Showing posts with label film indonesia. Show all posts
Showing posts with label film indonesia. Show all posts

Wednesday, 25 November 2015

TABULA RASA (2014) REVIEW : ?Makanan? Sederhana, Kaya ?Rasa?

 

Di masa sekarang, kuliner menjadi tren di social media Instagram. Fenomena food porn tentu menarik perhatian banyak orang. Tak terkecuali para sineas untuk menjadikan tren tersebut menjadi hal produktif. Coba kita ingat lagi, sudah berapa film indonesia yang mengangkat kuliner sebagai dasar ceritanya? Brownies, Saus Kacang, dan yang paling baru adalah Madre. Sebuah masakan dijadikan medium untuk menjalankan cerita dari film tersebut.

Lifelike Pictures yang dinaungi oleh Lala Timothy pun mengangkat kembali tema kuliner sebagai dasar cerita film miliknya. Tabula Rasa, satu term adaptasi dari bahasa asing, menjadikan masakan khas padang sebagai ikon untuk filmnya beserta cerita yang ada di dalamnya. Film ini sekaligus menjadi debut layar lebar dari sutradara bernama Adriyanto Dewo yang biasanya hanya menangani film-film pendek.


Mempunyai mimpi yang tinggi sebagai pemain sepak bola terkenal membuat Hans (Jimmy Kobogau) ini rela pergi ke ibu kota Jakarta untuk meraih mimpinya. Sayangnya hal tersebut tidak berjalan manis dan dia harus terlantar di jalanan. Mak (Dewi Irawan) dan Natsir (Ozzol Ramadhan) menemukan Hans tergeletak di jalan dan berinisiatif untuk mengajaknya ke warung padang miliknya. Takana Juo, nama warung padang milik Mak dengan Parmanto (Yayu Unru) sebagai juru masaknya.

Tetapi kedatangan Hans ternyata bukanlah sebuah kabar baik. Rumah Makan Takana Juo memiliki problem dalam kondisi keuangannya. Belum lagi ada rumah makan padang baru yang harus bersaing dengannya. Tentu, Hans menjadi kontradiksi bagi orang-orang yang ada di dalam Takana Juo. Tetapi, Mak tetap mempertahankan Hans yang setidaknya bisa membantunya untuk menemani ke pasar atau sekedar membersihkan rumah makannya. 


?Makanan adalah i?tikad baik untuk bertemu?

Siapa yang tak kenal masakan Padang? Bahkan di pinggiran jalan pun, banyak sekali rumah makan padang berjejeran. Menjadikannya sebagai dasar cerita untuk sebuah film tentu cukup menggairahkan. Masakan berbumbu khas padang itu pun akhirnya bisa kita nikmati lewat layar besar. Tetapi, tentu bukan perkara mudah untuk menjadikan sebuah film bertema kuliner yang benar-benar lezat layaknya sebuah masakan.

Demand yang sudah terbangun dengan cukup baik lewat berbagai media, Tabula Rasa mencoba meyakinkan para calon penontonnya. Dengan gimmick promo yang juga menonjol di antara semua film-film indonesia, tentu Tabula Rasa ingin memberikan sesuatu yang lebih dari sekedar film kuliner. Film debut layar lebar dari Adriyanto Dewo ini, tentu menjadi salah satu sajian hangat di perfilman indonesia dalam genre-nya yang belum banyak ragam.

Tagline di poster Tabula Rasa cukup mewakili apa yang ada di dalam ceritanya. ?Makanan adalah i?tikad baik untuk bertemu? dan masakan khas padang sebagai makanannya. Tabula Rasa bukan hanya sekedar film bertema kuliner dengan gambar-gambar makanan yang menggiurkan saja. Juga memberikan intrik dengan budaya dan keberagamannya yang dipertemukan lewat satu makanan berbumbu dan kaya rasa khas padang. Sajian Tabula Rasa pun juga punya hal tersebut di dalamnya. 


Sebagai karya debut, tentu ini menjadi sebuah karya menjanjikan dari Adriyanto Dewo. Tabula Rasa berhasil meracik bumbu-bumbu itu dengan pas. Film ini pun sesederhana tampilan masakan padang tetapi dibalik kesederhanaan itu ada banyak sekali kekayaan rasa di dalamnya. Tabula Rasa tentu bukan hanya menjadi sebuah film bertema kuliner dengan tampilan saja menggiurkan. Tetapi, ada makna dibalik yang disampaikan dengan cara yang tidak kentara. Mengajak penontonnya menyelami setiap adegan di setiap 100 menitnya itu agar bisa menangkap sendiri pesannya.

Anggap saja para karakter di film ini adalah bahan-bahan dasar untuk memasak. Rempah-rempah dari tanah agraris Indonesia. Mereka sangat beragam, memiliki latar belakang buadaya ataupun agama dan ciri-ciri fisik yang berbeda. Tetapi ketika semua ?bahan? berhasil diracik dan dikolaborasikan, semuanya sangat sedap dipandang dan disantap. Bukankah hidup dalam keberagaman itu sebenarnya begitu indah? Itulah yang coba disampaikan oleh Tabula Rasa.


Tetapi, Tabula Rasa bukanlah film bertema kuliner dengan sajian pop. Sebenarnya, film ini tidak memanjakan penontonnya. Di balik tema-nya yang mainstream itu ada naskah yang ditulis oleh Tumpal Tampubolon yang menyetir Tabula Rasa menjadi film art house. Terlihat cara penuturan film ini yang sebenarnya masih memiliki kesan eksperimental ketimbang ke ranah yang lebih mudah dicerna. Kesan eksperimental itu mungkin tidak akan terasa dominan karena masih ada batasan dalam menyalurkan gaya quirky-nya dalam bertutur di film ini.

Untuk akhirnya bisa mengambil hati penontonnya pun sepertinya masih segmented. Tetapi, kerja keras Adriyanto Dewo berusaha untuk menerjemahkan naskah milik Tumpal Tampubolon ini bisa dibilang berhasil. Toh, Tabula Rasa ini tidak terjerumus terlalu dalam. Karena dengan tema yang seharusnya universal ini, pun harusnya bisa dinikmati oleh segala usia dan kalangan. Bukan hanya sebagian dari penontonnya. 


Character depth pun masih memiliki keterbatasan. Penonton tak bisa masuk lebih dalam lagi agar terkoneksi dengan emosi karakternya. Beruntunglah, kekurangan itu pun bisa ter-cover oleh performa dari jajaran aktor-aktris di film ini. Nama-nama yang ada di film ini mungkin tak eye-catchy, tetapi jangan ragukan performa mereka. Terutama Dewi Irawan yang memerankan sosok Mak dan juga Hans yang diperankan oleh Jimmy Kobogau.

Gambar-gambar indah dari sang DOP ini berperan sangat efektif di film ini. Bagaimana setiap bahan-bahan dapur, makanan-makanan padang seperti rendang atau gulai kepala ikan berhasil memiliki kharismanya. Karena di sinilah bagaimana fenomena foodporn di social media ini berhasil tertangkap lewat gambar bergerak. Alhasil, penonton yang menonton film ini akan merasakan indahnya rendang ataupun gulai kepala ikan. Dengan sesekali membayangkan bau dan rasanya yang akan terasa nikmat saat dihidangkan. Setelah selesai nonton, penonton akan segera mencari rumah makan padang terdekat.


Dengan minimnya keberagaman di tema ini, Tabula Rasa menjadi salah satu cinema gem yang wajib kita santap selagi bisa. Karena, Tabula Rasa bukanlah sekedar tentang sebuah makanan tetapi bagaimana ?Rasa? yang kaya itu sangat penting. Meski penuturan ceritanya yang masih memiliki rasa segmented di dalamnya. Tetapi, Tabula Rasa adalah salah satu karya buatan anak negeri yang patut dapat apresiasi dan perhatian lebih. Selain menggugah selera makan, film ini pun akan menggugah hati penontonnya.

STRAWBERRY SURPRISE (2014) REVIEW : Analogi Cinta dan Stroberi


Jatuh cinta, siapa yang tak pernah merasakan indahnya jatuh cinta? Banyak sekali cerita cinta yang divisualkan untuk film layar lebar. Mulai dari cinta bertepuk sebelah tangan, orang ketiga, dan beberapa konflik cinta yang lainnya yang dekat dengan kehidupan insan manusia sehari-hari. Sineas Indonesia pun juga banyak yang menawarkan film bertema cinta. Beberapa judul film pun mengusung tema cinta dengan konfliknya yang berbeda.

Meski tema cerita cinta cenderung memiliki formula yang klise. Tetapi, sineas Indonesia masih saja menggarap film drama romantis. Begitu pun dengan Hanny R. Saputra, sutradara yang pernah menggarap film Di Bawah Lindungan Ka?bah ini kembali ke jalurnya untuk mengarahkan satu film cinta dewasa. Kembali berkolaborasi bersama Oka Aurora di departemen penulisan naskah, Hanny R. Saputra mengangkat cerita cinta dari buku karangan Desi Puspitasari berjudul ?Strawberry Surprise?.


Aggi (Acha Septriasa) mengibaratkan kisah cintanya seperti sekotak buah stroberi, berharap buah stroberi tersebut manis tetapi asam luar biasa. Kisah cintanya bersama Timur (Reza Rahadian) pun pada awalnya baik-baik saja. Tetapi setelah menjalin hubungan cukup lama dengan kondisi tempat mereka yang berjauhan, mereka pun memutuskan untuk berpisah. Timur masih berharap 5 tahun lagi, Aggi masih sendiri dan menerimanya kembali.

5 Tahun berikutnya, Timur kembali menagih janji dari Aggi. Berharap Aggi masih sendiri dan mengajaknya untuk kembali menjalin hubungan. Beberapa minggu, Timur terus mengejar dan menagih cerita Aggi bersama mantan-mantannya. Aggi masih mempertimbangkan kelanjutan hubungannya Timur. Timur pun merelakan apapun agar bisa kembali bersama Aggi. 


Kejutan yang manis di genre ini.

Film bertema cinta milik sineas indonesia memang cukup banyak dibuat. Tetapi, ada berapa yang bisa menancap di hati penontonnya? dan kapan terakhir kali anda menontonnya? Memang judul-judul film romansa cinta Indonesia memang tak banyak yang bisa menancap di hati penontonnya. Hanny R. Saputra sudah banyak sekali mengarahkan film-film cinta di awal-awal debutnya sebagai sutradara. Heart, Love Is Cinta, dan Love Story adalah trilogi LOVE miliknya

Maka, sudah bukan hal baru lagi bagi Hanny R. Saputra untuk mengarahkan film yang diadaptasi dari buku milik Desi Puspitasari, Strawberry Surprise. Film bertemakan cinta biasanya memiliki formula dan template yang sama dari satu film ke film yang lain. Begitu pun dengan Strawberry Surprise, dari sinopsis pun kita bisa tahu bagaimana film ini akan berjalan. Tetapi, ada yang berbeda dengan Strawberry Surprise. Sesuatu yang benar-benar mengejutkan yang patut untuk anda simak setiap menitnya.

Jika anda sudah pernah melihat sekilas dari Strawberry Surprise lewat trailernya, anda akan tertipu. Trailer film ini memang terkesan biasa saja, tipikal film-film cinta yang gampang dilupakan. Tetapi ketika menonton film ini secara penuh di bioskop, Strawberry Surprise benar-benar tampil di luar dugaan dari trailernya yang biasa saja. Strawberry Surprise memiliki jalinan cerita yang disampaikan cukup rapi kepada penontonnya. Penonton akan dengan mudah hanyut dengan kisah cinta milik Aggi dan Timur. 


Oka Aurora berhasil mengadaptasi buku milik dari Desi Puspitasari ini dengan baik. Dialog-dialog dinamis tentang cinta yang dianalogikan sebagai sekotak buah stroberi dan dialog-dialog lainnya pun meninggalkan kesan manis untuk penontonya. Dialog-dialog yang bisa dikutip dan beberapa akan menohok penontonnya yang memiliki cerita yang sama dengan Aggi dan Timur. Hubungan jarak jauh yang membutuhkan kepercayaan satu sama lain agar bisa bertahan. Ya, penonton pun akan dengan mudah terwakili lewat karakter Aggi dan Timur.

Strawberry Surprise pun berjalan apa adanya tanpa kesan berlebihan di 90 menit filmnya. Hanny R. Saputra pun berhasil berkolaborasi dengan naskah yang ditulis oleh Oka Aurora. Hasilnya, tidak ada kesan over-dramatic, semuanya berjalan sederhana tetapi berhasil meninggalkan kesan manis yang cukup dalam untuk film ini. Hanny R. Saputra berhasil mengarahkan filmnya agar penonton bisa terkoneksi dengan karakter-karakternya. Karena setiap adegan di Strawberry Surprise begitu terasa emosinya. 


Strawberry Surprise tidak seluruhnya sempurna, masih ada beberapa minor kecil di dalamnya. 20 menit pertama film ini mungkin masih sedikit kacau. Strawberry Surprise mencoba menggunakan alur campuran untuk menceritakan setiap detil latar belakang karakternya. Editing dan penuturannya sedikit kacau sehingga penonton awam akan sedikit kebingungan dengan apa yang terjadi dengan Aggi dan Timur. Tetapi semakin bertambah durasinya, Strawberry Surprise menemukan iramanya dan berjalan dengan sangat baik.

Pun dengan karakter-karakter pendukungnya yang juga masih terkesan one dimensional. Karakter yang diperankan oleh Olivia Jensen, Inda pun masih ragu di dalam film ini. Karakter yang diperankan oleh Olivia Jensen mungkin akan berpotensi sebagai penguat karakter Timur tetapi kurang digali lebih oleh Hanny R. Saputra. Beberapa konflik antara Timur dan Inda pun seperti ada yang menahan, mungkin agar tidak terlalu membuat film ini menjadi over dramatic dan terlalu klise. Dia lebih memfokuskan Strawberry Surprise kepada kisah cinta Timur dan Aggi. 


Dan beruntunglah, Strawberry Surprise memiliki pemilihan aktor dan aktris yang tepat sehingga menambahkan kesan manis di dalam filmnya. Acha Septriasa dan Reza Rahadian mungkin pernah bermain dengan sangat bagus di film Test Pack. Dan sekali lagi, chemistry kuat itu mereka tampilkan di film ini. Mereka sangat berhasil membawa suasana haru dan romantis dengan sangat kuat bukan secara berlebihan. Sehingga penonton akan dengan mudah ikut tersenyum lantaran jalinan cerita cinta mereka yang penuh perjuangan. 


Maka tak salah, di tengah minimnya film-film cinta milik sineas Indonesia, Strawberry Surprise mampu menjadi salah satu yang terbaik di genre-nya tahun ini bahkan beberapa tahun terakhir. Sebuah kejutan manis hasil kolaborasi Hanny R. Saputra dan Oka Aurora yang mengantarkan kisah asam manis cinta yang memorable. Asam manis cinta milik Aggi dan Timur yang diibaratkan lewat sekotak buah stroberi ini akan mampu membuat penontonnya tersenyum.

3 NAFAS LIKAS (2014) REVIEW : Siapa itu Likas ?


Tak henti-hentinya para sineas Indonesia menggarap film biopik untuk meramaikan perfilman Indonesia. Mulai dari para petinggi negeri, tokoh-tokoh agama, hingga sosok menginspirasi yang berhasil menitih karir from zero to hero. Tema biopik ini memang bisa dibilang sukses untuk menarik perhatian penontonnya. Sehingga tak salah, jika para sineas Indonesia mulai berlomba-lomba untuk mengangkat sosok-sosok penting di dalam negeri untuk diadaptasi ke layar lebar.

Rako Prijanto contohnya, salah satu sutradara yang sudah pernah menggarap film biopik tokoh agama yaitu Sang Kiai. Kesuksesan Sang Kiai di ajang Festival Film Indonesia 2013 ini, membuat Rako Prijanto sekali lagi mengarahkan sebuah film biopik. Diangkat dari kisah sosok Likas Tarigan, perempuan asal Karo yang juga sekaligus istri dari Djamin Gintings. Bersama dengan Atiqah Hasiholan dan Vino G. Bastian di deretan pemainnya, film biopik ini diberi judul 3 Nafas Likas. 


Dimulai saat era 1930-an, Likas Kecil (Tissa Biani Azzahra) ingin sekali menjadi guru. Di sekolahnya, Likas kecil mendapatkan prestasi yang bagus. Hingga Ayah Likas (Arswendi Nasution) memutuskan untuk mendaftarkan Likas ke sekolah guru di Padang Panjang. Hal tersebut mendapatkan tentangan dari Ibu Likas (Jajang C. Noer) yang berharap Likas tidak pergi ke sekolah guru tersebut. Tetapi, Likas tetap yakin dengan kemauannya.

Selang waktu berlalu, Likas (Atiqah Hasiholan) sudah lulus dan berhasil menjadi seorang guru di Padang Panjang. Pada akhirnya, dia bertemu dengan pemuda pasukan PETA, Djamin Gintings (Vino G. Bastian). Djamin tiba-tiba menaruh hati pada Likas. Meski pada awalnya, Likas selalu membuang muka dan menghindar dari Djamin. Di saat itu pula, keadaan Indonesia yang sedang dijajah Jepang semakin memburuk dan mengharuskan Likas untuk berjuang menyelamatkan dirinya. 


Still being one of the gem in indonesian cinemas.

Biopik kembali menjadi tren ketika Habibie & Ainun, film yang mengisahkan perjalanan presiden ketiga negara Indonesia ini, berhasil memperoleh jutaan penonton. Beberapa biopik pun dibuat alih-alih untuk mendapatkan antusiasme penonton. Rako Prijanto, yang pernah menggarap Sang Kiai ?yang juga sukses? dibawah rumah produksi Oreima Pictures menggiring 3 Nafas Likas menjadi salah satu film biopik yang akan dikenang oleh penontonnya.

Satu hal yang mungkin akan dipertanyakan oleh penonton film biopik. Siapa itu Likas? Apa yang telah diperbuatnya oleh negara? Tentu, Likas akan memiliki koneksi yang cukup kuat di daerah tertentu. 3 Nafas Likas akan membuat penonton tahu siapa itu Likas. Orang biasa yang ingin mewujudkan mimpinya menjadi seorang agar menjadi kenyataan. Kehidupan orang biasa ini sepertinya belum bisa diarahkan dengan cukup baik oleh Rako Prijanto.

Pertanyaan awal tadi sepertinya juga patut dipertanyakan di dalam film 3 Nafas Likas. Siapa itu Likas? Istri Djamin Gintings, sosok Letnan Jendral. Lantas apa yang membuatnya spesial sebelum itu? Rako Prijanto pun seperti masih mempertanyakan siapa itu Likas di dalam filmnya. Dengan naskah yang ditulis oleh Titien Wattimena, sosok Likas masih terbangun baik dalam paruh pertama filmnya. Rako Prijanto berhasil memberikan harapan di paruh pertama kepada penontonnya. 


Ketika Vino G. Bastian yang memerankan Djamin Gintings muncul, ini adalah titik turun di dalam filmnya. Bukan karena akting dari Vino G. Bastian yang buruk, tetapi karena bagaimana Rako Prijanto terlihat kuwalahan untuk mengarahkan karakter-karakter yang sudah mulai menumpuk di dalam filmnya. Penuturan lembut di dalam skrip milik Titien Wattimena itu masih terasa, tetapi Rako Prijanto tidak bisa merepresentasikan naskah yang ada. Di sisa-sisa menit yang ada, 3 Nafas Likas terlihat susah untuk menuturkan apa yang terjadi di dalam filmnya.

Dengan Timeline yang memiliki rentang waktu yang cukup panjang, 100 menit akan terasa sangat singkat. Rako Prijanto pun seperti harus memasukkan setiap adegan-adegan yang ada meskipun akan terasa beberapa cerita masih ada yang belum tuntas untuk diceritakan. Begitupun dengan sosok Likas yang sudah mulai buram dalam pembangunan karakternya. Sosok Likas yang seharusnya lebih diceritakan seperti diambil alih oleh cerita milik Djamin Ginting, meski tetap menggunakan Likas sebagai point of view di dalam filmnya. 


Akan terasa episodik di setiap paruh filmnya, karena transisi karakter yang cukup dominan. Sesuai dengan judulnya, 3 Nafas Likas, metafora kehidupan Likas yang bergantung terhadap 3 orang yang berpengaruh di hidupnya. Tetapi, naskah milik Titien Wattimena ini memiliki beberapa hal yang patut dipuji. Bagaimana kehidupan budaya Karo tentang merantau dan beberapa adat lainnya yang mampu dirangkum di dalam naskahnya. Meski, Rako Prijanto masih belum bisa menerjemahkan semua itu dengan sempurna.

Pun juga perlu mendapatkan apresiasi dalam nilai produksi di dalam setting filmnya. Setiap detil tempat dan suasana berhasil menangkap bagaimana kehidupan di Karo, bagaimana kehidupan di tahun 1930, dan seterusnya. Digarap dengan sangat baik yang mampu menutupi segala kekurangan tutur cerita milik Rako Prijanto yang belum rapi. Usaha-usaha teknis yang benar-benar digarap serius dan tertangkap oleh sinematografi yang cantik ini layak diacungi jempol. 


Juga dengan kekuatan akting dari Atiqah Hasiholan dan Vino G. Bastian yang berhasil menggunakan logat etniknya dengan baik. Meski, chemistry antara mereka belum benar-benar terjalin kuat layaknya Reza Rahadian dan juga Bunga C. Lestari di Habibie & Ainun. Yang patut disorot adalah Tissa Biani Azzahra yang memerankan Likas Kecil. Sebagai aktris cilik, performa miliknya begitu luar biasa dan mampu membuat penonton simpati dengan karakternya.

3 Nafas Likas masih memiliki kelemahan di dalam penuturan ceritanya. Belum bisa membangun karakter Likas dengan begitu spesial sehingga layak diapresiasi lewat film biopik. Tetapi, 3 Nafas Likas tetap menjadi salah satu film Indonesia yang patut untuk diapresiasi. Dengan nilai produksi yang sangat detil dan digarap serius, 3 Nafas Likas ini perlu untuk mendapat dukungan dari penontonnya. Salah satu film Indonesia yang digarap tidak sembarangan. 

ARUL MOVIE REVIEW BLOG-WRITER'S CHOICE : 13 Film Indonesia Terbaik Tahun 2014

 

Tahun 2014 adalah tahun yang menyenangkan bagi perfilman Indonesia. Film Indonesia memiliki genre yang semakin beragam. Tetapi, bukan berarti dengan semakin beragamnya genre di film-film Indonesia membuat perubahan yang signifikan dalam kuantitas penontonnya. Hanya beberapa film saja yang berhasil menembus perolehan angka satu juta penonton. Dan itu terjadi dalam film-film di awal tahun.

Pertama, saya ucapkan Selamat Tahun Baru 2015. Ini adalah postingan pertama saya di tahun 2015. 110 film Indonesia telah dirilis di bioskop, sebanyak 38 film Indonesia telah saya tonton. Lumayan bertambah jika dibanding dengan film Indonesia yang saya tonton tahun lalu. Oleh karena itu, di tahun ini saya ingin memberikan 13 daftar Film Indonesia terbaik versi Arul?s Movie Review Blog. Mari saya mulai daftar film Indonesia terbaik versi Arul?s Movie Review Blog tahun ini.

13. Supernova : Ksatria, Putri & Bintang Jatuh. 


Ada beberapa kesalahan dalam bagaimana Rizal Mantovani masih sangat mentah dalam mengadaptasi novel superb milik Dewi Lestari ini. Juga, beberapa nama dari departemen akting yang masih belum terlalu sempurna. Tetapi, Film adaptasi dari buku pertama seri Supernova ini sangat patut diapresiasi dari segi teknis yang sangat digarap serius.
12. Marmut Merah Jambu 


Film adaptasi dari buku milik Raditya Dika lainnya dan film ini adalah film yang diarahkan langsung oleh Raditya Dika. Meski masih memiliki komedi yang hit and miss dan tak semulus Manusia Setengah Salmon, tetapi Marmut Merah Jambu meninggalkan kesan yang sangat manis untuk sebuah film komedi romantis di dalam film ini. 

11. Strawberry Surprise 


Meski trailer yang ditampilkan ini tidak menarik perhatian penontonnya, tetapi film arahan dari Hanny R. Saputra ini adalah film yang mengejutkan sama seperti judulnya, Strawberry Surprise. Film adult romance comedy ini benar-benar sangat menyenangkan untuk diikuti dan diperindah dengan chemistry apik dari Reza Rahadian dan Acha Septriasa. 

10. 3 Nafas Likas


Rako Prijanto sangat berani memberikan sebuah biopik dari sosok yang tak terlalu dekat dengan penontonnya yaitu Likas, istri dari Djamin Ginting. Meski masih belum sempurna dalam bertutur, tetapi dengan production value yang digarap tidak sembarangan, 3 Nafas Likas adalah salah satu Indonesian Cinema?s gem di tahun 2014. 

9. Killers 


Memberikan perasaan tak nyaman bagi penontonnya adalah goal dari film yang digarap oleh The Mo Brothers satu ini. Killers adalah sebuah psychological thriller yang akan membuat penontonnya merasakan betapa ?sakitnya? The Mo Brothers yang mencoba menceritakan kisah dari seorang pembunuh dengan setting Jakarta dan Jepang. 

8. Selamat Pagi, Malam


Sebuah film yang menyindir kehidupan metropolitan Ibu Kota dengan nada yang sangat sinis. Selamat Pagi, Malam adalah sebuah ironi yang ditunjukkan juga lewat judulnya. Ya, Lucky Kuswandi memang berhasil menyindir kehidupan kaum elit di kota besar meski ada beberapa yang terasa kosong. Tetapi, Selamat Pagi, Malam itu menyenangkan. 

7. 7/24 (7 Hari 24 Jam)


Film komedi romantis bertemakan pernikahan yang sangat menyenangkan. Meski, Fajar Nugros masih kelihatan kebingungan ditengah film harus di isi seperti apa, tetapi ini bukan melulu tentang komedi renyah. Ada pesan yang terselip di dalam film ini tentang sebuah pernikahan. Fajar Nugros best work. 

6. Jalanan 


Film dokumenter tentang kehidupan anak jalanan yang hidup di ibu kota, Jakarta. Dengan tema generik, Daniel Ziv berhasil men-capture segala hal dengan sangat menyenangkan tetapi tetap menyentil penontonnya. Daniel Ziv berhasil membuat penonton terkoneksi dengan ketiga tokoh di dalam film dokumenter ini. 

5. Mari Lari 


Drama ringan tentang hubungan ayah-anak yang digabung dengan sebuah olahraga yang sedang hits, Running. Mari Lari sangat mudah menyentuh hati penontonnya dengan drama yang sangat hangat. Tentu ada selipan motivasi yang kuat di dalam film ini, tetapi tak dipresentasikan dengan menggurui penontonnya. Touchy and inspiring. 

4. Pendekar Tongkat Emas


Usaha Miles Films dan Ifa Isfansyah sangatlah berat di film ini untuk mengenalkan lagi martial arts kolosal. Voila, Pendekar Tongkat Emas adalah sebuah film Indonesia yang sangat pantas untuk diapresiasi. Bukan dari cerita dengan kompleksitas yang tinggi, tetapi penggarapan serius dari production value dan segala bentuk teknis. 

3. Tabula Rasa 


Genre baru yang didekati oleh sineas Indonesia salah satunya ada culinary theme. Tabula Rasa menyorot masakan Padang dibumbui dengan slice of life yang sangat hangat. Meski jalurnya masih dikategorikan jauh dari popcorn movie, tetapi Tabula Rasa masih ada sesuatu yang lebih di dalam filmnya. Sangat sedap. 

2. The Raid 2 : Berandal 


Meski berasal dari tangan Sutradara asing, Gareth Evans, tetapi The Raid 2 : Berandal benar-benar sajian martial arts, action and crime, dan thriller yang dipadupadankan dengan sangat menarik. Meski masih terlihat adanya beberapa referensi yang asal tempel, tetapi The Raid 2 : Berandal benar-benar melebihi segala ekspektasi penontonnya. 

1. Cahaya Dari Timur : Beta Maluku


Inilah, film yang benar-benar digarap dari hati. Cahaya Dari Timur : Beta Maluku adalah sebuah pengalaman penonton film Indonesia terbaik di dalam bioskop. Tema olahraga yang dibalut dengan drama kemanusiaan benar-benar memiliki porsi yang sangat seimbang. Segala tensi dan emosi sangat mengoyak hati penontonnnya. Angga Sasongko best work and Best Indonesian Movie of the Year

2014 adalah tahun yang menyenangkan untuk perfilman Indonesia. Banyak sekali film-film yang layak untuk diapresiasi. Tetapi, 13 film di atas adalah film yang terpilih dalam daftar saya tahun ini. Semoga di tahun 2015, film-film Indonesia semakin berkembang juga penonton yang semakin aktif dalam mendukung film-film Indonesia. Jadi, #DukungPerfilmanIndonesia !

Saturday, 7 November 2015

TABULA RASA (2014) REVIEW : ?Makanan? Sederhana, Kaya ?Rasa?

 

Di masa sekarang, kuliner menjadi tren di social media Instagram. Fenomena food porn tentu menarik perhatian banyak orang. Tak terkecuali para sineas untuk menjadikan tren tersebut menjadi hal produktif. Coba kita ingat lagi, sudah berapa film indonesia yang mengangkat kuliner sebagai dasar ceritanya? Brownies, Saus Kacang, dan yang paling baru adalah Madre. Sebuah masakan dijadikan medium untuk menjalankan cerita dari film tersebut.

Lifelike Pictures yang dinaungi oleh Lala Timothy pun mengangkat kembali tema kuliner sebagai dasar cerita film miliknya. Tabula Rasa, satu term adaptasi dari bahasa asing, menjadikan masakan khas padang sebagai ikon untuk filmnya beserta cerita yang ada di dalamnya. Film ini sekaligus menjadi debut layar lebar dari sutradara bernama Adriyanto Dewo yang biasanya hanya menangani film-film pendek.


Mempunyai mimpi yang tinggi sebagai pemain sepak bola terkenal membuat Hans (Jimmy Kobogau) ini rela pergi ke ibu kota Jakarta untuk meraih mimpinya. Sayangnya hal tersebut tidak berjalan manis dan dia harus terlantar di jalanan. Mak (Dewi Irawan) dan Natsir (Ozzol Ramadhan) menemukan Hans tergeletak di jalan dan berinisiatif untuk mengajaknya ke warung padang miliknya. Takana Juo, nama warung padang milik Mak dengan Parmanto (Yayu Unru) sebagai juru masaknya.

Tetapi kedatangan Hans ternyata bukanlah sebuah kabar baik. Rumah Makan Takana Juo memiliki problem dalam kondisi keuangannya. Belum lagi ada rumah makan padang baru yang harus bersaing dengannya. Tentu, Hans menjadi kontradiksi bagi orang-orang yang ada di dalam Takana Juo. Tetapi, Mak tetap mempertahankan Hans yang setidaknya bisa membantunya untuk menemani ke pasar atau sekedar membersihkan rumah makannya. 


?Makanan adalah i?tikad baik untuk bertemu?

Siapa yang tak kenal masakan Padang? Bahkan di pinggiran jalan pun, banyak sekali rumah makan padang berjejeran. Menjadikannya sebagai dasar cerita untuk sebuah film tentu cukup menggairahkan. Masakan berbumbu khas padang itu pun akhirnya bisa kita nikmati lewat layar besar. Tetapi, tentu bukan perkara mudah untuk menjadikan sebuah film bertema kuliner yang benar-benar lezat layaknya sebuah masakan.

Demand yang sudah terbangun dengan cukup baik lewat berbagai media, Tabula Rasa mencoba meyakinkan para calon penontonnya. Dengan gimmick promo yang juga menonjol di antara semua film-film indonesia, tentu Tabula Rasa ingin memberikan sesuatu yang lebih dari sekedar film kuliner. Film debut layar lebar dari Adriyanto Dewo ini, tentu menjadi salah satu sajian hangat di perfilman indonesia dalam genre-nya yang belum banyak ragam.

Tagline di poster Tabula Rasa cukup mewakili apa yang ada di dalam ceritanya. ?Makanan adalah i?tikad baik untuk bertemu? dan masakan khas padang sebagai makanannya. Tabula Rasa bukan hanya sekedar film bertema kuliner dengan gambar-gambar makanan yang menggiurkan saja. Juga memberikan intrik dengan budaya dan keberagamannya yang dipertemukan lewat satu makanan berbumbu dan kaya rasa khas padang. Sajian Tabula Rasa pun juga punya hal tersebut di dalamnya. 


Sebagai karya debut, tentu ini menjadi sebuah karya menjanjikan dari Adriyanto Dewo. Tabula Rasa berhasil meracik bumbu-bumbu itu dengan pas. Film ini pun sesederhana tampilan masakan padang tetapi dibalik kesederhanaan itu ada banyak sekali kekayaan rasa di dalamnya. Tabula Rasa tentu bukan hanya menjadi sebuah film bertema kuliner dengan tampilan saja menggiurkan. Tetapi, ada makna dibalik yang disampaikan dengan cara yang tidak kentara. Mengajak penontonnya menyelami setiap adegan di setiap 100 menitnya itu agar bisa menangkap sendiri pesannya.

Anggap saja para karakter di film ini adalah bahan-bahan dasar untuk memasak. Rempah-rempah dari tanah agraris Indonesia. Mereka sangat beragam, memiliki latar belakang buadaya ataupun agama dan ciri-ciri fisik yang berbeda. Tetapi ketika semua ?bahan? berhasil diracik dan dikolaborasikan, semuanya sangat sedap dipandang dan disantap. Bukankah hidup dalam keberagaman itu sebenarnya begitu indah? Itulah yang coba disampaikan oleh Tabula Rasa.


Tetapi, Tabula Rasa bukanlah film bertema kuliner dengan sajian pop. Sebenarnya, film ini tidak memanjakan penontonnya. Di balik tema-nya yang mainstream itu ada naskah yang ditulis oleh Tumpal Tampubolon yang menyetir Tabula Rasa menjadi film art house. Terlihat cara penuturan film ini yang sebenarnya masih memiliki kesan eksperimental ketimbang ke ranah yang lebih mudah dicerna. Kesan eksperimental itu mungkin tidak akan terasa dominan karena masih ada batasan dalam menyalurkan gaya quirky-nya dalam bertutur di film ini.

Untuk akhirnya bisa mengambil hati penontonnya pun sepertinya masih segmented. Tetapi, kerja keras Adriyanto Dewo berusaha untuk menerjemahkan naskah milik Tumpal Tampubolon ini bisa dibilang berhasil. Toh, Tabula Rasa ini tidak terjerumus terlalu dalam. Karena dengan tema yang seharusnya universal ini, pun harusnya bisa dinikmati oleh segala usia dan kalangan. Bukan hanya sebagian dari penontonnya. 


Character depth pun masih memiliki keterbatasan. Penonton tak bisa masuk lebih dalam lagi agar terkoneksi dengan emosi karakternya. Beruntunglah, kekurangan itu pun bisa ter-cover oleh performa dari jajaran aktor-aktris di film ini. Nama-nama yang ada di film ini mungkin tak eye-catchy, tetapi jangan ragukan performa mereka. Terutama Dewi Irawan yang memerankan sosok Mak dan juga Hans yang diperankan oleh Jimmy Kobogau.

Gambar-gambar indah dari sang DOP ini berperan sangat efektif di film ini. Bagaimana setiap bahan-bahan dapur, makanan-makanan padang seperti rendang atau gulai kepala ikan berhasil memiliki kharismanya. Karena di sinilah bagaimana fenomena foodporn di social media ini berhasil tertangkap lewat gambar bergerak. Alhasil, penonton yang menonton film ini akan merasakan indahnya rendang ataupun gulai kepala ikan. Dengan sesekali membayangkan bau dan rasanya yang akan terasa nikmat saat dihidangkan. Setelah selesai nonton, penonton akan segera mencari rumah makan padang terdekat.


Dengan minimnya keberagaman di tema ini, Tabula Rasa menjadi salah satu cinema gem yang wajib kita santap selagi bisa. Karena, Tabula Rasa bukanlah sekedar tentang sebuah makanan tetapi bagaimana ?Rasa? yang kaya itu sangat penting. Meski penuturan ceritanya yang masih memiliki rasa segmented di dalamnya. Tetapi, Tabula Rasa adalah salah satu karya buatan anak negeri yang patut dapat apresiasi dan perhatian lebih. Selain menggugah selera makan, film ini pun akan menggugah hati penontonnya.

ARUL MOVIE REVIEW BLOG-WRITER'S CHOICE : 13 Film Indonesia Terbaik Tahun 2014

 

Tahun 2014 adalah tahun yang menyenangkan bagi perfilman Indonesia. Film Indonesia memiliki genre yang semakin beragam. Tetapi, bukan berarti dengan semakin beragamnya genre di film-film Indonesia membuat perubahan yang signifikan dalam kuantitas penontonnya. Hanya beberapa film saja yang berhasil menembus perolehan angka satu juta penonton. Dan itu terjadi dalam film-film di awal tahun.

Pertama, saya ucapkan Selamat Tahun Baru 2015. Ini adalah postingan pertama saya di tahun 2015. 110 film Indonesia telah dirilis di bioskop, sebanyak 38 film Indonesia telah saya tonton. Lumayan bertambah jika dibanding dengan film Indonesia yang saya tonton tahun lalu. Oleh karena itu, di tahun ini saya ingin memberikan 13 daftar Film Indonesia terbaik versi Arul?s Movie Review Blog. Mari saya mulai daftar film Indonesia terbaik versi Arul?s Movie Review Blog tahun ini.

13. Supernova : Ksatria, Putri & Bintang Jatuh. 


Ada beberapa kesalahan dalam bagaimana Rizal Mantovani masih sangat mentah dalam mengadaptasi novel superb milik Dewi Lestari ini. Juga, beberapa nama dari departemen akting yang masih belum terlalu sempurna. Tetapi, Film adaptasi dari buku pertama seri Supernova ini sangat patut diapresiasi dari segi teknis yang sangat digarap serius.
12. Marmut Merah Jambu 


Film adaptasi dari buku milik Raditya Dika lainnya dan film ini adalah film yang diarahkan langsung oleh Raditya Dika. Meski masih memiliki komedi yang hit and miss dan tak semulus Manusia Setengah Salmon, tetapi Marmut Merah Jambu meninggalkan kesan yang sangat manis untuk sebuah film komedi romantis di dalam film ini. 

11. Strawberry Surprise 


Meski trailer yang ditampilkan ini tidak menarik perhatian penontonnya, tetapi film arahan dari Hanny R. Saputra ini adalah film yang mengejutkan sama seperti judulnya, Strawberry Surprise. Film adult romance comedy ini benar-benar sangat menyenangkan untuk diikuti dan diperindah dengan chemistry apik dari Reza Rahadian dan Acha Septriasa. 

10. 3 Nafas Likas


Rako Prijanto sangat berani memberikan sebuah biopik dari sosok yang tak terlalu dekat dengan penontonnya yaitu Likas, istri dari Djamin Ginting. Meski masih belum sempurna dalam bertutur, tetapi dengan production value yang digarap tidak sembarangan, 3 Nafas Likas adalah salah satu Indonesian Cinema?s gem di tahun 2014. 

9. Killers 


Memberikan perasaan tak nyaman bagi penontonnya adalah goal dari film yang digarap oleh The Mo Brothers satu ini. Killers adalah sebuah psychological thriller yang akan membuat penontonnya merasakan betapa ?sakitnya? The Mo Brothers yang mencoba menceritakan kisah dari seorang pembunuh dengan setting Jakarta dan Jepang. 

8. Selamat Pagi, Malam


Sebuah film yang menyindir kehidupan metropolitan Ibu Kota dengan nada yang sangat sinis. Selamat Pagi, Malam adalah sebuah ironi yang ditunjukkan juga lewat judulnya. Ya, Lucky Kuswandi memang berhasil menyindir kehidupan kaum elit di kota besar meski ada beberapa yang terasa kosong. Tetapi, Selamat Pagi, Malam itu menyenangkan. 

7. 7/24 (7 Hari 24 Jam)


Film komedi romantis bertemakan pernikahan yang sangat menyenangkan. Meski, Fajar Nugros masih kelihatan kebingungan ditengah film harus di isi seperti apa, tetapi ini bukan melulu tentang komedi renyah. Ada pesan yang terselip di dalam film ini tentang sebuah pernikahan. Fajar Nugros best work. 

6. Jalanan 


Film dokumenter tentang kehidupan anak jalanan yang hidup di ibu kota, Jakarta. Dengan tema generik, Daniel Ziv berhasil men-capture segala hal dengan sangat menyenangkan tetapi tetap menyentil penontonnya. Daniel Ziv berhasil membuat penonton terkoneksi dengan ketiga tokoh di dalam film dokumenter ini. 

5. Mari Lari 


Drama ringan tentang hubungan ayah-anak yang digabung dengan sebuah olahraga yang sedang hits, Running. Mari Lari sangat mudah menyentuh hati penontonnya dengan drama yang sangat hangat. Tentu ada selipan motivasi yang kuat di dalam film ini, tetapi tak dipresentasikan dengan menggurui penontonnya. Touchy and inspiring. 

4. Pendekar Tongkat Emas


Usaha Miles Films dan Ifa Isfansyah sangatlah berat di film ini untuk mengenalkan lagi martial arts kolosal. Voila, Pendekar Tongkat Emas adalah sebuah film Indonesia yang sangat pantas untuk diapresiasi. Bukan dari cerita dengan kompleksitas yang tinggi, tetapi penggarapan serius dari production value dan segala bentuk teknis. 

3. Tabula Rasa 


Genre baru yang didekati oleh sineas Indonesia salah satunya ada culinary theme. Tabula Rasa menyorot masakan Padang dibumbui dengan slice of life yang sangat hangat. Meski jalurnya masih dikategorikan jauh dari popcorn movie, tetapi Tabula Rasa masih ada sesuatu yang lebih di dalam filmnya. Sangat sedap. 

2. The Raid 2 : Berandal 


Meski berasal dari tangan Sutradara asing, Gareth Evans, tetapi The Raid 2 : Berandal benar-benar sajian martial arts, action and crime, dan thriller yang dipadupadankan dengan sangat menarik. Meski masih terlihat adanya beberapa referensi yang asal tempel, tetapi The Raid 2 : Berandal benar-benar melebihi segala ekspektasi penontonnya. 

1. Cahaya Dari Timur : Beta Maluku


Inilah, film yang benar-benar digarap dari hati. Cahaya Dari Timur : Beta Maluku adalah sebuah pengalaman penonton film Indonesia terbaik di dalam bioskop. Tema olahraga yang dibalut dengan drama kemanusiaan benar-benar memiliki porsi yang sangat seimbang. Segala tensi dan emosi sangat mengoyak hati penontonnnya. Angga Sasongko best work and Best Indonesian Movie of the Year

2014 adalah tahun yang menyenangkan untuk perfilman Indonesia. Banyak sekali film-film yang layak untuk diapresiasi. Tetapi, 13 film di atas adalah film yang terpilih dalam daftar saya tahun ini. Semoga di tahun 2015, film-film Indonesia semakin berkembang juga penonton yang semakin aktif dalam mendukung film-film Indonesia. Jadi, #DukungPerfilmanIndonesia !