Showing posts with label 3.5 stars. Show all posts
Showing posts with label 3.5 stars. Show all posts

Thursday, 21 January 2016

NEGERI VAN ORANJE (2015) REVIEW : Kisah Kasih Di Negeri Orang


Dengan setting luar negeri, biasanya para rumah produksi menyatakan eksklusifitas akan film yang digarapnya. Alih-alih mereka menggunakan konten dalam filmnya sebagai kekuatan untuk menjual filmnya, terlalu banya rumah produksi yang anya modal setting luar negeri pun mereka menjadikannya sebagai kekuatan utama dari sebuah film. Bahkan tiga film yang rilis pada Desember 2015 lalu, mereka menggunakan setting luar negeri sebagai kekuatan penjualan dari filmnya.
 
Salah satunya adalah Negeri Van Oranje, film garapan Endri Pelita yang diangkat dari novel best seller. Film yang dibuat oleh rumah produksi Falcon Pictures ini memiliki banyak sekali poin utama yang dijadikan sokongan promosi. Drama persahabatan, panorama indah kota Belanda, dan juga poin novel best seller. Pun, Negeri Van Oranje ditaburi para jajaran aktor aktris kelas A dengan paras tampan dan cantik yang juga memiliki massa di setiap namanya.

Dengan banyaknya taburan poin-poin yang bisa menjual film Negeri Van Oranje adalah sebuah tugas bagi Endri Pelita untuk mengemas film arahannya. Dan beruntung, Endri Pelita bermain aman ketika mengarahkan Negeri Van Oranje. Film ini masih memberikan esensi cantik dan manis akan sebuah kisah cinta dan persahabatan di negeri orang. Meskipun sumber permasalahan Negeri Van Oranje sering timbul dan tenggelam secara emosi dan terkadang mereka mencari cara untuk mencari masalah itu. 


Daus (Ge Pamungkas), Wicak (Abimana Aryasatya), Banjar (Arifin Putra), dan Geri (Chicco Jerikho), empat sahabat yang tak sengaja bertemu satu sama lain di sebuah stasiun kereta. Mereka kedinginan dan saling bercengkrama hingga akhirnya seorang wanita berparas cantik bernama Lintang (Tatjana Saphira) lewat di hadapan mereka. Hanya dari satu kejadian itu, mereka menjadi satu sahabat yang sangat akrab.

Tetapi, keempat pria yang ada di sekitar Lintang berusaha keras untuk saling memperebutkan hati Lintang. Mereka mencoba berbagai cara agar bisa menjadi lelaki pendamping Lintang. Hingga akhirnya, Lintang tahu dirinya dijadikan sebagai rebutan di saat Lintang sudah merasa nyaman bersahabat dengan mereka. Dan ketika pada saat itu, Lintang menikah dengan salah satu sahabatnya yang ternyata mampu menjawab pertanyaan hati Lintang. 


Dengan premis kisah persahabatan dan cinta, entah kenapa ini bisa menjadi poin menarik bagi calon penonton. Teringat dengan film arahan Rizal Mantovani, 5 Cm yang juga bisa menebus angka 2 juta penonton. Pun film itu memiliki poin-poin yang sama dengan Negeri Van Oranje, hanya saja bukan keindahan negeri orang yang menjadi kekuatan, tapi panorama indah alam negeri sendiri. Dan Negeri Van Oranje punya potensi yang bisa diharapkan sama dengan 5 Cm yang mendatangkan banyak penontonnya.

Negeri Van Oranje memiliki presentasi yang jauh lebih menyenangkan dibandingkan dengan 5 Cm. Presentasi manis dari Negeri Van Oranje muncul dari penulisan naskah adaptasi dari bukunya. Pun, dikemas dengan presentasi cerita yang menarik sehingga penonton tergugah untuk mengikuti isi cerita Negeri Van Oranje. Pintarnya adalah penggunaan alur mundur untuk menceritakan isi Negeri Van Oranje dan memberikan satu kalimat penting di awal cerita sehingga penonton ingin tahu jawaban dari kalimat yang diutarakan di awal filmnya.

Titien Wattimena selaku penulis naskah bertutur dengan lembut di sepanjang film. Menyelipkan kalimat-kalimat manis yang tak murahan yang membuat Negeri Van Oranje terlihat kuat. Hanya saja, ada satu poin yang terlewat dalam Negeri Van Oranje. Drama persahabatan yang menjadi poin utama di dalam filmnya malah membuat distraksi di antara poin kisah lainnya. Persahabatan keempat karakter di dalamnya masih terasa artifisial. 


Pertemuan mereka pun terkesan dibuat sebagai formalitas penuturan cerita bagaimana mereka bisa bertemu. Tetapi, mengapa mereka memiliki alasan agar terus menjalin hubungan sebagai sahabat tak bisa terasa nyata hadir dan dirasakan oleh penonton. Pun, hubungan keempat pria di dalamnya hanya sekedar rival untuk membangun relasi lebih dengan Lintang. Dan ini terlihat kontradiktif sebagai alasan mereka untuk bersahabat satu sama lain.

Jajaran aktor dan aktrisnya pun terlihat belum memiliki relasi yang kuat. Ikatan emosi kelima pemain utamanya sebenarnya sudah ada, hanya saja masih terlihat mentah. Hal itu juga yang memperlemah drama persahabatan yang menjadi sub plot utama dari film ini. Tetapi beruntung, Negeri Van Oranje tak terlalu menonjolkan poin itu karena mungkin sudah tahu hal itu akan menjadi kekurangan dan seharusnya ditutupi oleh sang sutradara. 


Bagusnya, Endri Pelita berusaha keras menutupi kekurangan yang dimiliki oleh filmnya. Untuk menumpulkan sensitivitas penonton akan kekurangan dari film ini, Endri Pelita menawarkan panorama-panorama indah di setiap sudut kota di negara belanda. Meskipun penggunaan fake lens flare itu terkesan berlebihan, tetapi tata kamera yang diarahkan berhasil membuat mata penonton dimanjakan oleh pemandangan-pemandangan indah itu. Negeri Van Oranje pun bisa digunakan sebagai medium perjalanan kecil melihat keindahan sudut-sudut kota di negeri Belanda.

Negeri Van Oranje bukanlah sebuah presentasi sempurna dari Endri Pelita dalam menuturkan sebuah kisah cinta dan sahabat. Ada kekurangan dalam pengembangan konflik persahabatan yang membuatnya kurang tampil percaya diri.  Tetapi, Endri Pelita berusaha keras agar mengemas Negeri Van Oranje bisa tampil dengan segar dan hangat. Dan hal itu dibantu dengan sokongan naskah adaptasi yang ditulis oleh Titien Wattimena. Juga, kepingan panorama indah sudut kota negeri belanda yang menjadikan Negeri Van Oranje sebuah perjalanan kecil menyusuri kota. 

NGENEST THE MOVIE (2015) REVIEW : Drama Satir Isu Sensitif


Para komedian indonesia yang sedang naik daun berusaha keras untuk masuk ke dalam ranah perfilman. Bisa dianggap, mereka mencoba untuk memperluas jaringan dan kompetensi mereka untuk menghibur para penonton. Raditya Dika adalah contoh sukses seorang komedian yang berhasil memperluas bidangnya ke dalam ranah perfilman Indonesia. Tak satupun dari karya milik Raditya Dika yang tak menembus angka fantastis. Jelas, langkah ini cukup menjanjikan untuk para komedian lainnya yang ingin lebih lagi.
 
Dan salah satunya adalah Ernest Prakasa, seorang Comic ?sebutan para stand up comedian ?jebolan ajang Stand Up Comedy yang diadakan oleh salah satu stasiun televisi dalam negeri. Setelah sukses mengadakan tur stand up comedy bertema ?Illucinati? dan menelurkan 3 buku berjudul Ngenest, Ernest Prakasa berusaha untuk masuk ke bidang lainnya. Maka, langkah yang diambil oleh Ernest adalah memvisualisasikan ketiga bukunya ke dalam bentuk film yang ditulis dan disutradarai sendiri olehnya.

Ernest mendapatkan Starvision untuk menaungi produk audio visual yang perdana darinya. Jelas, Ernest seperti sedang mempertaruhkan kompetensinya di dalam dunia perfilman. Ngenest The Movie adalah debut penyutradaraan dari Ernest Prakasa yang ternyata memiliki presentasi yang sangat mengejutkan. Ngenest The Movie memiliki performa luar biasa menyenangkan dan tak lupa memberikan suasana hangat kepada penontonnya. 


Dilahirkan sebagai keturunan Cina bukan berarti membuat hidup Ernest Prakasa mudah. Ketika Remaja, Ernest (Kevin Anggara) diasingkan oleh teman-temannya karena dia ?berbeda?. Menjadi korban intimidasi dari teman-temannya tetapi Ernest memiliki seorang teman yang selalu ada dengannya saat Ernest ditindas oleh teman-temannya. Patrick (Brandon Salim), teman bermain Ernest yang selalu ada dan itu pun karena mereka berdua berada di ras yang sama.

Ernest pun berusaha keras agar dirinya tak lagi ditindas oleh teman-temannya karena perbedaan ras tersebut. Dan Ernest memiliki ide untuk mencari Istri seorang pribumi agar keturunannya tak merasakan hal yang sama seperti yang dialami olehnya. Ketika beranjak dewasa, Ernest pindah ke bandung untuk melanjutkan kuliah. Bersama dengan temannya Patrick (Morgan Oey) dia sama-sama menjalani hidup di sana. Dan di sanalah Ernest bertemu dengan Meira (Lala Karmela), seorang gadis pribumi yang dicintai oleh Ernest. 


Bisa dibilang, film arahan Ernest Prakasa ini adalah sebuah memoir perjalanan Ernest hingga akhirnya bertemu dan menikah dengan istrinya sekarang. Dan akan terasa mudah bagi Ernest untuk mengarahkan reka ulang dari kehidupannya. Tetapi, Ernest tetap menggunakan formula komedi untuk mengarahkan filmnya yang juga menjadi keahliannya. Dan sebagai sebuah film Indonesia yang dirilis di akhir tahun, Ngenest The Movie adalah sebuah film komedi cinta-cintaan yang manis.

Rumus yang digunakan oleh Ngenest The Movie memang sama dengan beberapa film komedi lainnya. Tetapi, Ernest mengemas Ngenest The Movie bukan menjadi sebuah drama komedi biasa yang berisi kegalauan. Ernest mengambil langkah yang lebih besar daripada itu. Alih-alih membuat Ernest menjadi sebuah film komedi cinta-cintaan remaja, Ernest menjadikan filmnya penuh dengan intrik isu-isu sosial yang dekat dengan kehidupan  yang ada di sekitarnya.

Isu rasisme kental dan digambarkan kepada karakter-karakter di dalam filmnya inilah yang berusaha digali oleh Ernest Prakasa. Perjuangan-perjuangan kemarjinalitasan sebuah ras yang seharusnya tak terjadi tetapi hal itu menjadi sebuah ?budaya? yang mendarah daging. Dan Ernest berusaha menjadikan Ngenest The Movie sebuah medium pengangkat eksistensi akan ras tersebut yang sedang berusaha keras membaur dengan apa yang ada disekitarnya. 


Isu sensitif itu diarahkan dengan penuh canda tawa sehingga pemikiran penonton pun ditumpulkan agar tak membahas terlalu serius dengan hal itu. Tetapi, tetap menganggap bahwa isu tersebut masih menjadi poin yang perlu digarisbawahi di negara ini yang katanya adalah negara multikultural. Tak hanya itu saja isu yang diangkat di dalam film ini, ada isu masalah drama kehidupan dewasa tentang keturunan yang juga dialami oleh beberapa orang yang telah membangun rumah tangga.

Meski berpindah isu secara signifikan, Ernest Prakasa masih bisa menarik sebuah benang merah yang besar antar satu isu tersebut. Sehingga, Ngenest The Movie tak terpecah menjadi sebuah segmen yang berbeda. Dan di isu inilah, Ernest berusaha memberi rasa manis dan suasana hangat agar Ngenest The Movie tak menjadi sebuah film komedi yang sia-sia. Suasana haru sekaligus meyenangkan yang ditampilkan oleh Ernest akan dengan mudah membuat senyum simpul di wajah penontonnya secara suka rela. 


Hanya saja, Ngenest The Movie seperti masih berada di bayang-bayang rumah produksi yang menaunginya. Beberapa tensi komedi yang ada di tengah film mungkin akan ada yang terasa menurun. Tetapi, Ernest Prakasa sebagai seorang sutradara debutan memang memiliki pengarahan yang mengejutkan. Performa Ngenest The Movie sangat mengagumkan jika disebut sebagai karya perdana. Ernest seharusnya akan bisa mengarahkan yang jauh lebih baik lagi meskipun Ngenest The Movie sudah terkesan berbeda dari film-film Starvision lainnya yang terasa sangat tematik.

Mungkin, Ngenest The Movie akan terasa memiliki formula yang sama dengan beberapa film komedi lainnya. Tetapi, Ernest sebagai sutradara debutan tahu untuk membuat sebuah reka ulang kehidupan pribadinya. Sehingga, Ngenest the Movie berhasil dikemas secara segar meskipun dengan isu-isu sensitif yang dia angkat. Secara tak sadar, Ngenest The Movie adalah sebuah medium bagi Ernest untuk mengingatkan kembali isu tersebut tanpa terlalu dibahas serius. Dan dengan Ngenest The Movie, jelas penonton akan menantikan film-film arahan Ernest Prakasa lainnya.

 

Wednesday, 25 November 2015

THE MAZE RUNNER (2014) REVIEW : The Potential Debut Adaptation


Setiap production house berlomba-lomba untuk mengadaptasi buku-buku populer apalagi buku tersebut berseri. Ada yang berhasil seperti Warner Bros dengan Harry Potter-nya, Lionsgate dengan The Hunger Games-nya, dan yang tak bisa dipungkiri yaitu Summit dengan The Twilight Saga-nya serta Divergent yang juga mulai memiliki massa-nya. 20th Century Fox pun mencoba peruntungan lewat film adaptasi buku berseri milik James Dashner yaitu The Maze Runner

The Maze Runner milik James Dashner ini berbentuk trilogi. Penggemar buku ini mungkin tidak sebesar yang lain. Begitupun dengan promo film ini yang terlihat masih malu-malu untuk sebuah film adaptasi novel. Sutradara yang menangani film ini adalah Wes Ball. Sutradara yang juga baru memulai debut di dunia perfilman. 20th Century Fox juga masih meraba-raba apakah The Maze Runner ini akan sukses atau tidak.


The Maze Runner terfokus pada satu anak bernama Thomas (Dylan O?Brien) yang ingatannya terhapus dan dia terdampar di sebuah area bernama Glade. Di sana, terdapat banyak sekali anak lelaki yang berusaha bertahan hidup. Mereka yang hidup di area ini, menyebut diri mereka Gladers. Di Glade, terdapat sebuah labirin yang setiap hari akan berubah pola. Gladers berusaha untuk mencari jalan keluar yang di dalamnya berisikan makhluk berbahaya bernama Grievers.

Setiap bulannya, anak lelaki baru akan datang ke Glade. Tetapi ketika Thomas datang semuanya berubah. Hanya selang beberapa hari ada anak baru bernama Teresa (Kaya Scodelario). Dengan sebuah pesan yang bertuliskan ?She?s the last one ever? datang bersamanya. Dia mengingat Thomas sehingga menimbulkan pertanyaan bagi Thomas. Thomas yang ingin tahu pun berusaha untuk menjadi seorang Runners dan ingin menemukan jalan keluar dari Glade.


Quite well-directed to cover not so well written script.

Tak dapat dipungkiri, banyak production house berusaha untuk mengekor kesuksesan dari The Hunger Games trilogy. Begitu pun dengan The Maze Runner ini. Buku yang sudah diterbitkan sejak tahun 2009 ini, akhirnya dilirik juga untuk diadaptasi menjadi sebuah film. Tentu dalam mengadaptasi sebuah novel untuk menjadi motion picture, perlu usaha keras agar menjadi film adaptasi yang bagus.

Diperlukan penulis skenario handal agar bisa memindahkan halaman demi halaman dari buku tersebut. Tetapi perlu diingat, buku dan film bukan satu medium yang sama. Selalu akan ada perubahan dalam mengadaptasinya ke film. Tetapi dengan usaha yang baik dari penulis skenario dan arahan yang kuat dari seorang sutradara, tentu akan menghasilkan sesuatu yang bagus. Sayangnya, The Maze Runner memiliki satu departemen yang tidak kuat agar dapat berjalan seimbang.

Yang salah dalam adaptasi The Maze Runner adalah bagian penulisan skenario. Naskah yang ditulis oleh Noah Oppenhaim dan Grant Pierce Mayers ini memiliki penulisan skenario yang lemah. Hal ini memberikan kesan one-dimensional terhadap beberapa karakter. The Maze Runner memiliki banyak sekali karakter di dalamnya. Sayangnya, karakter-karakter yang muncul ini tidak diberi perhatian lebih sehingga semuanya terkesan memenuhi layar. 


Yang menjadi pion untuk menjalankan cerita di film ini hanyalah Thomas. Beban yang cukup berat bagi Dylan O?Brien untuk menjalankan karakter Thomas. Perlu performa yang kuat dan meyakinkan. Sayangnya, Dylan O?Brien sedikit kurang meyakinkan penontonnya bahwa dialah yang mengatur segala permainan film ini. Tentu karakter di film yang terkesan one-dimensional ini, berdampak pada kurangnya koneksi antara karakter dengan penontonnya. Tidak ada rasa simpati dari penontonnya kepada karakter-karakter di film ini.

Tetapi, Wes Ball sebagai sutradara debutan melakukan arahan yang cukup bagus. Dengan lemahnya di bagian penulisan naskah, Wes Ball berhasil membangun filmnya setidaknya menjadi film yang menghibur. Tensi yang terbangun di film ini cukup baik yang setidaknya menciptakan atmosfir horor dan misteri yang cukup baik. Tentu, Wes Ball sebagai sutradara debutan, masih mendapatkan kategori ?layak? tidak seperti halnya sutradara 47 Ronin.


The Maze Runner memang bukanlah menjadi sebuah film adaptasi young adult yang outstanding. Dibandingkan dengan The Hunger Games series, The Maze Runner bukanlah apa-apa. Tetapi, The Maze Runner memberikan hal-hal menarik yang cukup membuat penontonnya penasaran dalam mengikuti setiap menit dari 100 menit film ini. Sayangnya, kekurangan lain menjadi masalah baru bagi The Maze Runner.  Yaitu bagaimana representasi visual di film ini.

Ada yang salah dalam visualisasi di film ini. Tidak ada sesuatu yang spesial dalam production value di film ini. Tidak ada gambar-gambar indah yang dapat ditangkap oleh Director of Photography, terlebih film ini dirilis dalam format IMAX. Visual itu tidak dapat menunjang kelangsungan filmnya. Mata penonton tidak terlalu dimanjakan dengan gambar-gambar di film ini. Apalagi, film ini sering menggunakan waktu malam sebagai setting waktunya. Bisa jadi dengan 'Malam' sebagai setting waktunya, Sang sutradara ingin menyampaikan atmosfir yang lebih mencekam. 


Pada akhirnya, The Maze Runner masih memiliki potensi menjadi salah satu film adaptasi buku young adult yang gagal. Sama halnya seperti Divergent, The Maze Runner memiliki beberapa kelemahan yang sama, terletak pada lemahnya penggalian karakter dan beberapa penyampaian cerita yang masih berantakan. Tetapi, bagaimana sutradara debutan Wes Ball ini bisa menutupi kekurangan dalam skenarionya sehingga The Maze Runner masih menjadi salah satu film yang menghibur.
 

3 NAFAS LIKAS (2014) REVIEW : Siapa itu Likas ?


Tak henti-hentinya para sineas Indonesia menggarap film biopik untuk meramaikan perfilman Indonesia. Mulai dari para petinggi negeri, tokoh-tokoh agama, hingga sosok menginspirasi yang berhasil menitih karir from zero to hero. Tema biopik ini memang bisa dibilang sukses untuk menarik perhatian penontonnya. Sehingga tak salah, jika para sineas Indonesia mulai berlomba-lomba untuk mengangkat sosok-sosok penting di dalam negeri untuk diadaptasi ke layar lebar.

Rako Prijanto contohnya, salah satu sutradara yang sudah pernah menggarap film biopik tokoh agama yaitu Sang Kiai. Kesuksesan Sang Kiai di ajang Festival Film Indonesia 2013 ini, membuat Rako Prijanto sekali lagi mengarahkan sebuah film biopik. Diangkat dari kisah sosok Likas Tarigan, perempuan asal Karo yang juga sekaligus istri dari Djamin Gintings. Bersama dengan Atiqah Hasiholan dan Vino G. Bastian di deretan pemainnya, film biopik ini diberi judul 3 Nafas Likas. 


Dimulai saat era 1930-an, Likas Kecil (Tissa Biani Azzahra) ingin sekali menjadi guru. Di sekolahnya, Likas kecil mendapatkan prestasi yang bagus. Hingga Ayah Likas (Arswendi Nasution) memutuskan untuk mendaftarkan Likas ke sekolah guru di Padang Panjang. Hal tersebut mendapatkan tentangan dari Ibu Likas (Jajang C. Noer) yang berharap Likas tidak pergi ke sekolah guru tersebut. Tetapi, Likas tetap yakin dengan kemauannya.

Selang waktu berlalu, Likas (Atiqah Hasiholan) sudah lulus dan berhasil menjadi seorang guru di Padang Panjang. Pada akhirnya, dia bertemu dengan pemuda pasukan PETA, Djamin Gintings (Vino G. Bastian). Djamin tiba-tiba menaruh hati pada Likas. Meski pada awalnya, Likas selalu membuang muka dan menghindar dari Djamin. Di saat itu pula, keadaan Indonesia yang sedang dijajah Jepang semakin memburuk dan mengharuskan Likas untuk berjuang menyelamatkan dirinya. 


Still being one of the gem in indonesian cinemas.

Biopik kembali menjadi tren ketika Habibie & Ainun, film yang mengisahkan perjalanan presiden ketiga negara Indonesia ini, berhasil memperoleh jutaan penonton. Beberapa biopik pun dibuat alih-alih untuk mendapatkan antusiasme penonton. Rako Prijanto, yang pernah menggarap Sang Kiai ?yang juga sukses? dibawah rumah produksi Oreima Pictures menggiring 3 Nafas Likas menjadi salah satu film biopik yang akan dikenang oleh penontonnya.

Satu hal yang mungkin akan dipertanyakan oleh penonton film biopik. Siapa itu Likas? Apa yang telah diperbuatnya oleh negara? Tentu, Likas akan memiliki koneksi yang cukup kuat di daerah tertentu. 3 Nafas Likas akan membuat penonton tahu siapa itu Likas. Orang biasa yang ingin mewujudkan mimpinya menjadi seorang agar menjadi kenyataan. Kehidupan orang biasa ini sepertinya belum bisa diarahkan dengan cukup baik oleh Rako Prijanto.

Pertanyaan awal tadi sepertinya juga patut dipertanyakan di dalam film 3 Nafas Likas. Siapa itu Likas? Istri Djamin Gintings, sosok Letnan Jendral. Lantas apa yang membuatnya spesial sebelum itu? Rako Prijanto pun seperti masih mempertanyakan siapa itu Likas di dalam filmnya. Dengan naskah yang ditulis oleh Titien Wattimena, sosok Likas masih terbangun baik dalam paruh pertama filmnya. Rako Prijanto berhasil memberikan harapan di paruh pertama kepada penontonnya. 


Ketika Vino G. Bastian yang memerankan Djamin Gintings muncul, ini adalah titik turun di dalam filmnya. Bukan karena akting dari Vino G. Bastian yang buruk, tetapi karena bagaimana Rako Prijanto terlihat kuwalahan untuk mengarahkan karakter-karakter yang sudah mulai menumpuk di dalam filmnya. Penuturan lembut di dalam skrip milik Titien Wattimena itu masih terasa, tetapi Rako Prijanto tidak bisa merepresentasikan naskah yang ada. Di sisa-sisa menit yang ada, 3 Nafas Likas terlihat susah untuk menuturkan apa yang terjadi di dalam filmnya.

Dengan Timeline yang memiliki rentang waktu yang cukup panjang, 100 menit akan terasa sangat singkat. Rako Prijanto pun seperti harus memasukkan setiap adegan-adegan yang ada meskipun akan terasa beberapa cerita masih ada yang belum tuntas untuk diceritakan. Begitupun dengan sosok Likas yang sudah mulai buram dalam pembangunan karakternya. Sosok Likas yang seharusnya lebih diceritakan seperti diambil alih oleh cerita milik Djamin Ginting, meski tetap menggunakan Likas sebagai point of view di dalam filmnya. 


Akan terasa episodik di setiap paruh filmnya, karena transisi karakter yang cukup dominan. Sesuai dengan judulnya, 3 Nafas Likas, metafora kehidupan Likas yang bergantung terhadap 3 orang yang berpengaruh di hidupnya. Tetapi, naskah milik Titien Wattimena ini memiliki beberapa hal yang patut dipuji. Bagaimana kehidupan budaya Karo tentang merantau dan beberapa adat lainnya yang mampu dirangkum di dalam naskahnya. Meski, Rako Prijanto masih belum bisa menerjemahkan semua itu dengan sempurna.

Pun juga perlu mendapatkan apresiasi dalam nilai produksi di dalam setting filmnya. Setiap detil tempat dan suasana berhasil menangkap bagaimana kehidupan di Karo, bagaimana kehidupan di tahun 1930, dan seterusnya. Digarap dengan sangat baik yang mampu menutupi segala kekurangan tutur cerita milik Rako Prijanto yang belum rapi. Usaha-usaha teknis yang benar-benar digarap serius dan tertangkap oleh sinematografi yang cantik ini layak diacungi jempol. 


Juga dengan kekuatan akting dari Atiqah Hasiholan dan Vino G. Bastian yang berhasil menggunakan logat etniknya dengan baik. Meski, chemistry antara mereka belum benar-benar terjalin kuat layaknya Reza Rahadian dan juga Bunga C. Lestari di Habibie & Ainun. Yang patut disorot adalah Tissa Biani Azzahra yang memerankan Likas Kecil. Sebagai aktris cilik, performa miliknya begitu luar biasa dan mampu membuat penonton simpati dengan karakternya.

3 Nafas Likas masih memiliki kelemahan di dalam penuturan ceritanya. Belum bisa membangun karakter Likas dengan begitu spesial sehingga layak diapresiasi lewat film biopik. Tetapi, 3 Nafas Likas tetap menjadi salah satu film Indonesia yang patut untuk diapresiasi. Dengan nilai produksi yang sangat detil dan digarap serius, 3 Nafas Likas ini perlu untuk mendapat dukungan dari penontonnya. Salah satu film Indonesia yang digarap tidak sembarangan. 

TAKEN 3 (2015) REVIEW : Season Finale of Kidnapping Bryan Mills?s Famiy Member


?I will find you, and I will kill you? line ini sangat menempel di pikiran penontonnya lewat karakter Bryan Mills lewat seri-seri Taken. Karakter fiktif hasil pemikiran Luc Besson ini memang mendapat perhatian lewat film aksinya yang menegangkan di film pertama. Dengan adanya Hype yang besar, Taken 2 muncul tahun di 2012. Dihadirkan kembali 3 tahun setelahnya lewat Taken 3. Ya, tahun ini Taken kembali hadir menyapa penontonnya dan digadang-gadang seri ketiganya ini adalah penutup dari seri Taken.


?It Ends Here? adalah tagline yang digunakan untuk film ketiga ini. Tetapi, tak menutup kemungkinan Taken seri ke empat akan hadir untuk menyapa penontonnya. (Semoga itu rumor). Setelah Pierre Morel memberikan tongkat estafetnya kepada Oliver Megaton untuk mengarahkan seri keduanya, Maka di Taken 3 ini Oliver Megaton kembali mengarahkan cerita milik mantan anggota CIA, Bryan Mills dalam melindungi anggota keluarganya. Ya, Setelah anaknya yang diculik, mantan istrinya yang diculik di seri kedua, lantas siapa yang jadi korban di seri ketiga ini? 


Di seri ketiga ini tidak ada yang menjadi korban penculikan. Tetapi, Bryan Mills (Liam Neeson) harus kehilangan seseorang yang pernah dicintainya dan masih menjalin hubungan pertemanan hingga sekarang. Lenore (Famke Janssen), sang mantan istri ditemukan tergeletak tanpa nyawa di kamar apartemen milik Bryan Mills. Polisi pun menyergap kamar apartemennya dan menganggap bahwa Bryan Mills lah yang membunuh Lenore.

Bryan Mills melarikan diri dan berusaha untuk membuktikan kepada polisi bahwa dia tak bersalah. Bryan Mills juga meyakinkan sang anak, Kim Mills (Maggie Grace) bahwa dia bukanlah pembunuh ibunya. Kim juga membantu Bryan untuk menemukan siapa pembunuh Lenore. Bryan meminta dua hari kepada polisi untuk menemukan sang pembunuh sebenarnya. 


Kesalahan yang dilakukan sekuel Taken di seri kedua adalah menggunakan formula yang sama dengan perlakuan yang berbeda. Tentu, Oliver Megaton merasa harus ada sesuatu yang baru untuk ditawarkan kepada penontonnya di seri ketiga film Taken. Apalagi, seri ketiga ini digadang-gadang akan menjadi penutup dari seri petualangan Bryan Mills dalam melindungi anggota keluarganya. Taken 3 pun (terlihat) memiliki dasar cerita yang berbeda sebagai premis yang dikembangkan ke dalam 100 menit filmnya.

Taken 3 sebenarnya tidak benar-benar berbeda dengan seri-seri sebelumnya. Perlakuan yang dilakukan oleh Taken 3 pun hampir sama dengan film-film sebelumnya. Hanya saja, Taken 3 kali ini berubah menjadi sebuah film aksi spionase penuh misteri. Taken 3 sangat berusaha memberikan sesuatu yang berbeda daripada film-film sebelumnya. Meski tak mulus, harus diakui bahwa Taken 3 ini benar-benar berbeda ketimbang film sebelumnya.

Apa yang berbeda di seri ini jelas ada pada bagaimana porsi drama keluarga akan hadir lebih kental daripada seri-seri sebelumnya. Taken 3 lebih mengekspos hubungan ayah anak antara Bryan dan Kim yang diperlihatkan sangat dekat dan penonton akan dibuat simpati kepada kedua karakter tersebut. Oliver Megaton pun juga terlihat seperti ?memanusiakan? karakter Bryan Mills yang biasanya terlihat sangat dingin di setiap serinya. 


Bryan Mills di film ini akan terlihat lebih hangat dan membentuk sebuah karakter yang berbeda dengan Bryan Mills di film-film sebelumnya. Pun, apa yang dialami oleh Bryan Mills di film ini pun terkesan memiliki beban yang begitu berat. Sehingga, Bryan Mills benar-benar dibuat berada di posisi terburuk dalam kehidupannya. Inilah yang dimaksud bahwa Oliver Megaton berusaha ?memanusiakan? karakter Bryan Mills.

Perbedaan selanjutnya berada pada perlakuan plot cerita yang sudah digunakan oleh film-film lainnya ke dalam film ini. Taken biasanya cenderung menggerakkan alur ceritanya dengan lurus-lurus saja hingga akhir film. Di Taken 3, Oliver Megaton ingin memberikan cerita dengan twist and turn yang dikabulkan di dalam naskah yang ditulis oleh Luc Besson bersama timnya. Bagus, Oliver Megaton mulai paham bahwa penonton akan bosan jika mengulang template cerita yang sama untuk triloginya.

Tetapi, Oliver Megaton pun belum bisa menggunakan potensinya untuk mengarahkan filmnya. Taken 3 yang lebih dominan lewat drama keluarga antara Kim dan Bryan Mills ini akan terasa terlalu dipanjangkan. Belum lagi, beberapa lubang besar dalam plot penggerak ceritanya yang seperti ditulis asal-asalan di film Taken 3 agar lebih terasa twist and turn-nya. Hasilnya, Taken 3 malah menyisakan lubang-lubang besar yang menganga lebar tanpa ada usaha dari Oliver Megaton untuk menutupi lubang tersebut.


Meskipun Oliver Megaton berusaha untuk ?memanusiakan? Bryan Mills, tetapi sosok Bryan tetap saja menjadi sosok yang kuat dan tak tertandingi oleh siapapun. Bryan tetap menjadi sosok mantan CIA yang didewakan oleh siapapun. Karena masih ada beberapa adegan yang malah membuat penonton bergumam ?lho, kok bisa?? di dalam 100 menit film ini. Banyak adegan-adegan yang kurang masuk akal di dalam Taken 3 dan membuat dahi penonton berkerut.

Taken 3 memang diperuntukkan kepada penonton yang ingin duduk, menutup mata, dan mematikan otak untuk menikmati menit demi menit seri ini. Oliver Megaton berusaha untuk membedakan seri ketiga ini dengan seri-seri sebelumnya dengan menitikberatkan sosok Bryan Mills yang ?dimanusiakan? meski masih salah kaprah. Juga, hubungan ayah-anak yang dipertontonkan lebih dalam untuk menarik simpati penontonnya lewat karakter Bryan dan Kim. Maka, Taken 3 adalah sebuah film penutup dari trilogi Taken. Tetapi, siap-siaplah jika Bryan Mills kembali di seri keempat. Tetapi, semoga tidak.

PROJECT ALMANAC (2015) REVIEW : Time Travel With Teenager?s Rules


Film bertema found footage atau mockumentary biasa digunakan untuk presentasi sebuah film horor. Tetapi, juga ada banyak genre-genre lain yang menggunakan format ini untuk mengantarkan cerita film mereka. Untuk film bertema Science Fiction bisa dikenal lewat film Cloverfield dan yang paling baru adalah Chronicle arahan Josh Trank. Tema mockumentary semakin digemari dan menjanjikan di Industri perfilman Hollywood.

Keputusan ini pun digunakan oleh Dean Israelite untuk sebuah proyek film terbarunya. Project Almanac, yang pada awalnya berjudul Welcome To Yesterday ini menggunakan format mockumentary digabungkan dengan genre science fiction dan time travel. Film yang diproduseri oleh Michael Bay ini memiliki sebuah premis yang menarik untuk menarik minat penontonnya, meskipun jadwal tayangnya harus mundur sebulan dari yang dijadwalkan. 


Project Almanac ini menceritakan bagaimana seorang siswa Sekolah Menengah Atas bernama David Raskin (Jonny Weston) yang sedang mencari cara untuk mendapatkan beasiswa untuk biaya kuliah. Dia mengajukan beasiswa lewat karya-karya ilmiah buatannya yang mengagumkan. Sayangnya, biaya beasiswa itu tak sesuai harapannya. Ketika dia sedang termenung di atap rumahnya, dia menemukan video ulang tahunnya yang ketujuh dan menemukan kejanggalan. David yang sudah berusia 17 tahun menampakkan diri di video ulang tahun ketujuhnya.

David yang penasaran menunjukkan kepada adiknya, Christina Raskin (Virginia Gardner) dan ketiga temannya Jessie (Sofia Black-D?ella), Quinn (Sam Lerner), dan Adam (Allen Evangelista). Suatu ketika, David menemukan sebuah mesin milik ayahnya di gudang bawah tanah rumahnya. Mesin itu bertuliskan Project Almanac dan merupakan sebuah mesin waktu yang belum dirakit. David dan teman-temannya pun berusaha merakitnya dan melakukan perjalanan melewati ruang waktu. 


Perjalanan ruang waktu milik David dan teman-temannya ini adalah premis menarik yang digunakan oleh Dean Israelite dengan format mockumentary sebagai presentasinya. Alhasil, Project Almanac memang terasa berbeda dan sedikit lebih segar daripada tema-tema mockumentary yang lebih didominasi oleh genre horor. Di awal, Project Almanac masih terlihat berkiblat pada Chronicle milik Josh Trank untuk menjalankan latar belakang para karakternya.

Hanya saja, Project Almanac memiliki kesan lebih segar dan tidak segelap film milik Josh Trank. Unsur time travel itu menjadi sangat menarik dengan tambahan konflik kaum remaja sehingga Project Almanac seperti sebuah gabungan dari Project X dan Chronicle. Sebuah gabungan antara film dengan arahan yang baik dan arahan yang buruk, maka Project Almanac pun tak luput dari kekurangannya yang menghambat performa maksimalnya sebagai film time travel.

Ceroboh adalah sifat alamiah dari seorang remaja yang sedang mengalami transisi dalam perjalanan hidupnya. Dan hal tersebut mewakili film Project Almanac yang menggabungkan konflik-konfilk remaja di dalam filmnya. Maka, ceroboh adalah kata kunci dari film ini. Kecerobohan lah yang dapat menghambat performa maksimal dari Project Almanac. Penggunaan Time Travel di setiap film tentu harus hati-hati dan teliti. 


Kehati-hatian dan ketelitian itu perlu digunakan sebagai patokan agar film itu tidak memiliki sebuah lubang besar yang menganga lebar dan siap membuat penonton jatuh untuk menanyakan sesuatu setelah akhir film. Project Almanac memiliki kecerobohan untuk memasukkan ide-ide yang besar untuk semakin membuat film ini menarik. Sayangnya, Dean Israelite malah terlihat kewalahan untuk menangani ide-ide besar tersebut.

Perjalanan melewati ruang waktu sebagai konflik utama itu di paruh awal masih terlihat rapi. Tetapi, semakin bertambahnya durasi, film ini mulai tidak menunjukkan konsistensinya dalam menerangkan perjalanan lintas waktunya. Film arahan Dean Israelite ini pun akhirnya mengalami kemunduran di setiap menitnya. Bagaimana perjalanan lintas waktu dengan sebab-akibatnya itu menjadi bumerang tersendiri untuk Dean Israelite. Perjalanan itu pun serasa tak nyata dan tak masuk akal karena kurangnya penjelasan yang kongkrit di dalam naskahnya.

Tetapi beruntung, Project Almanac masih menyisakan kisah-kisah menarik yang dapat dipresentasikan meskipun unsur Time travel-nya terlalu berlebihan. Masih ada kisah-kisah menarik dari setiap karakternya yang dapat menyokong ide-ide gila nan besar milik Dean Israelite yang ditumpahkan lewat film terbarunya. Menggunakan aktor dan aktris tak terlalu memiliki nama pun tak masalah karena film-film seperti tak terlalu mempersalahkan hal itu. 


Menariknya lagi adalah bagaimana Project Almanac menggunakan format Mockumentary dengan rasa kekinian ala remaja. Editing yang lebih halus dari mockumentary kebanyakan dan penggunaan kamera go pro yang semakin menambah cita rasa berbeda dari Mockumentary milik Project Almanac ini. Pun, dengan iringan soundtrack yang juga menarik untuk disimak. Sehingga, Project Almanac tak memiliki rasa Mockumentary yang begitu statis.

Sebagai film dengan format Mockumentary, Project Almanac memberikan nafas segar di dalam genre-nya. Meski tak perlu dielakkan lagi bahwa ide-ide cerita perjalanan lintas waktu itu masih terlalu berlebihan dan ceroboh dalam pengarahannya. Tetapi, Project Almanac memiliki sisa-sisa kesenangan ala remaja yang patut untuk disimak. Ini seperti sebuah gabungan Project X dan Chronicle, seperti asam bertemu manis atau hitam bertemu putih.  Begitulah Project Almanac yang masih separuh bagus dan separuh buruk.

 

THE SPONGEBOB MOVIE : SPONGE OUT OF WATER (2015) REVIEW : Act Dumb, Think Smart [With 3D Review]


Sponge Bob Square Pants, makhluk dari spons yang hidup di Bikini Bottom lebih dulu hadir lewat serial kartunnya dari tahun 1999. Sponge Bob pun semakin diidolakan oleh anak-anak pada masa itu dan masih menyapa hingga sekarang di suatu stasiun televisi. Tak salah, jika Sponge Bob menjadi satu ikon anak-anak yang sebenarnya memiliki selera humor yang berbeda dari serial animasi lainnya. Pun pernah hadir dalam format layar lebar di tahun 2004.


The SpongeBob Square Pants Movie, film pertama dari makhluk spons yang humoris ini cukup mendapat sambutan hangat dari para kritkus dan sambutan riuh dari para fans. Maka, selang 11 tahun, SpongeBob kembali hadir menyapa penontonnya lewat film layar lebar terbarunya. The SpongeBob Movie : Sponge Out of Water, fitur film kedua milik makhluk spons dan teman-teman lautnya diarahkan oleh Paul Tibbit yang sering kali mengarahkan episode-episode SpongeBob di Televisi. 


SpongeBob Square Pants memang terkenal dengan jokes-nya yang aneh, hal itu terlihat pula di trailer Sponge Out of Water. Terlihat benar Paul Tibbit mencoba memindahkan segala bentuk canda tawa liar dan imajinasi tingkat tinggi ?bahkan sudah hampir gila ?ke dalam fitur film keduanya. Pun, formula cerita pun sebenarnya masih memiliki satu poin besar tentang formula krabby patty yang hilang. Dan disinilah tugas SpongeBob (Tom Kenny) untuk menemukan formula krabby patty yang hilang.

Tetapi, ada yang berbeda dengan hilangnya formula krabby patty kali ini. Memang, pada awalnya Plankton (Mr. Lawrence) yang berusaha mencuri dari Mr. Krabs (). Tetapi, tiba-tiba formula itu hilang tanpa sisa. Bikini Bottom pun sangat kacau karena Krabby Patty tak lagi produksi dan para penduduk Bikini Bottom menginginkannya. SpongeBob mencium bau Krabby Patty yang hilang itu, bersama teman-temannya mereka mengemban misi untuk menemukan Krabby Patty. 


Masalah terbesar dari SpongeBob Square Pants, mulai dari serial animasinya hingga fitur film pertamanya, adalah formula Krabby Patty yang entah hilang atau dicuri oleh Plankton. Dan, di film keduanya pun, tetap menggunakan formula cerita yang sama tetapi dengan kemasan yang berbeda. Jokes SpongeBob memang terkesan lebih aneh daripada film-film animasi pada umumnya. Begitupun dengan Sponge Out of Water.

Jelas, film ini tak akan bisa memenangkan perhatian penonton awam yang baru saja mengenal SpongeBob lewat fitur film keduanya. Apalagi, penonton anak-anak yang tiba-tiba akan jatuh cinta dengan karakter SpongeBob. Meskipun ini film animasi, tetapi Sponge Out of Water ini memiliki candaan yang lebih dewasa. Akan banyak beberapa bagian yang sebenarnya tak compatible untuk disaksikan oleh anak di bawah usia 13 tahun.

Sponge Out of Water memang tak seperti The SpongeBob Square Pants Movie yang lebih adventurous dan lebih menyenangkan. Juga, Fitur film pertamanya akan lebih memiliki straight point plot yang lebih jelas ketimbang film fitur keduanya kali ini. Tetapi, Sponge Out of Water ini memiliki treatment yang berbeda dan menjadi salah satu film animasi paling aneh tapi sangat menyenangkan yang pernah kalian rasakan dan pernah kalian tonton. 


Di mana lagi kalian akan menyaksikan petualangan paling liar dan paling aneh di dalam film animasi. Di mana lagi kalian akan melihat para makhluk laut di film ini berada di luar angkasa, bertemu dengan lumba-lumba dengan lambang iluminati di dalam filmnya. Oh, tak perlu diambil serius tentang penggunaan lambang iluminati itu. Tak perlu sangkut pautkan dengan hal-hal lain, jelas Sponge Out of Water menyuruh kita untuk mematikan otak dan lihat saja kelakuan bodoh dan liar dari makhluk spons ini.

Sebenarnya, Sponge Out of Water pun memiliki beberapa referensi pop yang sangat menyenangkan dan membuat tawa renyah. Tetapi, Bagaimana para Glenn Burgers menuliskan naskah yang berasal dari otak Paul Tibbit dan Stephen Hillenburg ini dengan pintar. Sponge Out of Water menyelipkan komedi-komedi sarkastik yang disembunyikan lewat tingkah-tingkah bodoh para karakternya. Tak perlu berlebihan berusaha untuk menjadi pintar, malah film ini berusaha untuk kelihatan bodoh untuk mengejek orang-orang yang terlalu serius mengikuti filmnya. 


Sponge Out of Water memberikan humor tentang orang-orang yang tak tahu ataupun berusaha tak ingin tahu. Semua disampaikan lewat adegan-adegan dan petualangan yang penuh liku-liku dengan simbol-simbol aneh yang tak dapat semua orang nikmati seluruhnya. Bercampur dengan Live-action movie, tetapi sayangnya hal tersebut hanya seperti tempelan untuk memperlihatkan bagaimana Sponge Out of Water bisa memaksimalkan teknologi canggih yang sudah ada. Oh, SpongeBob dan teman-temannya terlihat lebih menggemaskan di sana.

Pada akhirnya, orang yang memutuskan untuk menonton The Spongebob Movie : Sponge Out of Water harus mengambil resiko untuk menikmati setiap keanehannya. Karena begitulah SpongeBob mulai di setiap episode serialnya atau fitur film pertamanya. Meskipun, tingkat keanehan di film Sponge Out of Water mengalami peningkatan dua kali lipat daripada fitur film pertamanya. Tetapi, Sponge Out of Water adalah film animasi yang cerdas tetapi tak perlu sombong memperlihatkan kepintarannya dan terlihat apa adanya. Dan ya, begitulah sifat SpongeBob di setiap animasinya. 


The SpongeBob Movie : Sponge Out of Water pun ikut dirilis dalam format tiga dimensi untuk memaksimalkan animasinya.

DEPTH
Efek Depth yang sangat terasa jelas ketika film ini masih belum memasuki babak live-action movie. Tetapi ke animasinya yang dua dimensi tetapi menyenangkan. Bikini Bottom terasa begitu dekat

POP OUT
Saksikan Spongebob, Patrick, Squidward, Mr. Krabs, dan Sandy di depan matamu. 


Jelas, film The SpongeBob Movie : Sponge Out of Water akan lebih menyenangkan disaksikan dalam format tiga dimensi. Bukan hanya animasi filmnya saja yang ter-upgrade menjadi tiga dimensi. Tetapi, format filmnya juga dimaksimalkan untuk menyapa penontonnya.

COMIC 8 : CASINO KINGS PART 1 (2014) : Kepingan Teka-teki Bagian Pertama


Setelah menjadi yang terlaris di tahun 2014, Comic 8 jelas akan menjadi sebuah film aksi komedi yang banyak diperbincangkan banyak orang. Meski pun, kehadirannya menimbulkan dua kubu yang berbeda tetapi tak disangsikan lagi bahwa Comic 8 menjadi salah satu film blockbuster milik Indonesia yang akan ditunggu penontonnya. Terlebih, film ini sudah di-set memiliki sekuel yang telah di-tease pada akhir film pertama.

Kesuksesan seri pertama jelas membuat Falcon Pictures selaku rumah produksi memberikan lampu hijau kepada proyek sekuelnya kali ini. Anggy Umbara kembali memberikan komandonya terhadap film yang mengumpulkan 8 komika ?sebutan untuk pelakon stand up comedy ?dalam sebuah misi terbaru dalam sekuelnya. Dibantu oleh sang adik, Fajar Umbara, misi tersebut dituliskan lewat naskah dan mendapat bala bantuan dari Anggy Umbara.

Sekuel Comic 8 ini mendapatkan judul Casino Kings yang dibagi menjadi dua jilid yang dirilis pada tahun yang berbeda. Juli 2015 untuk seri pertama dan seri kedua pada bulan Februari 2016. Merilis seri pertama pada bulan Lebaran adalah keputusan yang tepat untuk mengulang kesuksesan seri pertamanya. Kekhawatiran jelas ada untuk Comic 8 : Casino Kings Part 1, membelah filmnya menjadi dua bagian yang berdiri sendiri tentu tak mudah. Meskipun, bagaimana Anggy Umbara menyampaikan ceritanya sedikit lebih baik. 


Terdampar di sebuah pulau antah berantah, Kali ini tim komika Fico, Babe, Bintang, Ernest, Kemal, Arie, Mongol, dan Ge sedang dalam masalah yang amat besar. Pulau tersebut penuh dengan buaya yang siap memakan mereka hidup-hidup bersama dengan para komika lain yang tak sengaja terseret dalam misi ini. 8 komika utama tak mengingat apapun yang sedang terjadi sebelum mereka berada di pulau antah berantah tersebut.

Mereka berdelapan seharusnya mendapatkan misi dari atasannya, Indro Warkop, untuk menangkap Casino Kings. Dia adalah raja judi termahsyur yang sedang melakukan bisnis perjudian paling besar untuk dilakukan sesegera mungkin. Sayangnya, mereka menemukan banyak sekali kesulitan dalam menjalankan misinya. Terlebih, mereka harus berpura-pura menjadi seorang komika yang melakukan tur untuk menutupi identitas aslinya. 


Kesan pretensius memang tak bisa lepas dari Comic 8, bagaimana Anggy Umbara dan Fajar Umbara menuliskan berbagai macam plot yang dianggapnya menarik ke dalam satu film berdurasi 100 menit. Comic 8 seri pertama memang tak mampu menunjukkan performa maksimalnya lewat komedi yang asyik atau pun penceritaan yang baik. Anggy Umbara memiliki problem untuk tak bisa menahan emosinya yang meledak-ledak ketika menyampaikan sebuah cerita di dalam filmnya.

Dan di dalam Comic 8 : Casino Kings Part 1 ini, kerumitan dan ide cerita yang besar menjadi masalah yang akan terasa signifikan. Dibagi menjadi dua bagian yang berdiri sendiri tentu bukan menjadi kabar baik bagi seri ini. Ya, bagian pertama ini penuh dengan berbagai macam konflik yang disesalkan ke dalamnya. Bahkan, bagian pertama ini akan terasa sangat mengulur waktu dengan berbagai stok subplot yang sebenarnya bisa dipangkas untuk memenuhi kriteria menjadi satu film utuh.

Cerita milik Casino Kings ini memang  terasa lebih rumit ketimbang seri pertamanya. Tetapi, meski Anggy Umbara dan Fajar Umbara memiliki kerumitan itu hanya saja ada yang berbeda dengan bagaimana Anggy bertutur di dalam Casino Kings Part 1 ini. Anggy bisa menahan dan menggoda penontonnya agar tetap betah dan ingin tahu apa yang akan terjadi selanjutnya di dalam film ini. Kepingan demi kepingan cerita disebar dan hanya tinggal tunggu waktu kapan kepingan teka-teki tersebut tergabung menjadi sebuah gambar utuh. 


Comic 8 : Casino Kings Part 1 memiliki hal itu untuk menjadi kekuatan filmnya. Anggy tahu bagaimana untuk menyampaikan setiap kepingan tersebut agar menjadi tontonan yang seru dan membuat penontonnya penasaran akan apa yang terjadi oleh mereka. Menggunakan alur maju mundur yang terasa sangat tepat untuk menggoda penontonnya agar ikut masuk dalam menerka-nerka apa yang terjadi di dalam plot ceritanya.

Kepingan tersebut memang tetap menjadi sesuatu yang episodik seperti film sebelumnya. Seperti dalam sebuah buku, film ini memiliki bab-bab untuk menceritakan karakter-karakter dan benang merah apa yang menjadi fokus utama film ini. Hal tersebut membuat bagaimana Comic 8 kurang memiliki cara bertutur yang halus dan Anggy Umbara seperti membiarkan hal itu menjadi identitas bagi film-film Comic 8.

Pun, Anggy Umbara terlihat bingung dengan bagaimana menyampaikan cerita dari naskah miliknya dan Fajar Umbara di pertengahan filmnya. Tak hanya terlihat bingung, tetapi ritme film ini pun seperti sedang berjalan ditempat, tak tahu mau ke mana tempat agar bagian pertama dari Casino Kings ini berhenti bercerita. Ada beberapa adegan yang seharusnya bisa dipangkas agar Anggy Umbara tak tersendat dalam bertutur. 


Adegan-adegan yang ditambahi itu pun hanyalah sebuah adegan ekstra untuk menambah unsur komedi yang menjadi jualan utama film ini. Meski komedinya tetap menjadi sesuatu yang hit and miss, adanya pengulangan, dan membahas sensualitas, tetapi ada selipan komedi satir yang cukup menyenangkan untuk membuat tawa bagi penontonnya. Meski begitu, komedi di dalam film ini masih cukup bisa diterima oleh berbagai kalangan karena tak melulu soal slapstick.

Termaafkan lagi dengan bagaimana Comic 8 : Casino Kings Part 1 tahu benar mengartikan kata ?blockbuster?. Casino Kings Part 1 ini membungkus filmnya menjadi sebuah film Indonesia yang mewah, megah, dengan berbagai visual efek dan cameo ternama di dalamnya. Ketika penonton mulai jengah dengan cerita yang mulai terengah-engah dan ledekan yang tak penuh tawa, Comic 8 : Casino Kings Part 1 masih akan memanjakan penontonnya lewat kemasan yang mewah, adegan aksi yang dibalut dengan slow motion yang cukup menarik. 


Bertepatan dengan hari Lebaran, hari di mana film Indonesia mencari penontonnya, Comic 8 : Casino Kings Part 1 hadir untuk meramaikan hari besar tersebut dengan kemasan filmnya yang megah dan mewah, juga melibatkan nama-nama besar dalam jajaran pemeran pendukung dan tamu spesialnya. Dengan konsep dan ide cerita yang lebih besar dan rumit, Comic 8 : Casino Kings Part 1 masih memiliki kelemahan untuk menuturkan itu semua dan menjadi kerikil yang menghalanginya. Tetapi, Anggy Umbara masih bisa membuat plot cerita miliknya menyenangkan dan penasaran untuk diikuti. Februari 2016 akan menjadi jawabannya.