Showing posts with label 4 stars. Show all posts
Showing posts with label 4 stars. Show all posts

Thursday, 21 January 2016

SINGLE (2015) REVIEW : Komedi Megah Tahun Ini


Tak habisnya di setiap tahun Raditya Dika bertemu dengan para penggemarnya lewat film yang ia buat. Dan tak pernah mati, film-film Raditya Dika selalu berada di angka yang cukup fantastis dalam raihan penonton. Faktor kepiawaiannya dalam memberikan canda tawa kepada penggemarnya yang membuat film-filmnya laris manis di pasaran. Sehingga, tak salah jika Raditya Dika bisa menjadi sebuah brand  dalam perfilman Indonesia.
 
Mengejutkan, ketika biasanya Raditya Dika bekerjasama dengan Star Vision di setiap filmnya, kali ini Raditya Dika bisa menggaet rumah produksi Soraya Intercine Films sebagai naungannya. Dan mengagetkan pula, Raditya Dika diberi kesempatan untuk sekali lagi mengarahkan dan menulis naskah untuk filmnya sendiri. Single, karya terbaru miliknya ini masih menggunakan dirinya sebagai pemeran utamanya dan komedi sebagai pilihan genre-nya.

Raditya Dika masih menggunakan formula yang sama di setiap filmnya. Patah hati, kesepian, dan perjuangan untuk mendapatkan kekasih yang diolah dan diperlihatkan kesedihan mereka dengan beberapa candaan dan celaan yang bisa mengundang tawa penontonnya. Single pun masih ditangani secara sama oleh Raditya Dika. Hanya saja, Single tampil begitu prima dan sangat menonjol dibandingkan karya-karya milik Raditya Dika sebelumnya. 


Ebi (Raditya Dika), seorang pejuang cinta yang sedang berkelana mencari seorang dambaan hati. Banyak sekali cara yang dilakukan oleh Ebi untuk berkenalan dengan banyak gadis berparas cantik tetapi tak ada satu pun yang bisa ditaklukkan olehnya. Ebi dibantu oleh teman-temannya, Victor (Babe Cabita) dan Wawan (Pandji Pragiwaksono) di setiap kisah perjuangannya mendapatkan kekasih. Ketika Ebi mulai lelah, dia pun bertemu dengan seorang wanita cantik.

Wanita cantik itu benama Angel (Anissa Rawles), teman satu komplek kos yang didiami Ebi dan teman-temannya. Ebi pun terpanah asmara oleh pandangan Angel yang cantik bak bidadari. Ebi pun jatuh cinta dan berjuang keras agar Angel tak luput dari pandangannya. Tetapi, perjuangan Ebi tak semudah itu. Dia harus berhadapan dengan Alva (Chandra Liow), pria yang dianggap kakak oleh Angel. Alva sudah menyukai Angel sejak kecil dan tak pernah menjadi kekasihnya. Ebi dan Alva bermusuhan untuk mendapatkan hati Angel. 


Cerita yang diangkat oleh Raditya Dika pun masih sama dengan beberapa film yang dia bintangi atau yang dia buat. Tetapi, cerita-cerita picisan seperti inilah zona yang selalu bisa Raditya Dika mainkan. Bisa jadi, Raditya Dika adalah raja dari zona cerita kisah perjuangan cinta beserta kalimat-kalimat mutiara moderen tentang cinta. Sehingga tak salah jika Single masih menggunakan formula yang repetitif dari Raditya Dika sebagai empunya fim ini.

I?tikad baik dari Raditya Dika di film ini adalah ketika Single digunakan sebagai medium koreksi dari kesalahan-kesalahan karya terdahulu yang dia buat. Raditya Dika belajar dari kesalahan dan ketika Soraya Intercine Films mempercayakan proyek ini sepenuhnya kepada Raditya Dika, dia tak mau membuat kesempatan ini sia-sia. Alhasil, Single menjadi sebuah sajian komedi cinta tentang lelaki tuna asmara yang bermain secara apik.

Poin unggul dari Single adalah naskah yang ditulis dari Raditya Dika. Bagaimana Dika berhasil berkembang dalam menulis naskah untuk proyek terbarunya. Memiliki banyak sekali storyline yang sebenarnya keluar dari zona aman tetapi tak lupa formula lama yang dia usung. Beruntungnya, formula usang yang dia gunakan di film terbarunya bisa terkesan menyenangkan dan lebih dinamis ketimbang film-film sebelumnya. Dan hal inilah yang membuat film Single memiliki keunggulan dari karya-karya sebelumnya. 


Penyakit lama yang biasa diidap oleh film-film garapan Raditya Dika adalah inkonsistensi dari persebaran humor yang ada di dalam filmnya. Single memang tak bisa lepas dari penyakit itu, hanya saja prosentase inkonsistensi itu tak terlalu banyak sehingga Single mampu berjalan lancar untuk menghibur penontonnya. Guyonan milik Dika yang ada di film Single pun bisa dibilang naik tingkat. Tak hanya bermodal humor slapstik, tetapi ada beberapa humor pintar yang terkesan murahan.

Film Single ini pun terasa beda karena Raditya Dika memberikan sebuah drama keluarga yang hangat. Ini adalah sebuah turning point dari film Raditya Dika yang biasanya hanya mengumbar hura-hura dan kegalauan luar biasa. Dan selalu, Soraya Intercine Films bisa membuat film-film yang ada di bawah naungannya menjadi film yang terlihat megah. Dan hal itulah poin lain yang membuat film Single arahan Raditya Dika ini terlihat sangat berbeda dan lebih menonjol ketimbang karya lainnya. 


Pun, dipermanis dengan anthem patah hati baru dari Geisha yang dengan mudah terinseminasi ke dalam otak penontonnya. Ya, film Single memiliki sebuah soundtrack antemik yang dapat mengingatkan penontonnya ketika selesai menonton film ini. Soundtrack itu tampil ke dalam sebuah adegan yang terasa menjemukan, tetapi entah kenapa Raditya Dika memiliki arahan kuat yang bisa membuat adegan itu terasa menyenangkan untuk diikuti. Seperti mengikuti hidup Ebi yang sedang merana dan berjuang untuk mendapatkan cintanya.

Maka tak salah, jika film Single dari Raditya Dika lagi-lagi akan mencetak angka fantastis dalam raihan penontonnya. Raditya Dika memiliki kans yang besar untuk mendapatkan sorotan dari para penonton dan penonton tak akan merasa kecewa setelah menonton film ini. Film Single adalah bukti dari kedigdayaan Raditya Dika dalam mengarahkan sebuah film. Raditya Dika berhasil mengoreksi setiap kesalahan yang dia buat dan meminimalisir hal itu ke dalam film Single. Meskipun, beberapa penyakit lama masih ada di dalam film ini. Akan tetapi film Single punya banyak poin unggul. 


Wednesday, 25 November 2015

TABULA RASA (2014) REVIEW : ?Makanan? Sederhana, Kaya ?Rasa?

 

Di masa sekarang, kuliner menjadi tren di social media Instagram. Fenomena food porn tentu menarik perhatian banyak orang. Tak terkecuali para sineas untuk menjadikan tren tersebut menjadi hal produktif. Coba kita ingat lagi, sudah berapa film indonesia yang mengangkat kuliner sebagai dasar ceritanya? Brownies, Saus Kacang, dan yang paling baru adalah Madre. Sebuah masakan dijadikan medium untuk menjalankan cerita dari film tersebut.

Lifelike Pictures yang dinaungi oleh Lala Timothy pun mengangkat kembali tema kuliner sebagai dasar cerita film miliknya. Tabula Rasa, satu term adaptasi dari bahasa asing, menjadikan masakan khas padang sebagai ikon untuk filmnya beserta cerita yang ada di dalamnya. Film ini sekaligus menjadi debut layar lebar dari sutradara bernama Adriyanto Dewo yang biasanya hanya menangani film-film pendek.


Mempunyai mimpi yang tinggi sebagai pemain sepak bola terkenal membuat Hans (Jimmy Kobogau) ini rela pergi ke ibu kota Jakarta untuk meraih mimpinya. Sayangnya hal tersebut tidak berjalan manis dan dia harus terlantar di jalanan. Mak (Dewi Irawan) dan Natsir (Ozzol Ramadhan) menemukan Hans tergeletak di jalan dan berinisiatif untuk mengajaknya ke warung padang miliknya. Takana Juo, nama warung padang milik Mak dengan Parmanto (Yayu Unru) sebagai juru masaknya.

Tetapi kedatangan Hans ternyata bukanlah sebuah kabar baik. Rumah Makan Takana Juo memiliki problem dalam kondisi keuangannya. Belum lagi ada rumah makan padang baru yang harus bersaing dengannya. Tentu, Hans menjadi kontradiksi bagi orang-orang yang ada di dalam Takana Juo. Tetapi, Mak tetap mempertahankan Hans yang setidaknya bisa membantunya untuk menemani ke pasar atau sekedar membersihkan rumah makannya. 


?Makanan adalah i?tikad baik untuk bertemu?

Siapa yang tak kenal masakan Padang? Bahkan di pinggiran jalan pun, banyak sekali rumah makan padang berjejeran. Menjadikannya sebagai dasar cerita untuk sebuah film tentu cukup menggairahkan. Masakan berbumbu khas padang itu pun akhirnya bisa kita nikmati lewat layar besar. Tetapi, tentu bukan perkara mudah untuk menjadikan sebuah film bertema kuliner yang benar-benar lezat layaknya sebuah masakan.

Demand yang sudah terbangun dengan cukup baik lewat berbagai media, Tabula Rasa mencoba meyakinkan para calon penontonnya. Dengan gimmick promo yang juga menonjol di antara semua film-film indonesia, tentu Tabula Rasa ingin memberikan sesuatu yang lebih dari sekedar film kuliner. Film debut layar lebar dari Adriyanto Dewo ini, tentu menjadi salah satu sajian hangat di perfilman indonesia dalam genre-nya yang belum banyak ragam.

Tagline di poster Tabula Rasa cukup mewakili apa yang ada di dalam ceritanya. ?Makanan adalah i?tikad baik untuk bertemu? dan masakan khas padang sebagai makanannya. Tabula Rasa bukan hanya sekedar film bertema kuliner dengan gambar-gambar makanan yang menggiurkan saja. Juga memberikan intrik dengan budaya dan keberagamannya yang dipertemukan lewat satu makanan berbumbu dan kaya rasa khas padang. Sajian Tabula Rasa pun juga punya hal tersebut di dalamnya. 


Sebagai karya debut, tentu ini menjadi sebuah karya menjanjikan dari Adriyanto Dewo. Tabula Rasa berhasil meracik bumbu-bumbu itu dengan pas. Film ini pun sesederhana tampilan masakan padang tetapi dibalik kesederhanaan itu ada banyak sekali kekayaan rasa di dalamnya. Tabula Rasa tentu bukan hanya menjadi sebuah film bertema kuliner dengan tampilan saja menggiurkan. Tetapi, ada makna dibalik yang disampaikan dengan cara yang tidak kentara. Mengajak penontonnya menyelami setiap adegan di setiap 100 menitnya itu agar bisa menangkap sendiri pesannya.

Anggap saja para karakter di film ini adalah bahan-bahan dasar untuk memasak. Rempah-rempah dari tanah agraris Indonesia. Mereka sangat beragam, memiliki latar belakang buadaya ataupun agama dan ciri-ciri fisik yang berbeda. Tetapi ketika semua ?bahan? berhasil diracik dan dikolaborasikan, semuanya sangat sedap dipandang dan disantap. Bukankah hidup dalam keberagaman itu sebenarnya begitu indah? Itulah yang coba disampaikan oleh Tabula Rasa.


Tetapi, Tabula Rasa bukanlah film bertema kuliner dengan sajian pop. Sebenarnya, film ini tidak memanjakan penontonnya. Di balik tema-nya yang mainstream itu ada naskah yang ditulis oleh Tumpal Tampubolon yang menyetir Tabula Rasa menjadi film art house. Terlihat cara penuturan film ini yang sebenarnya masih memiliki kesan eksperimental ketimbang ke ranah yang lebih mudah dicerna. Kesan eksperimental itu mungkin tidak akan terasa dominan karena masih ada batasan dalam menyalurkan gaya quirky-nya dalam bertutur di film ini.

Untuk akhirnya bisa mengambil hati penontonnya pun sepertinya masih segmented. Tetapi, kerja keras Adriyanto Dewo berusaha untuk menerjemahkan naskah milik Tumpal Tampubolon ini bisa dibilang berhasil. Toh, Tabula Rasa ini tidak terjerumus terlalu dalam. Karena dengan tema yang seharusnya universal ini, pun harusnya bisa dinikmati oleh segala usia dan kalangan. Bukan hanya sebagian dari penontonnya. 


Character depth pun masih memiliki keterbatasan. Penonton tak bisa masuk lebih dalam lagi agar terkoneksi dengan emosi karakternya. Beruntunglah, kekurangan itu pun bisa ter-cover oleh performa dari jajaran aktor-aktris di film ini. Nama-nama yang ada di film ini mungkin tak eye-catchy, tetapi jangan ragukan performa mereka. Terutama Dewi Irawan yang memerankan sosok Mak dan juga Hans yang diperankan oleh Jimmy Kobogau.

Gambar-gambar indah dari sang DOP ini berperan sangat efektif di film ini. Bagaimana setiap bahan-bahan dapur, makanan-makanan padang seperti rendang atau gulai kepala ikan berhasil memiliki kharismanya. Karena di sinilah bagaimana fenomena foodporn di social media ini berhasil tertangkap lewat gambar bergerak. Alhasil, penonton yang menonton film ini akan merasakan indahnya rendang ataupun gulai kepala ikan. Dengan sesekali membayangkan bau dan rasanya yang akan terasa nikmat saat dihidangkan. Setelah selesai nonton, penonton akan segera mencari rumah makan padang terdekat.


Dengan minimnya keberagaman di tema ini, Tabula Rasa menjadi salah satu cinema gem yang wajib kita santap selagi bisa. Karena, Tabula Rasa bukanlah sekedar tentang sebuah makanan tetapi bagaimana ?Rasa? yang kaya itu sangat penting. Meski penuturan ceritanya yang masih memiliki rasa segmented di dalamnya. Tetapi, Tabula Rasa adalah salah satu karya buatan anak negeri yang patut dapat apresiasi dan perhatian lebih. Selain menggugah selera makan, film ini pun akan menggugah hati penontonnya.

STRAWBERRY SURPRISE (2014) REVIEW : Analogi Cinta dan Stroberi


Jatuh cinta, siapa yang tak pernah merasakan indahnya jatuh cinta? Banyak sekali cerita cinta yang divisualkan untuk film layar lebar. Mulai dari cinta bertepuk sebelah tangan, orang ketiga, dan beberapa konflik cinta yang lainnya yang dekat dengan kehidupan insan manusia sehari-hari. Sineas Indonesia pun juga banyak yang menawarkan film bertema cinta. Beberapa judul film pun mengusung tema cinta dengan konfliknya yang berbeda.

Meski tema cerita cinta cenderung memiliki formula yang klise. Tetapi, sineas Indonesia masih saja menggarap film drama romantis. Begitu pun dengan Hanny R. Saputra, sutradara yang pernah menggarap film Di Bawah Lindungan Ka?bah ini kembali ke jalurnya untuk mengarahkan satu film cinta dewasa. Kembali berkolaborasi bersama Oka Aurora di departemen penulisan naskah, Hanny R. Saputra mengangkat cerita cinta dari buku karangan Desi Puspitasari berjudul ?Strawberry Surprise?.


Aggi (Acha Septriasa) mengibaratkan kisah cintanya seperti sekotak buah stroberi, berharap buah stroberi tersebut manis tetapi asam luar biasa. Kisah cintanya bersama Timur (Reza Rahadian) pun pada awalnya baik-baik saja. Tetapi setelah menjalin hubungan cukup lama dengan kondisi tempat mereka yang berjauhan, mereka pun memutuskan untuk berpisah. Timur masih berharap 5 tahun lagi, Aggi masih sendiri dan menerimanya kembali.

5 Tahun berikutnya, Timur kembali menagih janji dari Aggi. Berharap Aggi masih sendiri dan mengajaknya untuk kembali menjalin hubungan. Beberapa minggu, Timur terus mengejar dan menagih cerita Aggi bersama mantan-mantannya. Aggi masih mempertimbangkan kelanjutan hubungannya Timur. Timur pun merelakan apapun agar bisa kembali bersama Aggi. 


Kejutan yang manis di genre ini.

Film bertema cinta milik sineas indonesia memang cukup banyak dibuat. Tetapi, ada berapa yang bisa menancap di hati penontonnya? dan kapan terakhir kali anda menontonnya? Memang judul-judul film romansa cinta Indonesia memang tak banyak yang bisa menancap di hati penontonnya. Hanny R. Saputra sudah banyak sekali mengarahkan film-film cinta di awal-awal debutnya sebagai sutradara. Heart, Love Is Cinta, dan Love Story adalah trilogi LOVE miliknya

Maka, sudah bukan hal baru lagi bagi Hanny R. Saputra untuk mengarahkan film yang diadaptasi dari buku milik Desi Puspitasari, Strawberry Surprise. Film bertemakan cinta biasanya memiliki formula dan template yang sama dari satu film ke film yang lain. Begitu pun dengan Strawberry Surprise, dari sinopsis pun kita bisa tahu bagaimana film ini akan berjalan. Tetapi, ada yang berbeda dengan Strawberry Surprise. Sesuatu yang benar-benar mengejutkan yang patut untuk anda simak setiap menitnya.

Jika anda sudah pernah melihat sekilas dari Strawberry Surprise lewat trailernya, anda akan tertipu. Trailer film ini memang terkesan biasa saja, tipikal film-film cinta yang gampang dilupakan. Tetapi ketika menonton film ini secara penuh di bioskop, Strawberry Surprise benar-benar tampil di luar dugaan dari trailernya yang biasa saja. Strawberry Surprise memiliki jalinan cerita yang disampaikan cukup rapi kepada penontonnya. Penonton akan dengan mudah hanyut dengan kisah cinta milik Aggi dan Timur. 


Oka Aurora berhasil mengadaptasi buku milik dari Desi Puspitasari ini dengan baik. Dialog-dialog dinamis tentang cinta yang dianalogikan sebagai sekotak buah stroberi dan dialog-dialog lainnya pun meninggalkan kesan manis untuk penontonya. Dialog-dialog yang bisa dikutip dan beberapa akan menohok penontonnya yang memiliki cerita yang sama dengan Aggi dan Timur. Hubungan jarak jauh yang membutuhkan kepercayaan satu sama lain agar bisa bertahan. Ya, penonton pun akan dengan mudah terwakili lewat karakter Aggi dan Timur.

Strawberry Surprise pun berjalan apa adanya tanpa kesan berlebihan di 90 menit filmnya. Hanny R. Saputra pun berhasil berkolaborasi dengan naskah yang ditulis oleh Oka Aurora. Hasilnya, tidak ada kesan over-dramatic, semuanya berjalan sederhana tetapi berhasil meninggalkan kesan manis yang cukup dalam untuk film ini. Hanny R. Saputra berhasil mengarahkan filmnya agar penonton bisa terkoneksi dengan karakter-karakternya. Karena setiap adegan di Strawberry Surprise begitu terasa emosinya. 


Strawberry Surprise tidak seluruhnya sempurna, masih ada beberapa minor kecil di dalamnya. 20 menit pertama film ini mungkin masih sedikit kacau. Strawberry Surprise mencoba menggunakan alur campuran untuk menceritakan setiap detil latar belakang karakternya. Editing dan penuturannya sedikit kacau sehingga penonton awam akan sedikit kebingungan dengan apa yang terjadi dengan Aggi dan Timur. Tetapi semakin bertambah durasinya, Strawberry Surprise menemukan iramanya dan berjalan dengan sangat baik.

Pun dengan karakter-karakter pendukungnya yang juga masih terkesan one dimensional. Karakter yang diperankan oleh Olivia Jensen, Inda pun masih ragu di dalam film ini. Karakter yang diperankan oleh Olivia Jensen mungkin akan berpotensi sebagai penguat karakter Timur tetapi kurang digali lebih oleh Hanny R. Saputra. Beberapa konflik antara Timur dan Inda pun seperti ada yang menahan, mungkin agar tidak terlalu membuat film ini menjadi over dramatic dan terlalu klise. Dia lebih memfokuskan Strawberry Surprise kepada kisah cinta Timur dan Aggi. 


Dan beruntunglah, Strawberry Surprise memiliki pemilihan aktor dan aktris yang tepat sehingga menambahkan kesan manis di dalam filmnya. Acha Septriasa dan Reza Rahadian mungkin pernah bermain dengan sangat bagus di film Test Pack. Dan sekali lagi, chemistry kuat itu mereka tampilkan di film ini. Mereka sangat berhasil membawa suasana haru dan romantis dengan sangat kuat bukan secara berlebihan. Sehingga penonton akan dengan mudah ikut tersenyum lantaran jalinan cerita cinta mereka yang penuh perjuangan. 


Maka tak salah, di tengah minimnya film-film cinta milik sineas Indonesia, Strawberry Surprise mampu menjadi salah satu yang terbaik di genre-nya tahun ini bahkan beberapa tahun terakhir. Sebuah kejutan manis hasil kolaborasi Hanny R. Saputra dan Oka Aurora yang mengantarkan kisah asam manis cinta yang memorable. Asam manis cinta milik Aggi dan Timur yang diibaratkan lewat sekotak buah stroberi ini akan mampu membuat penontonnya tersenyum.

PENDEKAR TONGKAT EMAS (2014) REVIEW : Misi Menghidupkan Kembali Seni Bela Diri


Martial Arts kembali dikenalkan kepada penonton lewat beberapa film yang menonjolkan gerakan laga menarik. Perpaduan Martial Arts dengan drama mafia pun coba dikembangkan lewat The Raid yang ditangani oleh Gareth Evans, meskipun sutradara film ini bukan asli Indonesia. Maka, penonton perlu diyakinkan bahwa sineas Indonesia mampu menyajikan film-film berkualitas dengan tangannya sendiri. Maka, Miles Films berkolaborasi dengan Ifa Isfansyah mencoba untuk menghidupkan Martial-Arts kolosal lewat film terbarunya.

Pendekar Tongkat Emas, sebuah tribute kepada film-film laga Indonesia lawas yang terlihat digarap serius di tangan-tangan pelaku balik layarnya. Sumba, Nusa Tenggara Timur dijadikan latar tempat cerita dengan kekayaan alamnya yang indah. Dengan para lakon di dalam film yang sudah memiliki nama di industrinya, membangun pondasi yang bagus bahwa film Pendekar Tongkat Emas bukanlah film yang digarap sembarangan. 


Dimulai di sebuah perguruan silat yang dikepalai oleh Cempaka (Christine Hakim), Perguruan Tongkat Emas yang memiliki empat murid dengan latar belakang yang berbeda. Masing-masing adalah anak dari musuh-musuh cempaka yang diangkat sejak kecil. Mereka berempat adalah Biru (Reza Rahadian), Gerhana (Tara Basro), Dara (Eva Celia), dan Angin (Aria Kusumah). Cempaka merasa Perguruan Tongkat Emas ini sudah waktunya untuk melakukan regenerasi.

Tongkat Emas turun temurun milik perguruan itu dipindah tangankan kepada salah satu murid dari perguruan. Dara mendapatkan kehormatan untuk mendapatkan tongkat emas tersebut. Biru dan Gerhana tidak terima dengan keputusan Cempaka memberikan tongkat emas kehormatan tersebut kepada Dara. Gerhana dan Biru mencoba untuk melakukan usaha balas dendam untuk merebut Tongkat Emas tersebut dan menunjukkan bahwa mereka lah yang terkuat. 


Film dengan tema seperti ini mungkin tidak terlalu dekat dengan penontonnya di generasi yang sudah ter-modernisasi. Akan sangat susah untuk di zaman yang sudah berbeda ini untuk mengetahui seperti apa film-film laga silat yang pernah mahsyur di zamannya. Tentu, Pendekar Tongkat Emas memiliki tugas yang berat untuk melakukan dari awal lagi dalam membangun citra untuk genre film serupa di zaman yang sudah mulai berubah ini.

Ketika penonton awam mendengar judul Pendekar Tongkat Emas pun akan muncul kecanggungan di telinga mereka. Penonton merasakan culture-shock karena belum terbiasa dengan munculnya genre-genre baru yang semakin mewarnai industri perfilman di Indonesia. Miles Films pun memiliki strategi yang taktis untuk membangun citra film ini dengan nama-nama yang menarik perhatian di jajaran pelakon filmnya. Tetapi tanpa nama Ifa Isfansyah, Mira Lesmana dan Riri Riza, Pendekar Tongkat Emas hanyalah film yang akan mendapatkan tatapan sinis dari penontonnya.

Apa yang diharapkan dari sebuah film dengan tema Martial Arts di dalamnya? Cerita dengan terobosan baru dengan penyelesaian yang berlapis? Bukan, Pendekar Tongkat Emas memiliki premis cerita sederhana dikemas menarik lewat selipan seni bela diri kedaerahan yang kental akan budaya. Maka, kekuatan dari Pendekar Tongkat Emas adalah bagaimana seni bela diri itu berhasil memberikan atmosfir berbeda kepada penonton di sebuah layar lebar. 


Pendekar Tongkat Emas mungkin masih akan mempunyai keterbatasan dalam menyampaikan narasinya. Terlebih, dalam menyampaikan setiap cerita untuk masing-masing karakter di dalam filmnya. Masih ada keraguan untuk memperdalam lagi siapa itu Cempaka, Elang, Gerhana, Dara, Biru, dan Angin. Pun akan berpengaruh terhadap kelangsungan setiap menitnya karena penonton akan masih sangat susah untuk masuk ke dalamnya.

Meski dengan cerita tanpa kedalaman yang kuat, Pendekar Tongkat Emas masih menyelipkan pesan yang direpresentasikan lewat medium gambar dan karakternya. Hanya Pendekar Tongkat Emas yang fokus kepada detil-detil kecil yang sebenarnya bukanlah bagian dari ceritanya sendiri. Proses penyampaian sebuah pesan dari sang sutradara pun terwakilkan lewat nama-nama para karakternya yang memiliki muatan filosofis. Para nama karakter di sini memiliki pesan menarik kepada penontonnya untuk diinterpretasikan.

Nama Elang menunjukkan karakternya yang kuat dengan mata yang tajam layaknya burung elang. Diperkuat lewat adegan yang menangkap warna mata coklat milik karakter Elang. Nama Dara menunjukkan masih adanya kesucian di dalam karakternya yang digambarkan dengan karakterisasi yang sama dengan tokoh yang diperankan oleh Eva Celia. Tetapi, berbeda dengan Biru. Ketika Biru yang memiliki arti ketenangan dan dikaitkan dengan hal baik, tetapi karakter Biru memiliki sesuatu yang kontradiktif dengan apa yang biasanya direpresentasikan. 


Karakter Biru yang memiliki latar belakang sebagai anak dari musuh dari Cempaka ini memiliki benang merah dengan hal kontradiktif antara nama Biru dengan karakterisasinya. Menunjukkan bahwa adanya keironisan yang terjadi di antara dua hal yang berseberangan itu. Hal tersebut terlihat sangat menarik untuk menjalankan cerita di dalamnya. Serta, adanya kesamaan peran Cempaka dan Dara. Mereka memiliki jalur cerita yang sama yang menunjukkan bahwa pada akhirnya mereka akan kembali kepada dasar atau pondasi yang dibangun di dalam diri mereka

Sebagai film dengan tema Martial Arts, Pendekar Tongkat Emas bisa dikatakan berhasil menjalankan misinya dengan baik, bahkan sangat baik. Segala jenis koreografi silat menggunakan tongkat ini berhasil membuat penonton terperangah di setiap adegannya. Penonton awam memang tak bisa menyadari adanya beberapa tribute di genre yang serupa, tetapi misi Pendekar Tongkat Emas juga untuk meyakinkan penonton agar bisa terima dengan genre seperti ini. Karena bukan tidak mungkin, film-film seperti ini akan ada di setiap tahunnya. 


Tak usah khawatirkan performa pelakonnya yang sudah memiliki nama besar di industri perfilman Indonesia. Nicolas Saputra, Reza Rahadian, dan Tara Basro dengan sangat mudah memerankan karakter fiktif karangan Ifa Isfansyah di dalam Pendekar Tongkat Emas. Begitu pun dengan Eva Celia, meski historinya di dalam sebuah film masih sedikit, tetapi Eva Celia juga sangat berhasil menjadi sosok Dara yang menunjukkan adanya transisi karakter yang semakin lama semakin matang atau dewasa.

Kemasan Pendekar Tongkat Emas pun diperkuat dengan setting tempat alam Sumba yang indah dan menawan. Menggunakan teknik time lapse dan beberapa shoot indah dari Director of Photography yang dapat menangkap potensi alam Sumba yang hijau dan menawan. Begitu pun dengan editing adegan aksinya yang dapat menutupi kurang piawainya para pemain film ini dalam melakukan koreografi seni bela diri silat di dalam filmnya. Dan jangan lupakan production value yang dibuat sanat tidak sembarangan dengan detil-detil yang memperkuat atmosfir Pendekar Tongkat Emas sendiri. 


Pendekar Tongkat Emas mendapat misi mulia untuk menghidupkan kembali genre ini di tengah industri perfilman yang semakin modern. Beruntung, orang-orang yang menangani film ini adalah Miles Films dan Ifa Isfansyah yang notabene adalah kompeten di bidangnya. Pendekar Tongkat Emas pun sangat berhasil menjalankan misinya untuk menghidupkan film ini di era yang sudah berubah. Meski masih ada kekurangan dalam memberikan kedalaman cerita. Pendekar Tongkat Emas adalah film anak negeri yang sangat patut untuk diapresiasi karena bukan dibuat dengan sembarangan. 

THE HOBBIT : THE BATTLE OF FIVE ARMIES (2014) REVIEW : Last Chapter of Bilbo?s Journey [With HFR 3D Review]


The Hobbit sama-sama diangkat dari novel milik J.R.R Tolkien. Bedanya, The Hobbit hanya memiliki satu buku yang dibagi menjadi tiga bagian, tak seperti Trilogi The Lord of The Rings yang memiliki seri yang berbeda-beda. Tentu, bukan keputusan yang bijak dari Peter Jackson untuk membagi satu buku menjadi 3 bagian yang masing-masing memiliki durasi sektar 150 sampai 165 menit. Hanya dengan satu buku, The Hobbit akan terkesan minim sekali konflik.

Tiga tahun adalah waktu yang dibutuhkan oleh Peter Jackson untuk menjalankan cerita yang minimalis dari Bilbo Baggins. Perlu satu tahun untuk menunggu episode terakhir dari perjalanan Bilbo Baggins dan para dwarfs untuk menyelesaikan misinya. Trilogi The Hobbit menjadi cerita prekuel dari trilogi The Lord of The Rings yang juga diarahkan oleh Peter Jackson. Tetapi, sambutan positif tak lantas mengiringi setiap seri dari The Hobbit sendiri. 


Dua tahun lalu, An Unexpected Journey diedarkan dengan cliffhanger ending yang cukup smooth. Bilbo Baggins pun melanjutkan misinya dalam seri The Desolation of Smaug yang mulai memberikan easter egg sedikit demi sedikit kepada The Lord of The Rings. The Battle of Five Armies, seri ketiga ini melanjutkan dari seri The Desolation of Smaug. Di mana,  Bilbo Baggins (Martin Freeman) yang sudah berada di daerah kelahiran para dwarfs. Smaug yang marah menyerang kawasan sekitar dan membuat segalanya luluh lantak.

Tetapi, masalah utama ternyata bukan pada naga Smaug yang telah mencuri dan menguasai istana mereka terdahulu. Akan ada masalah yang lebih besar yang harus dihadapi oleh para dwarfs setelah berhasil menguasai kembali istananya. Masalah besar tersebut melibatkan lima sekutu yang berbeda dan terjadi perang yang sangat besar di antara mereka. Middle-Earth tentu sedang dalam guncangan yang hebat dikarenakan perang dari lima sekutu yang berbeda di atas tanah mereka. 


The Battle of Five Armies mengalami perubahan nama judul yang sebelumnya adalah There and Back Again. Ya, perubahan nama itu memang dirasa perlu agar penonton merasakan bahwa penutup dari trilogi ini akan menjanjikan sesuatu yang sangat besar. Kata ?Battle? yang berarti perang tentu akan dengan mudah menarik perhatian penonton agar menyaksikan babak terakhir petualangan Bilbo Baggins dan para dwarfs yang sudah mencapai titik puncaknya.

The Battle of Five Armies pun memiliki durasi yang paling pendek di antara dua seri lainnya. Dalam durasi yang mencapai 150 menit, The Battle of Five Armies pun hanya menitikberatkan filmnya pada adegan aksi yang digarap grande. Final Battle di film ini pun digarap serius yang akan memanjakan para penonton yang sudah mengidam-idamkan adegan perang sejak An Unexpected Journey dirilis. Tetapi, penonton tampaknya harus bersabar hingga The Battle of Five Armies ini datang dan memuaskan mereka yang haus akan itu.

Peperangan antara lima sekutu perang ini pun berlangsung hampir 45 menit filmnya. Tetapi, 105 menit sisanya masih harus mengurusi penyelesaian dari konflik yang disebarkan di kedua film terdahulunya. Tetapi, Peter Jackson pun masih kebingungan mau konflik seperti apa lagi yang mau dia sampaikan di film ini agar dapat memenuhi durasi. Dengan hanya bermodalkan satu buku sebagai kiblat ketiga filmnya yang berdurasi panjang, tentu The Battle of Five Armies ini sebenarnya akan lebih efektif jika dimampatkan ke dalam kedua seri sebelumnya. 


Tetapi, The Battle of Five Armies bukanlah sebuah penutup yang buruk. Bahkan, performa The Battle of Five Armies bisa dikatakan bisa lebih smooth ketimbang The Desolation of Smaug. Segala bentuk adventure di dunia Middle-Earth ini bisa menjadi sajian yang sangat menghibur dan bisa dinikmati hingga akhir. Meskipun masih ada momen up and downs karena durasi yang cukup lama dalam bertutur, namun The Battle of Five Armies menyimpan segala bentuk adegan mengejutkan di dalam Final Battle sequence-nya.

The Battle of Five Armies menjadi sebuah penutup trilogi The Hobbit yang manis. Tanpa sengaja, seri penutup ini akan mempersuasi penontonnya untuk membuka lagi kenangan trilogi The Lord of The Rings dan menyaksikan seri itu kembali. Karena pesona Middle-Earth dalam buku J.R.R Tolkien ini memang luar biasa dan selalu menempel di otak penontonnya meski sudah 10 tahun lalu film-film itu dibuat. 


Tapi perlu adanya garis bawah untuk trilogi The Hobbit ini. The Hobbit adalah sebutan untuk para penghuni middle earth dengan kakinya yang besar dan tinggi badannya yang pendek. Dengan menggunakan kata The Hobbit di setiap judulnya, tentu perlu ada sesuatu performa yang lebih besar yang ditujukan kepada sosok Bilbo Baggins yang mewakili ras Hobbit itu sendiri. Tetapi, hal itu dihiraukan oleh Peter Jackson dan akhirnya The Hobbit hanyalah adaptasi sebuah judul dari buku J.R.R. Tolkien tetapi tak memberikan ruang untuk sosok Hobbit bernama Bilbo Baggins untuk berkembang.

Di dalam An Unexpected Journey, karakter Bilbo masih diberikan kendali yang lebih kuat untuk menjalankan ceritanya. Hal itu dapat digunakan sebagai pegangan bahwa The Hobbit ini perlu untuk diangkat versi layar lebar. Tetapi, kesalahan itu sudah terjadi semenjak The Desolation of Smaug. Di mana, Bilbo Baggins pun harus kalah pamor, kalah saing, dan kalah screening time dengan karakter-karakter baru lainnya seperti Legolas, Bard, bahkan para Dwarfs. Bilbo tidak diberi ruang untuk menjadi sosok yang penting untuk filmnya. 


Begitu pun di dalam seri penutupnya, karakter Bilbo Baggins pun semakin lama semakin turun pamor. Kegunaannya di dalam seri ini pun tertutupi karakter lain yang semakin mendapatkan spotlight lebih. Peter Jackson pun tak mencoba untuk memberikan kesan yang baik kepada sosok Bilbo Baggins yang seharusnya menjadi karakter utama jika dilihat dari judulnya. Tetapi, malah semakin tenggelam dari satu seri ke seri lainnya dan penonton akan mengenang karakter seperti Kili dan Fili ketimbang Bilbo Baggins yang seharusnya menjadi penggerak narasinya sejak awal. 


The Hobbit : The Battle of Five Armies ini pun benar-benar hanya menyelesaikan semua konflik yang sudah disebar di dua seri pendahulunya. Dengan final battle sequence-nya yang dieksekusi secara grande, tentu hal ini akan memuaskan penonton yang sudah mengidam-idamkan hal ini di dua seri sebelumnya. Dengan berbagai minor kecil di segala aspeknya, The Hobbit : The Battle of Five Armies ini adalah sebuah penutup yang manis yang dapat membuka memori penontonnya untuk menyaksikan kembali trilogi The Lord of The Rings


Seperti seri sebelumnya, The Hobbit : The Battle of Five Armies pun dirilis dalam format 3D. Tetapi, memiliki banyak jenis format 3D yaitu IMAX 3D, HFR 3D, dan IMAX HFR 3D. Berikut adalah review The Hobbit : The Battle of Five Armies dalam format HFR 3D.

DEPTH
The Hobbit : The Battle of Five Armies memiliki kedalaman yang sangat luar biasa jika disaksikan dalam format HFR 3D. Segalanya akan terasa dekat dan riil.

POP OUT
Banyak sekali adegan Pop Out dalam The Hobbit : The Battle of Five Armies yang menyapa mata penontonnya. Terlebih dalam adegan final battle yang sangat memaksimalkan efek pop out dalam format tiga dimensinya.
 
Dengan terobosan terbaru dalam format tiga dimensinya, The Hobbit : The Battle of Five Armies sangat direkomendasikan untuk disaksikan dalam format HFR 3D. Akan menambah suasana battle yang terasa lebih nyata jika dibandingkan bila disaksikan dalam format dua dimensi.

HIJAB (2015) REVIEW : Instagram Phenomenon on Big Screen


Instagram memunculkan banyak sekali fenomena di dalam barisan linimasanya. Mulai dari foto fashion, food, dan landscape dijadikan sebuah tren di masing-masing akun sebagai basis foto mereka. Juga,  para pebisnis online shop yang mulai menggunakan media sosial berbasis foto ini untuk menunjukkan barang dagangannya. Belum lagi fenomena OOTD atau Outfit Of The Day, saling berbagi apa yang sedang dipakai juga menjadi sesuatu yang sedang booming dilakukan oleh para pengguna instagram.

Munculnya fenomena-fenomena di bidang fashion di sebuah sosial media yang semakin berkembang ini, memunculkan sebuah ide bagi Hanung Bramantyo untuk menelurkan karya terbaru. Hijab, karya terbaru milik Hanung Bramantyo ini pun dibantu oleh sang istri, Zaskia Adya Mecca dalam pembuatan filmnya. Hijab menjadi salah satu fashion yang sedang digandrungi di mayoritas penduduk Indonesia. Munculnya kelompok-kelompok pecinta dan pengguna Hijab atau Hijabers ditargetkan untuk menjadi pangsa film ini. 


Dengan banyaknya fenomena mulai fashion, hijab, OOTD, hingga bisnis online, Hijab menggunakan hal-hal itu untuk basis cerita di filmnya. Menceritakan empat orang sahabat, Sari (Zaskia Adya Mecca), Bia (Carissa Puteri), Tata (Tika Bravani) dan Anin (Natasha Rizki). Sari adalah seorang istri dari Gamal (Mike Lucock), arab kolot yang menjalani hidupnya berdasarkan syariat islam yang benar. Tata, Seorang istri dari fotografer jurnalis, Ujul (Ananda Omesh). Bia, istri seorang artis sinetron terkenal bernama Mat Nur (Nino Fernandez).

Anin, masih sendiri dan belum siap berkomitmen jauh tetapi sudah menjalin hubungan dengan sutradara kontroversial bernama Chaky (Dion Wiyoko). Sari, Bia, dan Tata ingin tidak selalu bergantung dengan suaminya, mereka ingin memiliki penghasilan sendiri. Akhirnya mereka bertiga memutuskan untuk membuat usaha yang tidak membuat mereka repot dan Anin membantu mereka. Usaha kecil-kecilan lewat online shop ini pun menghasilkan sesuatu. Meski, mereka bertiga harus berbohong dengan suami mereka sendiri. 


Dengan judul Hijab, mungkin memiliki kesan terlalu religius dan menawarkan sesuatu yang dramatisir, nyatanya tidak. Hanung Bramantyo sendiri menegaskan bahwa Hijab akan dibuat menjadi sebuah film komedi yang segar. Hanung Bramantyo dan film komedi? Oh, jangan salah. Film komedi adalah awal mula Hanung Bramantyo menitih karir. Jomblo, Catatan Akhir Sekolah, dan yang paling laris adalah Get Married. Semuanya ber-genre komedi dan di genre tersebut, Hanung Bramantyo bisa menghasilkan sesuatu yang maksimal.

Lewat trailer yang dirilis, Hijab memiliki premis cerita yang menarik. Ada sesuatu yang berbeda yang dijanjikan oleh Hanung Bramantyo di dalam film terbarunya ini. Hijab pun mengingatkan penontonnya dengan film-film Hanung Bramantyo sebelumnya dan para penonton sudah rindu akan ?Hanung yang dulu?. Benar saja, eksekusi di 90 menit film Hijab ini sama seperti apa yang ditawarkan oleh trailernya. Hijab adalah sebuah film yang sangat segar dan menyenangkan untuk diikuti.

Tidak ada yang berlebihan di dalam film Hijab ini semua diatur dengan porsi yang sangat pas. Tidak ada air mata palsu yang diekspos terlalu sering dengan iringan scoring yang serba grande dan over used. Meski konflik di dalam film ini bisa dibilang cukup kompleks, tetapi film ini memiliki cara untuk mengemas filmnya agar semuanya terlihat sederhana. Hijab pun menjadi sajian yang segar dan guyonan yang tak luput mengundang tawa penontonnya. 


Sindiran-sindirian tajam dengan balutan komedi juga menjadi senjata andalan dari film Hijab. Sekali lagi isu wanita dan agama masih menjadi poin penting di film ini.. Bagaimana seorang wanita yang berakhir hanya menjadi seorang Ibu Rumah Tangga biasa yang sebelumnya memiliki karir yang bersinar sesaat setelah menikah. Semua digambarkan kepada karakter Sari, Bia, dan Tata sebagai representasinya. Belum lagi, bagaimana syariat Islam mampu beradaptasi dengan zaman yang sudah mulai modern ini.

Ada isu agama, terutama agama Islam yang memang sudah mutlak, tidak bisa diganggu gugat. Di film ini pun ditunjukkan bagaimana pada akhirnya syariat Islam yang mutlak itu pun bisa beradaptasi di era globalisasi ini. Bagaimana kewajiban seorang wanita untuk berjilbab atau berhijab di dalam ajaran Islam akhirnya bisa menggunakan jilbab atau hijab tersebut menjadi sebuah fashion, menjadi sebuah tren yang akhirnya mengundang orang untuk ramai-ramai mulai menggunakannya.

Juga masih ada beberapa sindiran di industri perfilman dan curhatan dari seorang sutradara itu sendiri. Hanung yang sering disebut sutradara kontroversial direpresentasikan lewat karya-karya milik karakter Chaky. Juga, adanya kritik dengan film-film non-komersil yang dianggap memiliki kualitas yang lebih baik daripada film komersil. Tetapi, semua sindiran dengan isu yang berbeda itu dikemas lewat komedi yang sangat menyenangkan. 


Meskipun porsi komedi yang terlalu dominan di awal film ini, terkadang terjebak dengan komedi slapstick lengkap dengan musik yang komikal ini membuat beberapa bagian film ini terkesan tersendat-sendat. Akhirnya setelah beberapa menit filmnya, Hijab tahu bagaimana ritme dan tempo dari filmnya. Tak hanya melulu komedi, ada drama persahabatan yang memiliki turning point untuk filmnya. Meski masih terselip satu scoring khas yang grande saat film ini memiliki turning point.

Film Hijab pun didukung dengan teknis yang sangat baik di bagian Director of Photography-nya. Hijab yang mengusung tren dari sosial media, Instagram pun memiliki gambar yang sangat indah layaknya foto-foto miliki seleb instagram. Faozan Rizal berhasil mengadaptasi gambar-gambar ala Seleb Instagram ke sebuah gambar bergerak dengan komposisi yang sangat bagus. Sehingga, gambar-gambar di film ini bisa memanjakan mata penontonnya. 


Jangan lupakan para ensemble cast di film ini yang seperti bermain dengan sangat baik untuk menghidupkan film ini yang memiliki dialog yang dinamis. Zaskia Adya, Carissa Puteri, Tika Bravani, dan Natasha Rizky berhasil memiliki chemistry untuk meyakinkan penontonnya bahwa mereka bersahabat. Juga dengan barisan para suami seperti Mike Lucock, Nino Fernandez, Ananda Omesh, dan Dion Wiyoko yang berhasil membaur dengan suasana di film ini. Semua tampil tanpa beban dan lupa mereka sedang di depan kamera. Belum lagi special appearance mulai Sophia Latjuba, Jajang C. Noer, hingga seleb instagram fenomenal Dijahyellow ikut hadir untuk meramaikan film ini. 


Untuk melepas rindu dengan Hanung Bramantyo yang dulu, Hijab adalah karya miliknya yang sangat menyenangkan. Mengangkat fenomena fashion, outfit of the day, dan online shop lewat media sosial berbasis foto, Instagram, dengan kemasan yang menyenangkan. Film komedi dengan sindiran-sindiran tajam dengan isu-isu yang berat dan didukung dengan sinematografi indah milik Faozan Rizal ini berhasil menjadi salah satu karya terbaik milik Hanung Bramantyo.  

FAST & FURIOUS 7 (2015) REVIEW : One Last Ride, For Paul


Sebagai salah satu franchise terbesar di perfilman Hollywood dan sudah mencapai seri ke enam, Fast & Furious tentu memiliki banyak fans setia. Meski, pakem cerita dari Fast & Furious pertama hingga seri terakhirnya sudah memiliki banyak perbedaan. Tetapi, Fast & Furious tetap saja menjadi salah satu franchise yang dinantikan kemunculannya bagi semua orang dengan timeline cerita yang mulai menarik. Terlebih, dengan mid-credit scene di seri ke enamnya.
 
Tahun ini, Fast & Furious hadir dengan seri terbarunya untuk melanjutkan timeline cerita dari Fast & Furious 6. Justin Lin, sebagai sutradara, meninggalkan seri ini dan memindah tangankan tempat tertinggi itu ke tangan James Wan. Film ini pun sempat sedikit terhambat karena kabar duka yang menimpa salah satu pemainnya. Paul Walker, salah satu pemeran utama di film ini meninggal akibat kecelakaan mobil di saat proyek film ini sedang berjalan. 


Setelah timeline cerita yang memiliki kesinambungan yang menarik, di Fast & Furious 7 melanjutkan kisah dari seri nomor 6 dan berkesinambungan dengan seri yang ketiga. Di mana, Deckard (Jason Statham) membalaskan dendam adiknya yang sudah di serang oleh Dom (Vin Diesel), Brian (Paul Walker), Hobbs (Dwayne Johnson) serta kawanannya. Hidup mereka pun penuh dengan ancaman yang datang silih berganti yang disebabkan oleh Deckard.

Setelah kejadian na?as yang menimpa Hobbs, Dom dan Brian memutuskan untuk memburu Deckard untuk menangkapnya. Tetapi di tengah misinya untuk memburu Deckard, Dom dan Brian diberi tugas untuk mengambil barang yang sudah meretas sistem keamanan negara. God?s Eye, suatu sistem yang dapat menjadikan apapun menjadi sebuah ?senjata? ampuh untuk mengetahui keberadaan musuh. Dom dan Brian tahu hal tersebut berguna untuk memburu Deckard dan mau menerima misi tersebut.


Setelah Fast Five yang telah mencapai titik paling tinggi dari segala aspek filmnya, tentu mustahil ada seri lain dari film ini yang bisa melampaui seri kelima dari Fast & Furious. Benar juga, Fast & Furious 6 mengalami sedikit kemunduran jika dibandingkan dengan seri kelimanya. Tangan hangat Justin Lin memang bisa membuat franchise Fast & Furious naik level. Meskipun, para fans akan merasa kecewa karena hilangnya pakem ?balapan? yang ditawarkan sejak seri pertama. Tetapi, hal tersebut sudah diperbaiki lewat seri ke enam yang kembali menghadirkan pakem tersebut.

Maka, setelah kepergian Justin Lin dari bangku sutradara, Furious 7 pun berpindah tangan ke James Wan yang biasa menangani film-film horor. Hal ini pun membuat para penonton skeptis bahwa Furious 7 akan bisa tampil prima layaknya kedua seri sebelumnya. Tak di sangka, Furious 7 menjadi salah satu seri terbaik dari aksi Dom dan Brian. Memang tak tampil se-prima Fast Five dalam segi cerita, tetapi Furious 7 memberikan sesuatu yang lebih gila dan berbeda dibandingkan seri lainnya.

Jangan ragukan Fast & Furious dalam memberikan sekuens-sekuens gila menggunakan mobil balap. Akan selalu ada inovasi di setiap serinya saat mengendarai mobil balap. Begitu pun dengan seri terbaru dari franchise ini, James Wan memberikan kegilaan tanpa batas yang memang akan berada di luar logika manusia. Tetapi, inilah tujuan dari franchise ini bukan? Menyajikan kegilaan tanpa batas yang akan membuat penontonnya merasakan sensasi menyenangkan saat menontonnya. 


Akan ada banyak adegan dengan level kegilaan yang sangat besar dan megah. Bagusnya, James Wan pun bisa menghadirkan nyawa ke dalam setiap adegan sehingga rangkaian adegan itu tak hanya menjual kemegahannya tetapi juga ada tensi yang pas di dalamnya. Dan hal ini akan berdampak pada respon penonton yang tak akan berhenti berdecak kagum dan takjub dengan sekuens menyenangkan yang ditawarkan oleh James Wan ke dalam Fast & Furious 7.

Tak hanya decak kagum, tetapi ada sisi emosional yang akan terasa berbeda jika dibandingkan seri-seri sebelumnya. Untuk mengenang Paul Walker, James Wan dan Chris Morgan memberikan adegan penutup yang bisa membuat penontonnya menitihkan air mata. Pintarnya, mereka mengemas adegan perpisahan dengan Paul Walker dengan elegan. Mengemasnya lewat dialog-dialog indah penuh simbol dan makna yang dalam tentang suatu perpisahan dengan seorang sahabat. 


Furious 7 memang tak bisa serapi Fast Five dalam menjalankan setiap ceritanya. Terlalu banyak subplot cerita yang akhirnya membuat Furious 7 pun memiliki masalah dengan lubang-lubang di setiap ceritanya. Akhirnya, beberapa karakter pun memiliki kurang memiliki motivasi kenapa akhirnya dia harus ada di dalam filmnya. Pun, di sekuens paling akhir, akan terasa adanya tarik ulur emosi yang kurang tertangani dengan baik oleh James Wan. Dan hal itu disebabkan karena banyaknya Side Plot yang ditulis oleh Chris Morgan di dalam naskahnya yang tampil kurang rapi.

Naskah milik Chris Morgan pun memang sengaja tampil ringan dan biasa saja dengan penuh konflik klise yang pernah penontonnya lihat di berbagai film serupa. Ayolah, apakah kalian mengharapkan sesuatu penuh twist and turn untuk film Furious 7 agar bisa terlihat bagus? Toh, dengan segala macam plot yang ringan, James Wan masih bisa memberikan segala tensinya yang menyenangkan dan emosional sehingga Furious 7 bisa tampil prima dengan naskah dan plot yang ringan. 


Memang, Furious 7 tak bisa tampil serapi Fast Five yang sudah berada di level yang paling atas dari Franchise ini. Beberapa penuturan kisahnya mungkin akan terkesan masih berantakan sehingga terasa mengendur di adegan final-nya. Tetapi, James Wan berhasil membuat Furious 7 berada sedikit di bawah Fast Five dengan segala sekuens-sekuens gila yang didukung dengan camera work yang mendukung hal gila itu. James Wan berhasil menjadikan Furious 7 lebih terkenang di hati penontonnya and For Paul.