


Ketika sebuah film dianggap berhasil, tentu rumah produksi itu tak akan mensia-siakan potensi yang ada di dalam film tersebut. Salah satunya adalah dengan membuat sebuah sekuel terhadap film tersebut. Entah, film itu penting untuk dibuatkan sebuah sekuel atau tidak, yang jelas film ini akan menghasilkan banyak sekali uang terhadap sebuah rumah produksi karena mereka tak perlu susah-susah membangun hype dari awal. Meskipun, tak semua sekuel akan bisa benasib sama dengan film orisinilnya entah dari respon penonton atau pun pendapatan.

Tahun ini cukup banyak film-film sekuel yang bertebaran. Salah satunya adalah film horor arahan Scott Derrickson, Sinister. Di tahun ini, Sinister kembali hadir menyapa penontonnya ?khususnya untuk para pecinta film horor ?agar mereka merasa ditakut-takuti. Sayangnya, Scott Derrickson tak lagi kembali menangani film horor yang sebelumnya adalah miliknya. Ciaran Foy lah yang mengarahkan seri terbaru dari Sinister 2 kali ini.

Sinister 2 memang masih menggunakan benang merah yang menjadi film horor satu ini menjadi ikonik. Beberapa elemen supranatural dan sekte pemuja setan yang semakin lama semakin banyak digunakan di berbagai film horor mana pun masih juga dipakai oleh Sinister 2. Tetapi, Sinister 2 memiliki penurunan performa yang sangat drastis jika dibandingkan dengan prekuelnya. Ciaran Foy tak mampu mengarahkan Sinister 2 menjadi sajian yang mengerikan seperti apa yang ditawarkan oleh Scott Derrickson di film pertamanya. 


Seperti layaknya film-film horor lainnya, Sinister 2 pun memulai ceritanya lewat sebuah keluarga yang memiliki anak. Courtney (Shannyn Sossamon) pindah ke sebuah rumah bekas gereja karena baru saja bercerai dan menghindari suaminya yang tempramental. Dia pindah dengan kedua anak mereka Dylan (Robert Daniel Sloan) dan Zach (Dartanian Sloan). Mereka berdua merasakan ada yang aneh di dalam rumah yang mereka huni saat ini.

Dylan terbangun di tengah malam karena ulah sosok arwah anak kecil yang gentayangan di sekitar rumah mereka. Dylan pun bisa berinteraksi dengan arwah tersebut dan arwah itu menyuruh Dylan untuk menonton sebuah video pembalasan dendam untuk dia terapkan ke keluarga mereka. Semakin lama, Dylan merasa gusar dan merasa video yang dia tonton bukanlah sesuatu yang pantas untuk diserap oleh otaknya. Tetapi, arwah-arwah itu semakin menghantui dia dan bahkan keluarganya. 


Performa Sinister 2 yang turun drastis itu disebabkan oleh bagaimana premis cerita sekuel ini dibuat. Mungkin, film ini terlalu gamblang untuk menyampaikan apa yang hendak dimaksud oleh sang pembuat cerita kepada penontonnya. Pun dengan apa yang dirasa gamblang oleh penontonnya, Sang sutradara tak memiliki rasa untuk menutupi plot ceritanya. Tak ada rasa penasaran atas apa yang terjadi di rumah itu, yang membuat penonton merasa apa yang dia lihat tak lagi sesegar apa yang dia lihat di film pertamanya.

Jelas, hal ini akan mengurangi bagaimana Sinister 2 mencoba untuk bermain dengan ceritanya. Sang sutradara pun mengolah apa yang ada di naskah yang ditulis oleh Scott Derrickson dan C. Robert Cargill secara mentah-mentah. Pengarahan milik Ciaran Foy jelas apa adanya asal apa yang dia kerjakan selesai dan siap untuk disebarluaskan ke pasar. Banyak sekali elemen-elemen horor yang absen di dalam film Sinister 2.

Sinister yang lebih kental akan atmosfir horornya yang menyeramkan, tak lagi ada di dalam film keduanya. Sinister 2 berisikan banyak sekali jump scares murahan yang bahkan penonton akan dengan mudah menebak setiap adegannya. Hal itu semakin menambah minus di dalam presentasi di dalam film sekuel ini. Sinister 2 pun kekurangan ide-ide segar untuk membuat filmnya menjadi sebuah film yang menyamai presentasi di dalam filmnya. 


Sebenarnya, Sinister 2 pun tak menggunakan cara instan untuk menyalin template cerita yang ada di film sebelumnya. Dan hal itu seharusnya bisa menjadi potensi agar Sinister 2 bisa menampilkan sajian segar di dalam genre ini. Tetapi, tak serta merta membuat Sinister 2 kehilangan signature dari film orisinilnya. Di film ini pun masih memberikan beberapa template dari film sebelumnya dengan tetap ada video-video pembunuhan yang menjadi kekuatan di dalam film sebelumnya.

Pun, juga masih ada benang merah yang coba disambungkan oleh Ciaran Foy dari film pertamanya sebagai penjalan konflik di proyek sekuelnya. Meskipun, hal itu tak menjadi poin yang sangat signifikan untuk diceritakan di dalam sekuelnya. Dan video-video yang ditampilkan di dalam Sinister 2 tak bisa menghadirkan atmosfir mengerikan yang juga menjadi signature dari film Sinister yang pertama. Signature yang setia Ciaran Foy selipkan di dalam film sekuelnya, ternyata tak bisa menyelamatkan betapa minimalisnya sekuel dari film horor yang sangat menyeramkan di seri sebelumnya. 


Sama dengan penyakit-penyakit film horor yang dibuat sekuelnya, Sinister 2 tak menjanjikan presentasi akhir yang sama kuatnya dengan film sebelumnya. Pergantian arahan dari Derrickson ke Foy membuat Sinister 2 memiliki performa yang turun sangat drastis dan membuat Sinister 2 hanyalah sebuah film horor sekuel dengan tampilan murahan. Meski memiliki beberapa signature yang diselipkan ke dalam filmnya, tak lantas membuat Sinister 2 bisa memberikan atmosfir horor yang kuat. Malah, Sinister 2 jatuh menjadi sebuah film penuh Jump Scares yang gampang ditebak dan tidak menyeramkan. 

TED 2 (2015) REVIEW : Ted Is Back, The Jokes Is Not


Setelah secara tak terduga menjadi sebuah film ikonik dengan pendapatan dan respon yang baik dari kritikus, Seth MacFarlane memberikan persepsi lain kepada sebuah boneka Teddy Bear. Secara Ajaib, Ted menjadi sebuah film yang menghibur meskipun dengan guyonan yang penuh dengan sensualitas yang kadang membuat orang jengah. Tetapi, hal itu tetap menjadi senjata andalan untuk Ted menggerakkan cerita dan juga leluconnya yang jenaka.

Dengan respon yang baik dan pendapatan di Box Office yang juga sangat tidak mengecewakan, ini jelas digunakan oleh Seth MacFarlane untuk membuat sekuel dari boneka beruang tak bermoral ini. Ted 2 pun siap diarahkan dan dimainkan kembali oleh Seth MacFarlane melanjutkan sisa-sisa cerita yang ada di film sebelumnya. Tetap menggunakan Mark Wahlberg sebagai pemeran utama dengan absennya Mila Kunis, pemeran wanita diisi oleh Amanda Seyfried.

Ted 2 pun tak cenderung formulaic dan menggunakan template dari film prekuelnya. Hanya saja, ekspektasi penonton ketika menonton Ted 2 jelas masih terbayang-bayang betapa senonohnya guyonan di dalam filmnya akan tetapi mudah mengundang tawa penonton. Dan hal berbalik di Ted 2, guyonan yang diusung oleh Seth MacFarlane di dalam naskah Ted 2 berubah menjadi segmented jokes yang hanya dipahami oleh para pecinta kultur pop.


Konflik Ted 2 kali ini berfokus pada Ted (Seth MacFarlane) yang menikahi kekasihnya Tami-Lynn (Jessica Barth). Kehidupan pernikahan mereka setelah satu tahun cukup susah. Mereka pun tak saling sapa meskipun berada di satu tempat kerja. Hal tersebut membuat Ted mencari cara agar hubungan pernikahan mereka baik-baik saja. Dan, cara yang mereka tempuh adalah dengan mempunyai anak. Ted pun mencoba untuk mencari anak lewat berbagai macam hal. Dibantu oleh John (Mark Wahlberg), temannya, Ted berusaha untuk mencari donatur sperma dan sayangnya tak berhasil.

Tami-Lynn terdiagnosa memiliki kandungan yang tak sehat. Dia dan Tami-Lynn pun berinisiatif untuk mengadopsi anak dari sebuah panti asuhan. Tetapi, permintaan Ted untuk mengadopsi anak tak dipenuhi oleh pihak panti asuhan. Karena, negara menganggap Ted sebagai sebuah properti bukan sebagai warga sipil. Mulai kejadian itu, Ted semakin terpuruk karena statusnya. Dan dengan bantuan Samantha (Amanda Seyfried), sang pengacara, Ted menuntut keadilan sebagai warga sipil.


Cerita sekuel dari film yang berubah fokus dari karakter John ke karakter Ted mungkin memiliki perspektif baru untuk menggerakkan plotnya. Terlebih, di sekuelnya kali ini, keberadaan Ted sebagai manusia seutuhnya akan diulik lebih dalam. Inilah yang membuat sekuel dari film boneka beruang ini bisa memiliki konflik yang berbeda untuk menggerakkan plotnya. Sayangnya, konflik yang diusung oleh Seth MacFarlane di Ted 2 ini malah menjadi bumerang bagi keseluruhan presentasi sekuelnya.

Karena terlalu fokus pada konflik cerita yang semakin rumit, Seth MacFarlane lupa dengan misinya membuat sekuel dari Ted yang mengocok perut penontonnya. Ted 2 pun kehilangan semangat untuk ditertawakan oleh penontonnya. Seth MacFarlane terlalu sibuk untuk mengatur cerita dan memasukkan subplot untuk menambah konflik di dalamnya. Sehingga, Seth MacFarlane lupa untuk menyebar jokes segar dengan signature sensualitas yang khas di dalam naskahnya.

Meski tak sepenuhnya lupa akan misi itu, Seth MacFarlane tetap memenuhi adegan di dalam Ted 2 yang bisa ditertawakan. Hanya saja, kuantitas yang ada di dalam film sekuelnya itu tak terlalu banyak seperti di dalam film predesesornya. Masalah pun tak berhenti sampai bagaimana Seth MacFarlane terlalu loyo untuk memberikan jokes ke dalam filmnya. Pun juga, ketika Seth MacFarlane ternyata memiliki kesalahan segmentasi terhadap jokes yang diselipkan.


Kesalahan berikutnya di dalam film Ted 2 adalah bagaimana Seth MacFarlane menyelipkan guyonan dengan referensi pop konteks tinggi. Hal ini lah yang malah membuat presentasi secara keseluruhan di dalam Ted 2 tak bisa maksimal. Ted 2 pun hanya cocok diperuntukkan kepada para penggemar pop kultur dengan banyak referensi. Hal tersebut berdampak pada bagaimana penonton awam yang tak tahu menahu tentang referensi yang dimasukkan oleh Seth MacFarlane ke dalam filmnya tak bisa menangkap hal yang harusnya bisa jadi bahan tertawaan.

Seth MacFarlane memasukkan referensi-referensi pop-culture tentang Jurassic Park, Star Wars, Star Trek, Lord of The Rings dan beberapa referensi lainnya. Referensi itu jelas bukan sesuatu yang dapat semua orang terima sebagai penonton Ted 2 secara umum. Seth MacFarlane pun terlihat terlalu asyik untuk merangkum semua referensi itu ke dalam 115 menit filmnya. Hal itu seharusnya menjadi suatu keunggulan di dalam produk yang dihasilkan oleh Seth MacFarlane. Hanya saja, hal tersebut malah menyerang balik Ted 2 secara keseluruhan presentasinya.


Berusaha mencoba menjadi presentasi yang berbeda jelas menjadi suatu keharusan bagi sebuah sekuel agar tak terkesan meniru ulang template film pertamanya. Ted 2 pun memiliki hal tersebut dan menjanjikan memberikan plot yang berbeda dan lebih kompleks ketimbang film pertamanya. Hanya saja, Seth MacFarlane terlalu serius untuk menggerakkan plot di dalam Ted 2 sehingga lupa semangat untuk membuat bahan tertawaan yang mengocok perut penontonnya. Referensi kultur pop yang berlebihan di dalam Ted 2 pun menjadi kendala yang berarti bagi presentasinya.