Showing posts with label The Maze Runner. Show all posts
Showing posts with label The Maze Runner. Show all posts

Wednesday, 25 November 2015

THE MAZE RUNNER (2014) REVIEW : The Potential Debut Adaptation


Setiap production house berlomba-lomba untuk mengadaptasi buku-buku populer apalagi buku tersebut berseri. Ada yang berhasil seperti Warner Bros dengan Harry Potter-nya, Lionsgate dengan The Hunger Games-nya, dan yang tak bisa dipungkiri yaitu Summit dengan The Twilight Saga-nya serta Divergent yang juga mulai memiliki massa-nya. 20th Century Fox pun mencoba peruntungan lewat film adaptasi buku berseri milik James Dashner yaitu The Maze Runner

The Maze Runner milik James Dashner ini berbentuk trilogi. Penggemar buku ini mungkin tidak sebesar yang lain. Begitupun dengan promo film ini yang terlihat masih malu-malu untuk sebuah film adaptasi novel. Sutradara yang menangani film ini adalah Wes Ball. Sutradara yang juga baru memulai debut di dunia perfilman. 20th Century Fox juga masih meraba-raba apakah The Maze Runner ini akan sukses atau tidak.


The Maze Runner terfokus pada satu anak bernama Thomas (Dylan O?Brien) yang ingatannya terhapus dan dia terdampar di sebuah area bernama Glade. Di sana, terdapat banyak sekali anak lelaki yang berusaha bertahan hidup. Mereka yang hidup di area ini, menyebut diri mereka Gladers. Di Glade, terdapat sebuah labirin yang setiap hari akan berubah pola. Gladers berusaha untuk mencari jalan keluar yang di dalamnya berisikan makhluk berbahaya bernama Grievers.

Setiap bulannya, anak lelaki baru akan datang ke Glade. Tetapi ketika Thomas datang semuanya berubah. Hanya selang beberapa hari ada anak baru bernama Teresa (Kaya Scodelario). Dengan sebuah pesan yang bertuliskan ?She?s the last one ever? datang bersamanya. Dia mengingat Thomas sehingga menimbulkan pertanyaan bagi Thomas. Thomas yang ingin tahu pun berusaha untuk menjadi seorang Runners dan ingin menemukan jalan keluar dari Glade.


Quite well-directed to cover not so well written script.

Tak dapat dipungkiri, banyak production house berusaha untuk mengekor kesuksesan dari The Hunger Games trilogy. Begitu pun dengan The Maze Runner ini. Buku yang sudah diterbitkan sejak tahun 2009 ini, akhirnya dilirik juga untuk diadaptasi menjadi sebuah film. Tentu dalam mengadaptasi sebuah novel untuk menjadi motion picture, perlu usaha keras agar menjadi film adaptasi yang bagus.

Diperlukan penulis skenario handal agar bisa memindahkan halaman demi halaman dari buku tersebut. Tetapi perlu diingat, buku dan film bukan satu medium yang sama. Selalu akan ada perubahan dalam mengadaptasinya ke film. Tetapi dengan usaha yang baik dari penulis skenario dan arahan yang kuat dari seorang sutradara, tentu akan menghasilkan sesuatu yang bagus. Sayangnya, The Maze Runner memiliki satu departemen yang tidak kuat agar dapat berjalan seimbang.

Yang salah dalam adaptasi The Maze Runner adalah bagian penulisan skenario. Naskah yang ditulis oleh Noah Oppenhaim dan Grant Pierce Mayers ini memiliki penulisan skenario yang lemah. Hal ini memberikan kesan one-dimensional terhadap beberapa karakter. The Maze Runner memiliki banyak sekali karakter di dalamnya. Sayangnya, karakter-karakter yang muncul ini tidak diberi perhatian lebih sehingga semuanya terkesan memenuhi layar. 


Yang menjadi pion untuk menjalankan cerita di film ini hanyalah Thomas. Beban yang cukup berat bagi Dylan O?Brien untuk menjalankan karakter Thomas. Perlu performa yang kuat dan meyakinkan. Sayangnya, Dylan O?Brien sedikit kurang meyakinkan penontonnya bahwa dialah yang mengatur segala permainan film ini. Tentu karakter di film yang terkesan one-dimensional ini, berdampak pada kurangnya koneksi antara karakter dengan penontonnya. Tidak ada rasa simpati dari penontonnya kepada karakter-karakter di film ini.

Tetapi, Wes Ball sebagai sutradara debutan melakukan arahan yang cukup bagus. Dengan lemahnya di bagian penulisan naskah, Wes Ball berhasil membangun filmnya setidaknya menjadi film yang menghibur. Tensi yang terbangun di film ini cukup baik yang setidaknya menciptakan atmosfir horor dan misteri yang cukup baik. Tentu, Wes Ball sebagai sutradara debutan, masih mendapatkan kategori ?layak? tidak seperti halnya sutradara 47 Ronin.


The Maze Runner memang bukanlah menjadi sebuah film adaptasi young adult yang outstanding. Dibandingkan dengan The Hunger Games series, The Maze Runner bukanlah apa-apa. Tetapi, The Maze Runner memberikan hal-hal menarik yang cukup membuat penontonnya penasaran dalam mengikuti setiap menit dari 100 menit film ini. Sayangnya, kekurangan lain menjadi masalah baru bagi The Maze Runner.  Yaitu bagaimana representasi visual di film ini.

Ada yang salah dalam visualisasi di film ini. Tidak ada sesuatu yang spesial dalam production value di film ini. Tidak ada gambar-gambar indah yang dapat ditangkap oleh Director of Photography, terlebih film ini dirilis dalam format IMAX. Visual itu tidak dapat menunjang kelangsungan filmnya. Mata penonton tidak terlalu dimanjakan dengan gambar-gambar di film ini. Apalagi, film ini sering menggunakan waktu malam sebagai setting waktunya. Bisa jadi dengan 'Malam' sebagai setting waktunya, Sang sutradara ingin menyampaikan atmosfir yang lebih mencekam. 


Pada akhirnya, The Maze Runner masih memiliki potensi menjadi salah satu film adaptasi buku young adult yang gagal. Sama halnya seperti Divergent, The Maze Runner memiliki beberapa kelemahan yang sama, terletak pada lemahnya penggalian karakter dan beberapa penyampaian cerita yang masih berantakan. Tetapi, bagaimana sutradara debutan Wes Ball ini bisa menutupi kekurangan dalam skenarionya sehingga The Maze Runner masih menjadi salah satu film yang menghibur.
 

MAZE RUNNER : THE SCORCH TRIALS (2015) REVIEW : Another Victim of Sequel Disease


Buku-buku Young Adult dengan tema paska kehancuran banyak sekali diproduksi dan diminati oleh beberapa penulis. Pun, hal tersebut digunakan oleh beberapa rumah produksi untuk mengeruk keuntungan dengan membeli lisensi dari buku tersebut. Ada The Hunger Games dan Divergent yang sudah mendapatkan hati di penontonnya dan rumah produksi. 20th Century Fox pun tak mau ketinggalan dengan rumah produksi yang lain untuk membeli lisensi dari buku Young-Adult terlaris.

Dan 20th Century Fox memutuskan untuk mendapatkan lisensi dari buku karangan James Dashner, The Maze Runner. Buku miliknya adalah sebuah trilogi yang ketiganya mendapatkan plakat terlaris di beberapa majalah. Film pertama dari seri ini telah dibuat filmnya di tahun 2014 dan memiliki performa yang cukup menyenangkan untuk diikuti. Dengan respon yang baik dari penonton, kritikus, dan pendapatan, lampu hijau untuk memproduksi sekuel dari The Maze Runner pun diberikan oleh 20th Century Fox kepada Wes Ball, sang sutradara.

The Maze Runner berhasil menyajikan konflik-konflik penuh misteri yang membuat penontonnya akan terus menanyakan apa yang ada selanjutnya. Dengan performan yang tak disangka cukup baik, sekuel The Maze Runner pun mendapat antisipasi yang cukup tinggi dari penontonnya. Maze Runner :  The Scorch Trials ?judul dari sekuelnya ?memiliki penurunan performa dan tak dapat membuat penontonnya bertahan menyaksikan apa yang coba dipresentasikan oleh sang sutradara. Meskipun, petualangan dari Scorch Trials lebih banyak daripada The Maze Runner. 


Setelah berhasil lolos dari Maze, para penghuni Glade diusung ke sebuah tempat pertahanan orang-orang yang juga berhasil lolos dari Maze yang dibuat oleh WCKD. Dengan berhasilnya lolos dari Maze tersebut, Thomas (Dylan O? Brien) merasa bahwa dirinya dan teman-temannya sedang dalam kondisi yang aman. Ternyata, suasana yang tenang di tempat mereka bukanlah sesuatu yang baik artinya. Thomas dan teman-temannya ternyata sedang terperangkap oleh rencana jahat dari WCKD.

Mereka yang sudah berhasil ternyata sedang dijadikan sebuah kelinci percobaan untuk menemukan obat penawar dari wabah Flare yang telah menghancurkan kota mereka. Thomas yang merasa dirinya sedang terancam bahaya mengajak Minho (Ki Hong Lee), Newt (Thomas Brodie-Sangster), dan teman-teman Glade lainnya untuk keluar dari tempat tersebut dan mencari Right Arm untuk menemukan penawar wabah tersebut. Dibantu oleh Aris (Jacob Lofland), mereka melakukan pelarian untuk menemukan Right Arm. 


Ada poin yang berbeda dari The Maze Runner dan The Scorch Trials. Di dalam The Maze Runner, penonton akan diajak untuk menerka-nerka apa yang sedang terjadi di dalam ceritanya. Sehingga, semua petunjuk akan disimpan erat-erat oleh sang sutradara agar dapat memberikan respon yang lain di akhir filmnya. Dan Scorch Trials, memiliki jalan cerita yang melulu straight-forward dan bisa membuat jengah penontonnya meskipun seharusnya memiliki kompleksitas cerita yang lebih.

Wes Ball pun lupa untuk menjadikan The Scorch Trials sebagai sajian yang bisa menahan penontonnya untuk tetap memandang layar. The Scorch Trials sepertinya memiliki misi untuk bisa mengolah lebih konflik yang diadaptasi dari buku James Dashner ini dengan lebih baik. Hal tersebut pun berpengaruh kepada durasi yang dimiliki oleh Maze Runner : The Scorch Trials ini. Dengan durasi 131 menit, seharusnya bisa digunakan dengan maksimal oleh Wes Ball untuk menjadikannya padat dan memiliki kompleksitas yang ia harapkan.

Tetapi, hal tersebut disia-siakan oleh Wes Ball untuk mengolah The Scorch Trials menjadi sajian yang setidaknya memiliki unsur misteri yang kental seperti film sebelumnya. 131 Menit milik The Scorch Trials pun penuh dengan cara bertutur Wes Ball yang bertele-tele untuk menyampaikan konflik utama dari filmnya sendiri. Banyak sekali adegan-adegan yang dipanjang-panjangkan dan tak diperhatikan. Hasilnya, Wes Ball pun terlihat kuwalahan untuk menyampaikan konflik cerita The Scorch Trials. 


Pengarahan yang kurang kuat dari Wes Ball ini pun berpengaruh dengan bagaimana performa filmnya. Di paruh keduanya, ritme The Scorch Trials pun terlihat melambat dan berjalan di tempat. Banyak hal yang perlu diceritakan di dalam naskah yang ditulis oleh T.S. Nowlin tetapi malah Wes Ball seperti pusing sendiri untuk mencari jalan bagi The Scorch Trials. Dan di paruh akhir, Wes Ball terlihat sangat berusaha untuk mengembalikan ritme The Scorch Trials. Hanya saja, usaha tersebut memiliki sisa kekuatan yang tak banyak.

Beruntungnya, The Scorch Trials memiliki semangat petualangan yang cukup baik. Wes Ball tetap bisa memberikan beberapa adegan yang membuat penontonnya merasakan ketegangan di setiap petualangan Thomas dan kawan-kawan Glade-nya. Beberapa jump scares dan thrill di beberapa adegan masih memiliki performa yang cukup baik. Dan hal-hal itu menjadi senjata utama dari The Scorch Trials yang memiliki kelemahan dalam hal pengarahan filmnya. 


Dengan perubahan pola dari The Maze Runner ke The Scorch Trials, hal tersebut bukanlah jimat yang baik untuk performa dari film sekuelnya. Terlihat kebingungan untuk mengarahkan konflik yang lebih berkembang, Wes Ball pun menjadikan Maze Runner : The Scorch Trials menjadi sajian yang cukup melelahkan untuk diterima oleh beberapa penonton. Meskipun, suasana yang thrilling dan tensi yang kuat di beberapa bagian cukup membuat Maze Runner : The Scorch Trials bisa dinikmati, tetapi keseluruhan presentasinya jelas masih di bawah film predesesornya.

Saturday, 7 November 2015

THE MAZE RUNNER (2014) REVIEW : The Potential Debut Adaptation


Setiap production house berlomba-lomba untuk mengadaptasi buku-buku populer apalagi buku tersebut berseri. Ada yang berhasil seperti Warner Bros dengan Harry Potter-nya, Lionsgate dengan The Hunger Games-nya, dan yang tak bisa dipungkiri yaitu Summit dengan The Twilight Saga-nya serta Divergent yang juga mulai memiliki massa-nya. 20th Century Fox pun mencoba peruntungan lewat film adaptasi buku berseri milik James Dashner yaitu The Maze Runner

The Maze Runner milik James Dashner ini berbentuk trilogi. Penggemar buku ini mungkin tidak sebesar yang lain. Begitupun dengan promo film ini yang terlihat masih malu-malu untuk sebuah film adaptasi novel. Sutradara yang menangani film ini adalah Wes Ball. Sutradara yang juga baru memulai debut di dunia perfilman. 20th Century Fox juga masih meraba-raba apakah The Maze Runner ini akan sukses atau tidak.


The Maze Runner terfokus pada satu anak bernama Thomas (Dylan O?Brien) yang ingatannya terhapus dan dia terdampar di sebuah area bernama Glade. Di sana, terdapat banyak sekali anak lelaki yang berusaha bertahan hidup. Mereka yang hidup di area ini, menyebut diri mereka Gladers. Di Glade, terdapat sebuah labirin yang setiap hari akan berubah pola. Gladers berusaha untuk mencari jalan keluar yang di dalamnya berisikan makhluk berbahaya bernama Grievers.

Setiap bulannya, anak lelaki baru akan datang ke Glade. Tetapi ketika Thomas datang semuanya berubah. Hanya selang beberapa hari ada anak baru bernama Teresa (Kaya Scodelario). Dengan sebuah pesan yang bertuliskan ?She?s the last one ever? datang bersamanya. Dia mengingat Thomas sehingga menimbulkan pertanyaan bagi Thomas. Thomas yang ingin tahu pun berusaha untuk menjadi seorang Runners dan ingin menemukan jalan keluar dari Glade.


Quite well-directed to cover not so well written script.

Tak dapat dipungkiri, banyak production house berusaha untuk mengekor kesuksesan dari The Hunger Games trilogy. Begitu pun dengan The Maze Runner ini. Buku yang sudah diterbitkan sejak tahun 2009 ini, akhirnya dilirik juga untuk diadaptasi menjadi sebuah film. Tentu dalam mengadaptasi sebuah novel untuk menjadi motion picture, perlu usaha keras agar menjadi film adaptasi yang bagus.

Diperlukan penulis skenario handal agar bisa memindahkan halaman demi halaman dari buku tersebut. Tetapi perlu diingat, buku dan film bukan satu medium yang sama. Selalu akan ada perubahan dalam mengadaptasinya ke film. Tetapi dengan usaha yang baik dari penulis skenario dan arahan yang kuat dari seorang sutradara, tentu akan menghasilkan sesuatu yang bagus. Sayangnya, The Maze Runner memiliki satu departemen yang tidak kuat agar dapat berjalan seimbang.

Yang salah dalam adaptasi The Maze Runner adalah bagian penulisan skenario. Naskah yang ditulis oleh Noah Oppenhaim dan Grant Pierce Mayers ini memiliki penulisan skenario yang lemah. Hal ini memberikan kesan one-dimensional terhadap beberapa karakter. The Maze Runner memiliki banyak sekali karakter di dalamnya. Sayangnya, karakter-karakter yang muncul ini tidak diberi perhatian lebih sehingga semuanya terkesan memenuhi layar. 


Yang menjadi pion untuk menjalankan cerita di film ini hanyalah Thomas. Beban yang cukup berat bagi Dylan O?Brien untuk menjalankan karakter Thomas. Perlu performa yang kuat dan meyakinkan. Sayangnya, Dylan O?Brien sedikit kurang meyakinkan penontonnya bahwa dialah yang mengatur segala permainan film ini. Tentu karakter di film yang terkesan one-dimensional ini, berdampak pada kurangnya koneksi antara karakter dengan penontonnya. Tidak ada rasa simpati dari penontonnya kepada karakter-karakter di film ini.

Tetapi, Wes Ball sebagai sutradara debutan melakukan arahan yang cukup bagus. Dengan lemahnya di bagian penulisan naskah, Wes Ball berhasil membangun filmnya setidaknya menjadi film yang menghibur. Tensi yang terbangun di film ini cukup baik yang setidaknya menciptakan atmosfir horor dan misteri yang cukup baik. Tentu, Wes Ball sebagai sutradara debutan, masih mendapatkan kategori ?layak? tidak seperti halnya sutradara 47 Ronin.


The Maze Runner memang bukanlah menjadi sebuah film adaptasi young adult yang outstanding. Dibandingkan dengan The Hunger Games series, The Maze Runner bukanlah apa-apa. Tetapi, The Maze Runner memberikan hal-hal menarik yang cukup membuat penontonnya penasaran dalam mengikuti setiap menit dari 100 menit film ini. Sayangnya, kekurangan lain menjadi masalah baru bagi The Maze Runner.  Yaitu bagaimana representasi visual di film ini.

Ada yang salah dalam visualisasi di film ini. Tidak ada sesuatu yang spesial dalam production value di film ini. Tidak ada gambar-gambar indah yang dapat ditangkap oleh Director of Photography, terlebih film ini dirilis dalam format IMAX. Visual itu tidak dapat menunjang kelangsungan filmnya. Mata penonton tidak terlalu dimanjakan dengan gambar-gambar di film ini. Apalagi, film ini sering menggunakan waktu malam sebagai setting waktunya. Bisa jadi dengan 'Malam' sebagai setting waktunya, Sang sutradara ingin menyampaikan atmosfir yang lebih mencekam. 


Pada akhirnya, The Maze Runner masih memiliki potensi menjadi salah satu film adaptasi buku young adult yang gagal. Sama halnya seperti Divergent, The Maze Runner memiliki beberapa kelemahan yang sama, terletak pada lemahnya penggalian karakter dan beberapa penyampaian cerita yang masih berantakan. Tetapi, bagaimana sutradara debutan Wes Ball ini bisa menutupi kekurangan dalam skenarionya sehingga The Maze Runner masih menjadi salah satu film yang menghibur.
 

MAZE RUNNER : THE SCORCH TRIALS (2015) REVIEW : Another Victim of Sequel Disease


Buku-buku Young Adult dengan tema paska kehancuran banyak sekali diproduksi dan diminati oleh beberapa penulis. Pun, hal tersebut digunakan oleh beberapa rumah produksi untuk mengeruk keuntungan dengan membeli lisensi dari buku tersebut. Ada The Hunger Games dan Divergent yang sudah mendapatkan hati di penontonnya dan rumah produksi. 20th Century Fox pun tak mau ketinggalan dengan rumah produksi yang lain untuk membeli lisensi dari buku Young-Adult terlaris.

Dan 20th Century Fox memutuskan untuk mendapatkan lisensi dari buku karangan James Dashner, The Maze Runner. Buku miliknya adalah sebuah trilogi yang ketiganya mendapatkan plakat terlaris di beberapa majalah. Film pertama dari seri ini telah dibuat filmnya di tahun 2014 dan memiliki performa yang cukup menyenangkan untuk diikuti. Dengan respon yang baik dari penonton, kritikus, dan pendapatan, lampu hijau untuk memproduksi sekuel dari The Maze Runner pun diberikan oleh 20th Century Fox kepada Wes Ball, sang sutradara.

The Maze Runner berhasil menyajikan konflik-konflik penuh misteri yang membuat penontonnya akan terus menanyakan apa yang ada selanjutnya. Dengan performan yang tak disangka cukup baik, sekuel The Maze Runner pun mendapat antisipasi yang cukup tinggi dari penontonnya. Maze Runner :  The Scorch Trials ?judul dari sekuelnya ?memiliki penurunan performa dan tak dapat membuat penontonnya bertahan menyaksikan apa yang coba dipresentasikan oleh sang sutradara. Meskipun, petualangan dari Scorch Trials lebih banyak daripada The Maze Runner. 


Setelah berhasil lolos dari Maze, para penghuni Glade diusung ke sebuah tempat pertahanan orang-orang yang juga berhasil lolos dari Maze yang dibuat oleh WCKD. Dengan berhasilnya lolos dari Maze tersebut, Thomas (Dylan O? Brien) merasa bahwa dirinya dan teman-temannya sedang dalam kondisi yang aman. Ternyata, suasana yang tenang di tempat mereka bukanlah sesuatu yang baik artinya. Thomas dan teman-temannya ternyata sedang terperangkap oleh rencana jahat dari WCKD.

Mereka yang sudah berhasil ternyata sedang dijadikan sebuah kelinci percobaan untuk menemukan obat penawar dari wabah Flare yang telah menghancurkan kota mereka. Thomas yang merasa dirinya sedang terancam bahaya mengajak Minho (Ki Hong Lee), Newt (Thomas Brodie-Sangster), dan teman-teman Glade lainnya untuk keluar dari tempat tersebut dan mencari Right Arm untuk menemukan penawar wabah tersebut. Dibantu oleh Aris (Jacob Lofland), mereka melakukan pelarian untuk menemukan Right Arm. 


Ada poin yang berbeda dari The Maze Runner dan The Scorch Trials. Di dalam The Maze Runner, penonton akan diajak untuk menerka-nerka apa yang sedang terjadi di dalam ceritanya. Sehingga, semua petunjuk akan disimpan erat-erat oleh sang sutradara agar dapat memberikan respon yang lain di akhir filmnya. Dan Scorch Trials, memiliki jalan cerita yang melulu straight-forward dan bisa membuat jengah penontonnya meskipun seharusnya memiliki kompleksitas cerita yang lebih.

Wes Ball pun lupa untuk menjadikan The Scorch Trials sebagai sajian yang bisa menahan penontonnya untuk tetap memandang layar. The Scorch Trials sepertinya memiliki misi untuk bisa mengolah lebih konflik yang diadaptasi dari buku James Dashner ini dengan lebih baik. Hal tersebut pun berpengaruh kepada durasi yang dimiliki oleh Maze Runner : The Scorch Trials ini. Dengan durasi 131 menit, seharusnya bisa digunakan dengan maksimal oleh Wes Ball untuk menjadikannya padat dan memiliki kompleksitas yang ia harapkan.

Tetapi, hal tersebut disia-siakan oleh Wes Ball untuk mengolah The Scorch Trials menjadi sajian yang setidaknya memiliki unsur misteri yang kental seperti film sebelumnya. 131 Menit milik The Scorch Trials pun penuh dengan cara bertutur Wes Ball yang bertele-tele untuk menyampaikan konflik utama dari filmnya sendiri. Banyak sekali adegan-adegan yang dipanjang-panjangkan dan tak diperhatikan. Hasilnya, Wes Ball pun terlihat kuwalahan untuk menyampaikan konflik cerita The Scorch Trials. 


Pengarahan yang kurang kuat dari Wes Ball ini pun berpengaruh dengan bagaimana performa filmnya. Di paruh keduanya, ritme The Scorch Trials pun terlihat melambat dan berjalan di tempat. Banyak hal yang perlu diceritakan di dalam naskah yang ditulis oleh T.S. Nowlin tetapi malah Wes Ball seperti pusing sendiri untuk mencari jalan bagi The Scorch Trials. Dan di paruh akhir, Wes Ball terlihat sangat berusaha untuk mengembalikan ritme The Scorch Trials. Hanya saja, usaha tersebut memiliki sisa kekuatan yang tak banyak.

Beruntungnya, The Scorch Trials memiliki semangat petualangan yang cukup baik. Wes Ball tetap bisa memberikan beberapa adegan yang membuat penontonnya merasakan ketegangan di setiap petualangan Thomas dan kawan-kawan Glade-nya. Beberapa jump scares dan thrill di beberapa adegan masih memiliki performa yang cukup baik. Dan hal-hal itu menjadi senjata utama dari The Scorch Trials yang memiliki kelemahan dalam hal pengarahan filmnya. 


Dengan perubahan pola dari The Maze Runner ke The Scorch Trials, hal tersebut bukanlah jimat yang baik untuk performa dari film sekuelnya. Terlihat kebingungan untuk mengarahkan konflik yang lebih berkembang, Wes Ball pun menjadikan Maze Runner : The Scorch Trials menjadi sajian yang cukup melelahkan untuk diterima oleh beberapa penonton. Meskipun, suasana yang thrilling dan tensi yang kuat di beberapa bagian cukup membuat Maze Runner : The Scorch Trials bisa dinikmati, tetapi keseluruhan presentasinya jelas masih di bawah film predesesornya.

Tuesday, 27 October 2015

The Maze Runner

***DISCLAIMER*** The following review is entirely my opinion. If you comment (which I encourage you to do) be respectful. If you don't agree with my opinion, that's fine. To each their own. These reviews are not meant to be statements of facts or endorsements, I am just sharing my opinions and my perspective when watching the film and is not meant to reflect how these films should be viewed. Finally, the reviews are given on a scale of 0-5. 0, of course, being unwatchable. 1, being terrible. 2, being not great. 3, being okay. 4, being great and 5, being epic! And if you enjoy these reviews feel free to share them and follow the blog or follow me on Twitter (@RevRonster) for links to my reviews and the occasional live-Tweet session of the movie I'm watching! Why don't they just do what I do with mazes?  Work backwards.






The Maze Runner ? 4 out of 5

I was totally unaware of the tween novel this film is based on and, when I first saw the trailer, I thought it looked like an adaptation of the smartphone game Temple Run.  Of course, it?s not but the fact the film is still something that was birthed from the tween dystopian subgenre that is all the rage right now I can?t say that my hopes weren't very high for this one.  Sure, the trailer looked pretty cool but it still is adapted from a tween novel and since I haven?t been a tween in quite some time and don?t spend my time reading these types of books, the track record for these releases haven?t been the best for me and so many of them are the same story told with the same formula and all have the same looking white man and female love interests that I was kinda expecting the same shit done with a different coat of pseudo-gritty paint?I was wrong.
Run the fuck out of that maze, kids!

The Maze Runner opens with Thomas (Dylan O?Brien) waking up in an elevator with little knowledge of who he is and where he is going.  The elevator exists into a green glade and he is greeted by a bunch of kids not much different in age from him.  Thomas learns that the Glade is surrounded by a complex maze that is explored by the boys called Runners and they are looking for a way out.  However, the Runners must return before nightfall because it is then that the Maze closes its massive doors and no one has survived in the Maze alone at night?due to it being populated by the dangerous creatures called the Grievers.  However, Thomas isn?t like the other kids who have shown up in the Glade and he soon shows the rest of the crew that he has skills that could shake up their reality and may lead them out of Maze and back home.  The only problem is the mystery of who they are and why they are there is far deeper than they are prepared for when the first girl is sent up in the elevator (Kaya Scodelario) and it starts to be realized that Thomas and this girl; Teresa, may have had a hand in why everyone has ended up caught in the Glade and are now at the mercy of the Maze.
"Whoa...are those two Grievers doing it?"

Like I stated in the opening paragraph, my expectations for The Maze Runner were wrong and the initial reaction I had to the cool visuals of the trailer were right.  The film is very entertaining, surprisingly tense, very exciting, wonderfully acted, and the story is very engaging, mysterious, and intriguing.  The film has a few drawbacks but nothing that can?t be easily overlooked.  In fact, the only real downfall I had with the film was a single actor that didn?t really look like he fit with the role he was cast in.  Besides that, the film was far better than I was prepared for and I really look forward for the next installment of the franchise.
Yep, I would totally die in that maze.

Wait a minute...The Glade is actually the Shire!!!
Initially, when the film started, I thought I was going to greatly dislike the fact that the film was seemingly made up of extras you would find on the set of an MTV television series (amusing since one of the actors really is on an MTV show).  All the perfectly in shape bodies, immaculate jaw lines, and product-infused hair styles (how they got hair spray and hair gel in the Glades is beyond me) made me worried that this film was just going to be a generic tween film that put visuals over substance.  Fill your cast with all the smoldering good lookers that will get the little girls and their iPhones in the seats of the theater and all the money will come rolling in.  I was fully prepared to see a bunch of actors who are only good at looking like they are on the verge of throwing out a Blue Steel look and being only good enough for the girls that love them to try and see if they can no longer can?t even and do it long enough to gush over the baby faces splashing all over the screen.  However, I was shocked by how good of actors these kids were. 
A shot from O'Brien's audition reel he sent to Spielberg.
"I can't even with this maze."
Sure, Dylan O?Brien and Kaya Scodelario may not be giving off earth-shattering and emotionally powerful performances but they are doing their job quite well for the type of film The Maze Runner is.  However, I have to say that the chemistry that O?Brien shared with Blake Cooper, who played the character Chuck, was pretty decent and came off looking like a legit friendship.  Sure, it?s still evident that most of the cast was brought in because they all look eligible to have their own Tiger Beat covers and photo shoots but when you include Thomas Brodic-Sangster?a Game of Thrones alumni?you see the production is not afraid to include some talent with those girl-crazy creating good looks.  However, I wasn?t a fan of Will Poulter in the film.
Sangster, seen here remembering Hodor.
If you remember my review of We?re the Millers, I talked about how funny I thought Poulter was and how well he played his character.  However, in his role as Galty, I think the production may have picked the wrong guy.  I don?t think Poulter played the character badly; the problem was he didn?t fit the role.  Galty was a character shown trying to maintain order in the Glades and is upset with the fact that Thomas has shown up and is wreaking havoc on that order and is throwing off the balance.  He seeks order to return and see Thomas punished for the threat he poses and, sadly, Poulter didn?t make this character believable for me.  His body language and his voice didn't command authority and I kept wondering why anyone in the Glades would actually listen to him.  He came off like someone who wants to be taken seriously but someone you are too quickly to chuckle at, comment about how it?s adorable they are trying to be tough, and then you just move past them and forget them.  Poulter?s performance wasn?t a deal-breaker and didn?t throw me out of the film, I just had a feeling a better actor could have been chosen and who could have been more appropriate for the role.
The names of those who didn't survive The Glades' Chili Night.
Oh, so that's a Griever.  Yep, fuck that.  Fuck everything
about that thing.
Poulter is really the only complaint I had about the film.  Besides that, I really enjoyed The Maze Runner.  The action in the film was far more intense and exciting than I had any inkling of anticipation for and the film even provides a great ending that really gets the blood pumping for the next film?or gets a persons ire rising because it ends on such a cliff hanger.  However, above a lot of things in this film, one thing that really made The Maze Runner stand out in a sea of clich? and generic tween films that are making up the population of entertainment these days is the fact this film is a lot darker than I was ready for.  While a lot of tween dystopian films want to look gritty and dark, they really are only lightly touched by these elements.  The Maze Runner isn?t afraid to really hit it on the head with the dark aspects and won?t shy away from death and sadness.  Sure, characters die in other tween dystopian films but The Maze Runner actually made the deaths a little more meaningful and, occasionally, horrifying.  The complete lack of fear in making the film more mature than the likes of something like Divergent really made this film stand out and made it very entertaining to watch.
See, Chuck gets it!

With a story that veers away from the typical tween dystopia fiction, a darker and more mature approach, and actors who are far better than what normally is inserted into this subgenre of films, The Maze Runner went past my expectations and made for a great film.  I?ve very interested in seeing the next one when it comes out in ?15.

"This thing says 'Do Not Use Rectally.'  What were you guys doing here before I arrived?"