Showing posts with label Wes Ball. Show all posts
Showing posts with label Wes Ball. Show all posts

Wednesday, 25 November 2015

THE MAZE RUNNER (2014) REVIEW : The Potential Debut Adaptation


Setiap production house berlomba-lomba untuk mengadaptasi buku-buku populer apalagi buku tersebut berseri. Ada yang berhasil seperti Warner Bros dengan Harry Potter-nya, Lionsgate dengan The Hunger Games-nya, dan yang tak bisa dipungkiri yaitu Summit dengan The Twilight Saga-nya serta Divergent yang juga mulai memiliki massa-nya. 20th Century Fox pun mencoba peruntungan lewat film adaptasi buku berseri milik James Dashner yaitu The Maze Runner

The Maze Runner milik James Dashner ini berbentuk trilogi. Penggemar buku ini mungkin tidak sebesar yang lain. Begitupun dengan promo film ini yang terlihat masih malu-malu untuk sebuah film adaptasi novel. Sutradara yang menangani film ini adalah Wes Ball. Sutradara yang juga baru memulai debut di dunia perfilman. 20th Century Fox juga masih meraba-raba apakah The Maze Runner ini akan sukses atau tidak.


The Maze Runner terfokus pada satu anak bernama Thomas (Dylan O?Brien) yang ingatannya terhapus dan dia terdampar di sebuah area bernama Glade. Di sana, terdapat banyak sekali anak lelaki yang berusaha bertahan hidup. Mereka yang hidup di area ini, menyebut diri mereka Gladers. Di Glade, terdapat sebuah labirin yang setiap hari akan berubah pola. Gladers berusaha untuk mencari jalan keluar yang di dalamnya berisikan makhluk berbahaya bernama Grievers.

Setiap bulannya, anak lelaki baru akan datang ke Glade. Tetapi ketika Thomas datang semuanya berubah. Hanya selang beberapa hari ada anak baru bernama Teresa (Kaya Scodelario). Dengan sebuah pesan yang bertuliskan ?She?s the last one ever? datang bersamanya. Dia mengingat Thomas sehingga menimbulkan pertanyaan bagi Thomas. Thomas yang ingin tahu pun berusaha untuk menjadi seorang Runners dan ingin menemukan jalan keluar dari Glade.


Quite well-directed to cover not so well written script.

Tak dapat dipungkiri, banyak production house berusaha untuk mengekor kesuksesan dari The Hunger Games trilogy. Begitu pun dengan The Maze Runner ini. Buku yang sudah diterbitkan sejak tahun 2009 ini, akhirnya dilirik juga untuk diadaptasi menjadi sebuah film. Tentu dalam mengadaptasi sebuah novel untuk menjadi motion picture, perlu usaha keras agar menjadi film adaptasi yang bagus.

Diperlukan penulis skenario handal agar bisa memindahkan halaman demi halaman dari buku tersebut. Tetapi perlu diingat, buku dan film bukan satu medium yang sama. Selalu akan ada perubahan dalam mengadaptasinya ke film. Tetapi dengan usaha yang baik dari penulis skenario dan arahan yang kuat dari seorang sutradara, tentu akan menghasilkan sesuatu yang bagus. Sayangnya, The Maze Runner memiliki satu departemen yang tidak kuat agar dapat berjalan seimbang.

Yang salah dalam adaptasi The Maze Runner adalah bagian penulisan skenario. Naskah yang ditulis oleh Noah Oppenhaim dan Grant Pierce Mayers ini memiliki penulisan skenario yang lemah. Hal ini memberikan kesan one-dimensional terhadap beberapa karakter. The Maze Runner memiliki banyak sekali karakter di dalamnya. Sayangnya, karakter-karakter yang muncul ini tidak diberi perhatian lebih sehingga semuanya terkesan memenuhi layar. 


Yang menjadi pion untuk menjalankan cerita di film ini hanyalah Thomas. Beban yang cukup berat bagi Dylan O?Brien untuk menjalankan karakter Thomas. Perlu performa yang kuat dan meyakinkan. Sayangnya, Dylan O?Brien sedikit kurang meyakinkan penontonnya bahwa dialah yang mengatur segala permainan film ini. Tentu karakter di film yang terkesan one-dimensional ini, berdampak pada kurangnya koneksi antara karakter dengan penontonnya. Tidak ada rasa simpati dari penontonnya kepada karakter-karakter di film ini.

Tetapi, Wes Ball sebagai sutradara debutan melakukan arahan yang cukup bagus. Dengan lemahnya di bagian penulisan naskah, Wes Ball berhasil membangun filmnya setidaknya menjadi film yang menghibur. Tensi yang terbangun di film ini cukup baik yang setidaknya menciptakan atmosfir horor dan misteri yang cukup baik. Tentu, Wes Ball sebagai sutradara debutan, masih mendapatkan kategori ?layak? tidak seperti halnya sutradara 47 Ronin.


The Maze Runner memang bukanlah menjadi sebuah film adaptasi young adult yang outstanding. Dibandingkan dengan The Hunger Games series, The Maze Runner bukanlah apa-apa. Tetapi, The Maze Runner memberikan hal-hal menarik yang cukup membuat penontonnya penasaran dalam mengikuti setiap menit dari 100 menit film ini. Sayangnya, kekurangan lain menjadi masalah baru bagi The Maze Runner.  Yaitu bagaimana representasi visual di film ini.

Ada yang salah dalam visualisasi di film ini. Tidak ada sesuatu yang spesial dalam production value di film ini. Tidak ada gambar-gambar indah yang dapat ditangkap oleh Director of Photography, terlebih film ini dirilis dalam format IMAX. Visual itu tidak dapat menunjang kelangsungan filmnya. Mata penonton tidak terlalu dimanjakan dengan gambar-gambar di film ini. Apalagi, film ini sering menggunakan waktu malam sebagai setting waktunya. Bisa jadi dengan 'Malam' sebagai setting waktunya, Sang sutradara ingin menyampaikan atmosfir yang lebih mencekam. 


Pada akhirnya, The Maze Runner masih memiliki potensi menjadi salah satu film adaptasi buku young adult yang gagal. Sama halnya seperti Divergent, The Maze Runner memiliki beberapa kelemahan yang sama, terletak pada lemahnya penggalian karakter dan beberapa penyampaian cerita yang masih berantakan. Tetapi, bagaimana sutradara debutan Wes Ball ini bisa menutupi kekurangan dalam skenarionya sehingga The Maze Runner masih menjadi salah satu film yang menghibur.
 

MAZE RUNNER : THE SCORCH TRIALS (2015) REVIEW : Another Victim of Sequel Disease


Buku-buku Young Adult dengan tema paska kehancuran banyak sekali diproduksi dan diminati oleh beberapa penulis. Pun, hal tersebut digunakan oleh beberapa rumah produksi untuk mengeruk keuntungan dengan membeli lisensi dari buku tersebut. Ada The Hunger Games dan Divergent yang sudah mendapatkan hati di penontonnya dan rumah produksi. 20th Century Fox pun tak mau ketinggalan dengan rumah produksi yang lain untuk membeli lisensi dari buku Young-Adult terlaris.

Dan 20th Century Fox memutuskan untuk mendapatkan lisensi dari buku karangan James Dashner, The Maze Runner. Buku miliknya adalah sebuah trilogi yang ketiganya mendapatkan plakat terlaris di beberapa majalah. Film pertama dari seri ini telah dibuat filmnya di tahun 2014 dan memiliki performa yang cukup menyenangkan untuk diikuti. Dengan respon yang baik dari penonton, kritikus, dan pendapatan, lampu hijau untuk memproduksi sekuel dari The Maze Runner pun diberikan oleh 20th Century Fox kepada Wes Ball, sang sutradara.

The Maze Runner berhasil menyajikan konflik-konflik penuh misteri yang membuat penontonnya akan terus menanyakan apa yang ada selanjutnya. Dengan performan yang tak disangka cukup baik, sekuel The Maze Runner pun mendapat antisipasi yang cukup tinggi dari penontonnya. Maze Runner :  The Scorch Trials ?judul dari sekuelnya ?memiliki penurunan performa dan tak dapat membuat penontonnya bertahan menyaksikan apa yang coba dipresentasikan oleh sang sutradara. Meskipun, petualangan dari Scorch Trials lebih banyak daripada The Maze Runner. 


Setelah berhasil lolos dari Maze, para penghuni Glade diusung ke sebuah tempat pertahanan orang-orang yang juga berhasil lolos dari Maze yang dibuat oleh WCKD. Dengan berhasilnya lolos dari Maze tersebut, Thomas (Dylan O? Brien) merasa bahwa dirinya dan teman-temannya sedang dalam kondisi yang aman. Ternyata, suasana yang tenang di tempat mereka bukanlah sesuatu yang baik artinya. Thomas dan teman-temannya ternyata sedang terperangkap oleh rencana jahat dari WCKD.

Mereka yang sudah berhasil ternyata sedang dijadikan sebuah kelinci percobaan untuk menemukan obat penawar dari wabah Flare yang telah menghancurkan kota mereka. Thomas yang merasa dirinya sedang terancam bahaya mengajak Minho (Ki Hong Lee), Newt (Thomas Brodie-Sangster), dan teman-teman Glade lainnya untuk keluar dari tempat tersebut dan mencari Right Arm untuk menemukan penawar wabah tersebut. Dibantu oleh Aris (Jacob Lofland), mereka melakukan pelarian untuk menemukan Right Arm. 


Ada poin yang berbeda dari The Maze Runner dan The Scorch Trials. Di dalam The Maze Runner, penonton akan diajak untuk menerka-nerka apa yang sedang terjadi di dalam ceritanya. Sehingga, semua petunjuk akan disimpan erat-erat oleh sang sutradara agar dapat memberikan respon yang lain di akhir filmnya. Dan Scorch Trials, memiliki jalan cerita yang melulu straight-forward dan bisa membuat jengah penontonnya meskipun seharusnya memiliki kompleksitas cerita yang lebih.

Wes Ball pun lupa untuk menjadikan The Scorch Trials sebagai sajian yang bisa menahan penontonnya untuk tetap memandang layar. The Scorch Trials sepertinya memiliki misi untuk bisa mengolah lebih konflik yang diadaptasi dari buku James Dashner ini dengan lebih baik. Hal tersebut pun berpengaruh kepada durasi yang dimiliki oleh Maze Runner : The Scorch Trials ini. Dengan durasi 131 menit, seharusnya bisa digunakan dengan maksimal oleh Wes Ball untuk menjadikannya padat dan memiliki kompleksitas yang ia harapkan.

Tetapi, hal tersebut disia-siakan oleh Wes Ball untuk mengolah The Scorch Trials menjadi sajian yang setidaknya memiliki unsur misteri yang kental seperti film sebelumnya. 131 Menit milik The Scorch Trials pun penuh dengan cara bertutur Wes Ball yang bertele-tele untuk menyampaikan konflik utama dari filmnya sendiri. Banyak sekali adegan-adegan yang dipanjang-panjangkan dan tak diperhatikan. Hasilnya, Wes Ball pun terlihat kuwalahan untuk menyampaikan konflik cerita The Scorch Trials. 


Pengarahan yang kurang kuat dari Wes Ball ini pun berpengaruh dengan bagaimana performa filmnya. Di paruh keduanya, ritme The Scorch Trials pun terlihat melambat dan berjalan di tempat. Banyak hal yang perlu diceritakan di dalam naskah yang ditulis oleh T.S. Nowlin tetapi malah Wes Ball seperti pusing sendiri untuk mencari jalan bagi The Scorch Trials. Dan di paruh akhir, Wes Ball terlihat sangat berusaha untuk mengembalikan ritme The Scorch Trials. Hanya saja, usaha tersebut memiliki sisa kekuatan yang tak banyak.

Beruntungnya, The Scorch Trials memiliki semangat petualangan yang cukup baik. Wes Ball tetap bisa memberikan beberapa adegan yang membuat penontonnya merasakan ketegangan di setiap petualangan Thomas dan kawan-kawan Glade-nya. Beberapa jump scares dan thrill di beberapa adegan masih memiliki performa yang cukup baik. Dan hal-hal itu menjadi senjata utama dari The Scorch Trials yang memiliki kelemahan dalam hal pengarahan filmnya. 


Dengan perubahan pola dari The Maze Runner ke The Scorch Trials, hal tersebut bukanlah jimat yang baik untuk performa dari film sekuelnya. Terlihat kebingungan untuk mengarahkan konflik yang lebih berkembang, Wes Ball pun menjadikan Maze Runner : The Scorch Trials menjadi sajian yang cukup melelahkan untuk diterima oleh beberapa penonton. Meskipun, suasana yang thrilling dan tensi yang kuat di beberapa bagian cukup membuat Maze Runner : The Scorch Trials bisa dinikmati, tetapi keseluruhan presentasinya jelas masih di bawah film predesesornya.

Saturday, 7 November 2015

THE MAZE RUNNER (2014) REVIEW : The Potential Debut Adaptation


Setiap production house berlomba-lomba untuk mengadaptasi buku-buku populer apalagi buku tersebut berseri. Ada yang berhasil seperti Warner Bros dengan Harry Potter-nya, Lionsgate dengan The Hunger Games-nya, dan yang tak bisa dipungkiri yaitu Summit dengan The Twilight Saga-nya serta Divergent yang juga mulai memiliki massa-nya. 20th Century Fox pun mencoba peruntungan lewat film adaptasi buku berseri milik James Dashner yaitu The Maze Runner

The Maze Runner milik James Dashner ini berbentuk trilogi. Penggemar buku ini mungkin tidak sebesar yang lain. Begitupun dengan promo film ini yang terlihat masih malu-malu untuk sebuah film adaptasi novel. Sutradara yang menangani film ini adalah Wes Ball. Sutradara yang juga baru memulai debut di dunia perfilman. 20th Century Fox juga masih meraba-raba apakah The Maze Runner ini akan sukses atau tidak.


The Maze Runner terfokus pada satu anak bernama Thomas (Dylan O?Brien) yang ingatannya terhapus dan dia terdampar di sebuah area bernama Glade. Di sana, terdapat banyak sekali anak lelaki yang berusaha bertahan hidup. Mereka yang hidup di area ini, menyebut diri mereka Gladers. Di Glade, terdapat sebuah labirin yang setiap hari akan berubah pola. Gladers berusaha untuk mencari jalan keluar yang di dalamnya berisikan makhluk berbahaya bernama Grievers.

Setiap bulannya, anak lelaki baru akan datang ke Glade. Tetapi ketika Thomas datang semuanya berubah. Hanya selang beberapa hari ada anak baru bernama Teresa (Kaya Scodelario). Dengan sebuah pesan yang bertuliskan ?She?s the last one ever? datang bersamanya. Dia mengingat Thomas sehingga menimbulkan pertanyaan bagi Thomas. Thomas yang ingin tahu pun berusaha untuk menjadi seorang Runners dan ingin menemukan jalan keluar dari Glade.


Quite well-directed to cover not so well written script.

Tak dapat dipungkiri, banyak production house berusaha untuk mengekor kesuksesan dari The Hunger Games trilogy. Begitu pun dengan The Maze Runner ini. Buku yang sudah diterbitkan sejak tahun 2009 ini, akhirnya dilirik juga untuk diadaptasi menjadi sebuah film. Tentu dalam mengadaptasi sebuah novel untuk menjadi motion picture, perlu usaha keras agar menjadi film adaptasi yang bagus.

Diperlukan penulis skenario handal agar bisa memindahkan halaman demi halaman dari buku tersebut. Tetapi perlu diingat, buku dan film bukan satu medium yang sama. Selalu akan ada perubahan dalam mengadaptasinya ke film. Tetapi dengan usaha yang baik dari penulis skenario dan arahan yang kuat dari seorang sutradara, tentu akan menghasilkan sesuatu yang bagus. Sayangnya, The Maze Runner memiliki satu departemen yang tidak kuat agar dapat berjalan seimbang.

Yang salah dalam adaptasi The Maze Runner adalah bagian penulisan skenario. Naskah yang ditulis oleh Noah Oppenhaim dan Grant Pierce Mayers ini memiliki penulisan skenario yang lemah. Hal ini memberikan kesan one-dimensional terhadap beberapa karakter. The Maze Runner memiliki banyak sekali karakter di dalamnya. Sayangnya, karakter-karakter yang muncul ini tidak diberi perhatian lebih sehingga semuanya terkesan memenuhi layar. 


Yang menjadi pion untuk menjalankan cerita di film ini hanyalah Thomas. Beban yang cukup berat bagi Dylan O?Brien untuk menjalankan karakter Thomas. Perlu performa yang kuat dan meyakinkan. Sayangnya, Dylan O?Brien sedikit kurang meyakinkan penontonnya bahwa dialah yang mengatur segala permainan film ini. Tentu karakter di film yang terkesan one-dimensional ini, berdampak pada kurangnya koneksi antara karakter dengan penontonnya. Tidak ada rasa simpati dari penontonnya kepada karakter-karakter di film ini.

Tetapi, Wes Ball sebagai sutradara debutan melakukan arahan yang cukup bagus. Dengan lemahnya di bagian penulisan naskah, Wes Ball berhasil membangun filmnya setidaknya menjadi film yang menghibur. Tensi yang terbangun di film ini cukup baik yang setidaknya menciptakan atmosfir horor dan misteri yang cukup baik. Tentu, Wes Ball sebagai sutradara debutan, masih mendapatkan kategori ?layak? tidak seperti halnya sutradara 47 Ronin.


The Maze Runner memang bukanlah menjadi sebuah film adaptasi young adult yang outstanding. Dibandingkan dengan The Hunger Games series, The Maze Runner bukanlah apa-apa. Tetapi, The Maze Runner memberikan hal-hal menarik yang cukup membuat penontonnya penasaran dalam mengikuti setiap menit dari 100 menit film ini. Sayangnya, kekurangan lain menjadi masalah baru bagi The Maze Runner.  Yaitu bagaimana representasi visual di film ini.

Ada yang salah dalam visualisasi di film ini. Tidak ada sesuatu yang spesial dalam production value di film ini. Tidak ada gambar-gambar indah yang dapat ditangkap oleh Director of Photography, terlebih film ini dirilis dalam format IMAX. Visual itu tidak dapat menunjang kelangsungan filmnya. Mata penonton tidak terlalu dimanjakan dengan gambar-gambar di film ini. Apalagi, film ini sering menggunakan waktu malam sebagai setting waktunya. Bisa jadi dengan 'Malam' sebagai setting waktunya, Sang sutradara ingin menyampaikan atmosfir yang lebih mencekam. 


Pada akhirnya, The Maze Runner masih memiliki potensi menjadi salah satu film adaptasi buku young adult yang gagal. Sama halnya seperti Divergent, The Maze Runner memiliki beberapa kelemahan yang sama, terletak pada lemahnya penggalian karakter dan beberapa penyampaian cerita yang masih berantakan. Tetapi, bagaimana sutradara debutan Wes Ball ini bisa menutupi kekurangan dalam skenarionya sehingga The Maze Runner masih menjadi salah satu film yang menghibur.
 

MAZE RUNNER : THE SCORCH TRIALS (2015) REVIEW : Another Victim of Sequel Disease


Buku-buku Young Adult dengan tema paska kehancuran banyak sekali diproduksi dan diminati oleh beberapa penulis. Pun, hal tersebut digunakan oleh beberapa rumah produksi untuk mengeruk keuntungan dengan membeli lisensi dari buku tersebut. Ada The Hunger Games dan Divergent yang sudah mendapatkan hati di penontonnya dan rumah produksi. 20th Century Fox pun tak mau ketinggalan dengan rumah produksi yang lain untuk membeli lisensi dari buku Young-Adult terlaris.

Dan 20th Century Fox memutuskan untuk mendapatkan lisensi dari buku karangan James Dashner, The Maze Runner. Buku miliknya adalah sebuah trilogi yang ketiganya mendapatkan plakat terlaris di beberapa majalah. Film pertama dari seri ini telah dibuat filmnya di tahun 2014 dan memiliki performa yang cukup menyenangkan untuk diikuti. Dengan respon yang baik dari penonton, kritikus, dan pendapatan, lampu hijau untuk memproduksi sekuel dari The Maze Runner pun diberikan oleh 20th Century Fox kepada Wes Ball, sang sutradara.

The Maze Runner berhasil menyajikan konflik-konflik penuh misteri yang membuat penontonnya akan terus menanyakan apa yang ada selanjutnya. Dengan performan yang tak disangka cukup baik, sekuel The Maze Runner pun mendapat antisipasi yang cukup tinggi dari penontonnya. Maze Runner :  The Scorch Trials ?judul dari sekuelnya ?memiliki penurunan performa dan tak dapat membuat penontonnya bertahan menyaksikan apa yang coba dipresentasikan oleh sang sutradara. Meskipun, petualangan dari Scorch Trials lebih banyak daripada The Maze Runner. 


Setelah berhasil lolos dari Maze, para penghuni Glade diusung ke sebuah tempat pertahanan orang-orang yang juga berhasil lolos dari Maze yang dibuat oleh WCKD. Dengan berhasilnya lolos dari Maze tersebut, Thomas (Dylan O? Brien) merasa bahwa dirinya dan teman-temannya sedang dalam kondisi yang aman. Ternyata, suasana yang tenang di tempat mereka bukanlah sesuatu yang baik artinya. Thomas dan teman-temannya ternyata sedang terperangkap oleh rencana jahat dari WCKD.

Mereka yang sudah berhasil ternyata sedang dijadikan sebuah kelinci percobaan untuk menemukan obat penawar dari wabah Flare yang telah menghancurkan kota mereka. Thomas yang merasa dirinya sedang terancam bahaya mengajak Minho (Ki Hong Lee), Newt (Thomas Brodie-Sangster), dan teman-teman Glade lainnya untuk keluar dari tempat tersebut dan mencari Right Arm untuk menemukan penawar wabah tersebut. Dibantu oleh Aris (Jacob Lofland), mereka melakukan pelarian untuk menemukan Right Arm. 


Ada poin yang berbeda dari The Maze Runner dan The Scorch Trials. Di dalam The Maze Runner, penonton akan diajak untuk menerka-nerka apa yang sedang terjadi di dalam ceritanya. Sehingga, semua petunjuk akan disimpan erat-erat oleh sang sutradara agar dapat memberikan respon yang lain di akhir filmnya. Dan Scorch Trials, memiliki jalan cerita yang melulu straight-forward dan bisa membuat jengah penontonnya meskipun seharusnya memiliki kompleksitas cerita yang lebih.

Wes Ball pun lupa untuk menjadikan The Scorch Trials sebagai sajian yang bisa menahan penontonnya untuk tetap memandang layar. The Scorch Trials sepertinya memiliki misi untuk bisa mengolah lebih konflik yang diadaptasi dari buku James Dashner ini dengan lebih baik. Hal tersebut pun berpengaruh kepada durasi yang dimiliki oleh Maze Runner : The Scorch Trials ini. Dengan durasi 131 menit, seharusnya bisa digunakan dengan maksimal oleh Wes Ball untuk menjadikannya padat dan memiliki kompleksitas yang ia harapkan.

Tetapi, hal tersebut disia-siakan oleh Wes Ball untuk mengolah The Scorch Trials menjadi sajian yang setidaknya memiliki unsur misteri yang kental seperti film sebelumnya. 131 Menit milik The Scorch Trials pun penuh dengan cara bertutur Wes Ball yang bertele-tele untuk menyampaikan konflik utama dari filmnya sendiri. Banyak sekali adegan-adegan yang dipanjang-panjangkan dan tak diperhatikan. Hasilnya, Wes Ball pun terlihat kuwalahan untuk menyampaikan konflik cerita The Scorch Trials. 


Pengarahan yang kurang kuat dari Wes Ball ini pun berpengaruh dengan bagaimana performa filmnya. Di paruh keduanya, ritme The Scorch Trials pun terlihat melambat dan berjalan di tempat. Banyak hal yang perlu diceritakan di dalam naskah yang ditulis oleh T.S. Nowlin tetapi malah Wes Ball seperti pusing sendiri untuk mencari jalan bagi The Scorch Trials. Dan di paruh akhir, Wes Ball terlihat sangat berusaha untuk mengembalikan ritme The Scorch Trials. Hanya saja, usaha tersebut memiliki sisa kekuatan yang tak banyak.

Beruntungnya, The Scorch Trials memiliki semangat petualangan yang cukup baik. Wes Ball tetap bisa memberikan beberapa adegan yang membuat penontonnya merasakan ketegangan di setiap petualangan Thomas dan kawan-kawan Glade-nya. Beberapa jump scares dan thrill di beberapa adegan masih memiliki performa yang cukup baik. Dan hal-hal itu menjadi senjata utama dari The Scorch Trials yang memiliki kelemahan dalam hal pengarahan filmnya. 


Dengan perubahan pola dari The Maze Runner ke The Scorch Trials, hal tersebut bukanlah jimat yang baik untuk performa dari film sekuelnya. Terlihat kebingungan untuk mengarahkan konflik yang lebih berkembang, Wes Ball pun menjadikan Maze Runner : The Scorch Trials menjadi sajian yang cukup melelahkan untuk diterima oleh beberapa penonton. Meskipun, suasana yang thrilling dan tensi yang kuat di beberapa bagian cukup membuat Maze Runner : The Scorch Trials bisa dinikmati, tetapi keseluruhan presentasinya jelas masih di bawah film predesesornya.