Showing posts with label 4.5 stars. Show all posts
Showing posts with label 4.5 stars. Show all posts

Wednesday, 9 December 2015

THE HUNGER GAMES : MOCKINGJAY PART 2 (2015) REVIEW : The Satisfying Finale [With IMAX 3D Review]


Perjuangan Katniss Everdeen, sang Gadis Api menuju pada babak terakhir. Setelah mendapatkan cerita yang menjembatani perjalanan terakhir dari Katniss Everdeen ini lewat Mockingjay Part 1 pada tahun 2014, jelas The Hunger Games : Mockingjay Part 2 adalah salah satu film yang sangat dinantikan di tahun ini. Penonton ingin mencari tahu bagaimana kelanjutan dari cerita Katniss Everdeen yang  ditutup dengan penuh pertanyaan di bagian pertama.
 
The Hunger Games : Mockingjay Part 2 kembali disutradarai oleh Francis Lawrence yang mulai dipercayai menangani seri ini lewat The Hunger Games : Catching Fire. Jennifer Lawrence pun tetap menjadi sosok Katniss Everdeen dan mentransfrormasi dirinya menjadi simbol aktris blockbuster yang memiliki efek besar. Jelas, sosok Katniss akan menjadi salah satu karakter yang berarti dalam rekam jejak pamor dari Jennifer Lawrence.

Di bagian pertama, Mockingjay berubah menjadi sebuah drama penuh intrik politik yang membuat sebagian orang kurang menyukai film ini. Mockingjay Part 1 hanyalah sebuah cerita pengenalan atas konflik-konflik yang akan dihadapi oleh Katniss Everdeen di bagian kedua. Di bagian kedua ini, segala konflik yang sudah dilontarkan di bagian kedua diberi sebuah konklusi yang juga mengakhiri seri ini. Dan The Hunger Games : Mockingjay Part 2 menjadi sebuah seri penutup yang masih memuaskan dan menyenangkan untuk diikuti. 


Setelah Peeta (Josh Hutcherson) berhasil diselamatkan, dia menyerang Katniss (Jennifer Lawrence) dan membuat hubungan mereka merenggang. Peeta dicuci otak oleh Presiden Snow (Donald Sutherland) agar memusuhi Katniss. Hal itu jelas membuat Katniss terpukul dan semakin menguatkan misinya untuk membunuh presiden Snow dengan tangannya sendiri. Presiden Alma Coin (Julianne Moore) tetap tak mau untuk mengirim Katniss langsung untuk menyerang Snow.

Tetapi, Katniss tetap tak mau tahu dan dia pun berusaha agar dia bisa pergi ke Capitol untuk menyerang Snow. Naas, ketika Snow tahu akan rencana Katniss beserta teman-temannya untuk menyerang Capitol untuk membunuhnya. Dia sudah menyiapkan berbagai perangkap di sekitar kota Capitol agar dapat membunuh Katniss dan timnya. Hal itu pun semakin membuat perjuangan Katniss untuk membunuh Snow semakin mendapatkan tantangan. 


Menjadikan satu buku menjadi dua bagian film memang menjadi sebuah tren yang diawali oleh Harry Potter and The Deathly Hallows. Memang, dengan formula itu akan dirasa efektif oleh rumah produksi untuk mendatangkan banyak keuntungan bagi mereka. Mockingjay adalah salah satu yang menggunakan formula itu. Buku ketiga dari Suzanne Collins ini pun dibagi menjadi dua bagian film yang sebenarnya akan menjadi sangat riskan untuk performa filmnya.

Nyatanya adalah Mockingjay hanya memiliki satu konflik besar yang sebenarnya tak begitu rumit. Maka, keputusan untuk dipecah menjadi dua bagian hanyalah gimmick dari sang rumah produksi untuk mendatangkan keuntungan. Dengan adanya dua bagian itu, jelas problematika yang besar adalah bagaimana menyamaratakan performa di dalam filmnya. Isu plot itu jelas jurang besar bagi pamor seri The Hunger Games yang menjadi salah satu seri adaptasi novel young-adult yang kuat.

Di bagian kedua, The Hunger Games : Mockingjay Part 2 tidak lagi memiliki konflik yang signifikan. Segala konflik yang ada di dalamnya hanyalah jawaban dari konflik yang sudah ditawarkan di bagian pertama. Jelas, ini adalah tantangan yang besar bagi sang sutradara untuk mengemas Mockingjay Part 2 agar tetap menjadi sebuah film yang tak terasa sia-sia untuk dipecah menjadi dua bagian. Francis Lawrence benar-benar berusaha keras untuk menyingkirkan paradigma itu. 


Kata ?Aji Mumpung? memang tak bisa terelakkan ketika Mockingjay dibagi menjadi dua bagian. Tetapi, Francis Lawrence membuktikan bahwa Mockingjay Part 2 tetap menjadi sajian yang sangat menggugah minat penontonnya untuk mengikuti filmnya hingga akhir. Mockingjay Part 2  mengubah warna cerita menjadi cenderung lebih gelap dan murung. Sang sutradara berusaha kuat untuk menghadirkan nuansa cerita penuh intrik politik yang lebih kental.

Jelas, berubahnya warna cerita itu adalah kekuatan dan potensi besar dari Mockingjay Part 2. Sehingga, seri-seri The Hunger Games bukan hanya sebuah film fantasi petualangan remaja yang hanya lalu. Tetapi, memberikan pendalaman lebih tentang propaganda politik yang dapat dikaji lebih lagi. Representasi kediktatoran pemimpin yang mempermainkan bawahannya yang terlihat secara implisit lewat karakter-karakter seperti Snow ataupun Alma Coin.

Mockingjay Part 2 memberikan sebuah final battle yang berhasil membangun suasana mencekam. Dan sang sutradara berhasil benar untuk menghadirkan hal-hal itu sehingga bagian kedua dari Mockingjay ini tak terasa monoton bagi sebagian penonton.Banyak beberapa bagian dari Mockingjay Part 2 yang berhasil membuat penontonnya keasyikan menonton petualangan dari Katniss Everdeen dalam perjalanannya menuju kota Capitol. Anggap saja, di bagian kedua adegan pertarungan itu adalah penebusan dosa dari bagian pertama yang sangat minim akan hal itu. 


Francis Lawrence tak terlihat terlalu asyik untuk memberikan pendalaman lebih kepada karakter-karakter yang ada di seri The Hunger Games yang semakin lama terlihat semakin manusiawi. Pun, lewat naskahnya, The Hunger Games : Mockingjay Part 2 memiliki dialog-dialog sarkastik terhadap otoritas pemimpin dan permainan propaganda politik yang tampil secara implisit dan dibutuhkan interpretasi yang kuat dari penontonnya agar pesan yang dimaksudkan dapat tersampaikan. Dan hal itu lah yang menjadi poin plus lagi dari seri Mockingjay Part 2.

The Hunger Games : Mockingjay Part 2 jelas mengajak penontonnya berpikir tentang kebenaran yang kita bela. Adanya pro dan kontra di dalam memilih kebenaran jelas sudah menjadi sesuatu yang lumrah. Sehingga, perlu adanya tanggung jawab atas apa yang kita pilih tentang sesuatu yang kita anggap benar. Dan representasinya lewat karakter Alma Coin dan Snow, polemik pemilihan pemimpin yang bersih adalah salah satu isu yang diangkat oleh The Hunger Games : Mockingjay Part 2 yang dirasa akan relevan di berbagai belahan dunia.

Tak dipungkiri lagi, The Hunger Games : Mockingjay Part 2 memiliki nilai-nilai produksi dengan estetika berkelas. Lewat tata kostum, artistik, dan teknik pengambilan gambar yang menarik menjadi kelebihan lain dari seri ini semenjak Catching Fire. Juga, performa luar biasa tetap dihadirkan oleh Jennifer Lawrence sebagai karakter Katniss. Dia jelas sosok aktris aset Hollywood yang berhasil menjadi ikon film blockbuster. Jennifer Lawrence dapat menghadirkan segala bentuk emosi di dalam setiap adegan sehingga The Hunger Games : Mockingjay Part 2 tak hanya sebuah franchise kosong. 


Dengan pembelahan dua bagian dalam adaptasi buku terakhirnya, jelas tak dapat dipungkiri bahwa The Hunger Games : Mockingjay Part 2 memiliki permasalahan lewat pengembangan plot yang sangat minimalis. Tetapi, Francis Lawrence berusaha keras untuk mengarahkan seri terakhirnya ini tetap menjadi sebuah film penutup yang memiliki presentasi yang kuat. The Hunger Games : Mockingjay Part 2 tetap menghadirkan sebuah petualangan Katniss untuk berhadapan dengan presiden Snow yang penuh akan intrik politik yang menarik dengan warna cerita yang murung. Tetapi, itulah potensi dari Mockingjay Part 2 sehingga dapat menjadi seri penutup yang memuaskan.


Di wilayah asia, film ini dirilis dalam format IMAX 3D dan berikut adalah review dari format tiga dimensi lewat layar IMAX

DEPTH

Hasil konversi format IMAX 3D tak berhasil memberikan kedalaman film yang menarik. Sehingga, rasanya kedalaman The Hunger Games : Mockingjay Part 2 hanya terasa seperti film dua dimensi.

POP OUT
Tak ada sama sekali efek Pop-Out yang mewarnai The Hunger Games : Mockingjay Part 2. Sehingga jelas akan terasa pointless untuk disaksikan dalam format tiga dimensi.


The Hunger Games : Mockingjay Part 2 dikonversi menjadi sebuah film tiga dimensi berformat IMAX yang tak memiliki pengaruh signifikan di dalam filmnya. Sehingga, menyaksikan The Hunger Games : Mockingjay Part 2 dalam format ini hanyalah sebuah gimmick lagi dari rumah produksi untuk mengeruk keuntungan. Sehingga, sangat berharap film ini hanya dirilis dalam format IMAX dua dimensi.

Wednesday, 25 November 2015

KINGSMAN : THE SECRET SERVICE (2015) REVIEW : Suit Up and Ready for The Mission


Agen rahasia, pistol, dan misi adalah segelintir formula yang digunakan oleh beberap film genre spionase. James Bond 007 adalah sosok ikonik dan masih terus dinantikan setiap filmnya. Juga, franchise dari film Mission Impossible yang menggunakan formula yang sama dan tetap melanjutkan serinya meski tak sebanyak film Bond. Beberapa film spionase pun dibuat setidaknya untuk mengekor kesuksesan kedua film tersebut. Maka, hal ini juga menyerang Matthew Vaughn yang mencoba untuk menggarap sebuah film spionase.

Meskipun, Matthew Vaughn masih tak jauh-jauh dari zona amannya yaitu mengadaptasi komik ternama ke dalam layar lebar. Kick-Ass dan X-Men First Class adalah bukti bahwa Matthew Vaughn memiliki sepak terjang yang bagus dalam mengadaptasi sebuah komik. Tetap mengadaptasi komik milik Mark Miller, Kingsman : The Secret Service adalah adaptasi dari komik berjudul The Secret Service dan menjadi buku kedua dari Mark Miller yang diadaptasi oleh Matthew Vaughn. 


Kingsman : The Secret Service pada awalnya diperkirakan akan rilis pada bulan Oktober 2014. Kemunduran tanggal rilis ini mungkin menjadi sebuah bencana bagi film-film hollywood. Setelah banyak sekali film-film dua bulan ini yang juga mengalami pergantian slot tanggal rilis seperti Seventh Son dan Jupiter Ascending yang ternyata memiliki potensi flop dan konten yang buruk. Tetapi, Kingsman : The Secret Service berbeda, film arahan Matthew Vaughn ini memiliki konten yang sangat menyenangkan dan kuat.

Seorang pemuda badung bernama Eggsy (Taron Egerton) tiba-tiba diajak oleh Harry Hart untuk menjadi sebuah agen mata-mata. Kingsman adalah tempat para mata-mata di kota London berkumpul dan mendapatkan misi mereka. Tetapi, Eggsy harus melewati berbagai macam tes agar bisa menjadi salah satu agen mata-mata di Kingsman. Serta, menggantikan seseorang yang sudah terbunuh saat melakukan tugas.

Agen yang terbunuh itu sedang melakukan tugas untuk menyelamatkan seseorang yang berhubungan dengan Valentine (Samuel L. Jackson), seorang pengusaha kaya yang sedang ingin menguasai dunia. Rencana jahat Valentine adalah membenamkan chip pengontrol pikiran di dalam sebuah sim card yang dibagikan gratis kepada seluruh orang di dunia. Harry Hart dan segala orang yang ada di dalam Kingsman berusaha untuk menghentikan rencana jahat Valentine. 


Menjalankan tugas menjadi seorang mata-mata bukanlah hal yang mudah. Begitupun dengan mengarahkan film-film bertema seperti ini. Jelas, film bertema spionase memiliki formula yang hampir sama dari satu film ke film lain. Hanya saja, bagaimana formula itu bisa dikembangkan lebih luas dan diolah dengan baik oleh sang sutradara. Matthew Vaughn adalah salah satu yang berhasil mengolah formula-formula usang ini lewat film adaptasinya.

Misi Matthew Vaughn adalah bagaimana menjadikan film spionase-nya menjadi film yang menyenangkan, tak terlalu serius tetapi juga tak kacangan. Dengan cita rasa yang dimilikinya, Kingsman : The Secret Service ini dijadikan menjadi sebuah spoof di dalam film spionase yang tetap padat dalam bertutur dan menyenangkan. Dengan pakaian bersetelan lengkap, tentu Kingsman : The Secret Service ini sangat siap menyelesaikan misinya dalam menghibur penontonnya.

Matthew Vaughn menjadikan Kingsman adalah perpaduan antara X-Men First Class dan Kick-Ass yang sama-sama digarap olehnya. Eksekusi Kingsman : The Secret Service ini berhasil sehingga bisa memberikan pengalaman menonton yang sangat lengkap. Mulai dari cerita yang mampu berjalan lancar, porsi aksi yang juga masih mendominasi, serta komedi-komedi renyah yang dapat membuat penontonnya tertawa. 


Matthew Vaughn memberikan dark comedy yang renyah dan tepat sasaran. Belum lagi diselipi adegan-adegan tribut ke beberapa film-film spionase seperti James Bond dan yang lainnya. Juga, adanya beberapa referensi pop culture yang diolah menjadi jokes yang menarik meskipun bagi penonton yang kurang memahami masih bisa menerima guyonan itu. Tetapi, akan lebih terasa menyenangkan jika penonton lebih mengetahui beberapa referensi budaya pop itu karena akan menambah tingkat keasyikannya.

Jika membicarakan film mata-mata, jangan lupakan alat-alat canggih yang digunakan saat melaksanakan tugas. Kingsman : The Secret Service pun tak lupa menyelipkan alat-alat canggih yang menyenangkan. Sesuai dengan tone cerita Kingsman : The Secret Service yang classy, alat-alat canggih itu diselipkan ke barang-barang yang tak terduga. Dengan berbabagai macam alat-alat canggih yang tak terduga itu, setelah selesai menonton, para penonton pasti akan mengidam-idamkan alat canggih di dalam film Kingsman : The Secret Service.

Baku hantam dan adu tembak di dalam film Kingsman : The Secret Service pun menjalankan tugasnya. Tak hanya sekedar tembak sana-sini dan berisik, lebih dari sekedar itu karena akan banyak sekali adegan-adegan kekerasan yang jatuhnya menyenangkan dan terkenang setelah keluar dari bioskop. Meskipun, ada 12 menit adegan di gereja yang harus dipotong oleh LSF dan katanya itu adalah bagian terbaik dari Kingsman : The Secret Service. Tetapi tak perlu bersedih karena masih ada banyak adegan aksi yang menyenangkan.


Kingsman : The Secret Service mungkin masih sedikit terbatas dalam bertutur. Karena subplot yang mungkin terlalu banyak. Alhasil, ada beberapa latar belakang karakter yang tidak sebegitu tuntas dalam bercerita dan hal itu terjadi pada karakter Harry Hart. Yah, mungkin ada sekedar cerita atau adegan formalitas untuk menjelaskan kenapa Harry melakukan itu. Tetapi, adegan tersebut hanya terjadi begitu singkat dan tak terlalu memberikan dampak signifikan terhadap apa yang dilakukan oleh Harry di dalam filmnya. 

Tetapi, Kingsman : The Secret Service tak perlu banyak bercerita yang terlalu rumit karena akan membuatnya menjadi terlalu serius. Matthew Vaughn berhasil memberikan sebuah paket lengkap di dalam film adaptasi komiknya ini. Saat menyaksikan film spionase ini, penonton mendapatkan segala apa yang mereka inginkan mulai dari cerita, adegan aksi, serta komedi renyah dengan balutan adegan gore yang menyenangkan dan memorable. Ya, Kingsman : The Secret Service akan dengan mudah menjadi favorit para penonton. 

CINDERELLA (2015) REVIEW : Old-Fashioned Fairy Tale Without Lose it Magic


Dongeng sebelum tidur kembali dihadirkan di zaman yang sudah serba modern. Sesuatu hal yang menyenangkan ketika akhirnya anak-anak di era ini kembali merasakan dan mengetahui cerita indah di negeri dongeng ini. Tetapi, sayangnya, dongeng-dongeng itu mengalami beberapa perubahan agar bisa mendapatkan pasar yang lebih besar dan lebih universal. Cerita-cerita usang itu entah diceritakan dengan adanya pendewasaan karakter, lebih gelap, atau ingin membuat dongeng tersebut memiliki cerita yang lebih multidimensional daripada sebelumnya.

Snow White, Sleeping Beauty, dan Alice in Wonderland sudah pernah mengalami penceritaan kembali dan mengalami ekspansi di film-film mereka. Dan tak sedikit dari film-film tersebut tak bisa mendapatkan daya magisnya layaknya dongeng-dongeng yang mereka jadikan kiblat. Sekarang, giliran dongeng Cinderella yang dijadikan film live-action oleh Disney dan disutradarai oleh Kenneth Branagh. Uniknya, Cinderella versi baru ini tak perlu mengubah cerita dan mencoba untuk tetap setia dengan sumber aslinya. 


Bagi yang sudah mengenal dongeng Cinderella, pasti sudah sangat tahu seperti apa persisnya cerita dari Cinderella ini. Bermula dari Ella (Lily James) yang hidup bahagia dengan kedua orang tuanya. Tetapi, sang Ibu harus meninggalkan Ella karena sakit yang berkepanjangan. Setelah beberapa tahun, sang Ayah bertemu dengan seseorang bernama Lady Tremaine (Cate Blanchett). Wanita yang sedang digila-gilai oleh ayah Ella memiliki dua anak, Drisella (Sophie McShera) dan Anastasia (Holliday Grainger). Mereka pun menikah dan Ella kembali memiliki sosok ibu di dalam hidupnya.

Tetapi, ketika sang Ayah kembali merantau, berita buruk menghampiri Ella. Sang ayah meninggal saat perjalanan kembali ke rumah karena sakit yang tak kunjung sembuh. Ibu Tiri Ella dan kedua kakak tirinya menganggap Ella sebagai seorang pembantu yang harus melayaninya setiap saat. Tetapi ditengah penderitaannya, Ella malah bertemu dengan seorang pangeran tampan bernama Kit (Richard Madden) dan dia jatuh cinta padanya. 


Sebuah langkah yang mengejutkan dari Kenneth Branagh, ketika memutuskan untuk membuat film Cinderella miliknya ini menjadi film yang sangat setia dengan dongengnya. Mungkin akan menjadi sebuah resiko yang cukup besar juga, karena Cinderella tak menyuguhkan sesuatu yang berbeda dengan dongengnya yang sudah sering penontonnya dengar. Sehingga, penonton merasa tak memiliki alasan untuk harus menyaksikannya dalam layar besar.

Tetapi, Disney tahu benar pangsa mereka, Cinderella pun dikemas dalam kemasan yang menarik sehingga penonton akan berbondong-bondong pergi menyaksikan filmnya. Tanpa perlu mengekspansi atau bertutur lebih dewasa dari dongengnya, Cinderella mampu merekap cerita yang sudah usang itu menjadi sajian dengan tutur yang sangat lembut tanpa meninggalkan kemagisan dongeng aslinya. Ya, 100 menit milik Cinderella ini adalah cara instan untuk mendapatkan cita rasa klasik dongengnya.

Tanpa mengemban misi yang berlebihan, Cinderella berhasil menyajikan sesuatu yang sederhana. Malah, Cinderella garapan Kenneth Branagh ini berhasil mengeluarkan daya magisnya dan menciptakan suasana negeri dongeng yang kental. Juga disokong oleh Chris Weitz dalam departemen naskahnya yang mampu bertutur dengan sangat lembut. Juga diwarnai dialog-dialog cerdas tanpa yang masih menunjukkan kemewahan dan sikap anggun seperti karakter-karakternya. 


Memang tak melulu Cinderella milik Kenneth Branagh ini sangat setia dengan sumber aslinya. Lewat naskah milik Chris Weitz juga, Cinderella menjadi lebih kaya cerita dibandingkan dongeng sebelumnya. Terlebih, pengembangan karakternya pun tak menjadi komikal layaknya sumber aslinya. Para karakter ?terutama karakter antagonis ?menjadi lebih multidimensional dan berhasil memiliki yang sebenarnya bertujuan mengekspansi tetapi dalam batas yang wajar. Bukan serta merta memperluas sudut pandang, tetapi lebih kepada menunjukkan sisi vulnerable dari setiap karakternya.

Cinderella versi Kenneth Branagh ini tak hanya menjual mimpi seorang gadis untuk mendapatkan pria idamannya. Tetapi, ada sisi emosional tentang keluarga, berbuat baik, keberanian, dan cinta yang tak hanya berasal dari pasangan, tetapi dari siapapun itu. Dan sang sutradara berhasil menyampaikan setiap detil pesan dengan sangat baik dan penonton sangat bisa memiliki relasi yang kuat karena bagaimana Kenneth Branagh sangat kuat dalam mengarahkan filmnya.

Tak perlu diragukan masalah production value di dalam film Cinderella. Kostum, setting tempat, dan detil-detil lainnya tentu akan digarap dengan serius. Sehingga, segalanya nampak serasi dan menghibur mata yang memandang layaknya Cinderella yang baru mendapat gaun baru dari sang Ibu Peri. Juga, penataan kamera yang menarik sehingga terlihat memaksimalkan format IMAX yang digunakan di film ini. Tanpa efek tiga dimensi, gambar-gambar di film ini terasa dekat di mata penontonnya. 


Daya magisnya pun dikuatkan oleh performa hebat dari para aktor dan aktrisnya. Lily James sangat berhasil menjadi sosok yang gampang mendapat simpati penonton saat memerankan Cinderella. Begitu pula dengan Cate Blanchett yang tak perlu diragukan lagi memerankan sosok antagonis, Lady Tremaine, tanpa kehilangan keanggunannya. Penampilan singkat tapi memikat dari Helena Bonham Carter sebagai Fairy God Mother juga dapat menarik perhatian penontonnya.

Tanpa perlu memegang ambisi untuk menjadi lebih besar dari sumber dongeng aslinya, Cinderella garapan Kenneth Branagh ini berhasil merangkum dan mencapai segala kemagisan sumber aslinya. Bukan hanya menceritakan kembali, tetapi juga memperkaya cerita dengan menyelipkan pesan-pesan tentang mimpi dan harapan. Maka, Cinderella adalah sebuah bukti bahwa tak perlu berambisi untuk mengekspansi atau bertutur lebih dewasa dari sebuah dongeng. Cukup dengan setia dengan sumber, bertutur dengan lembut dan arahan yang kuat, akan ada sebuah keajaiban datang ke dalamnya.

 

ANT-MAN (2015) REVIEW : Small Size, Big Things


Setelah menuju akhir fase keduanya lewat Avengers : Age of Ultron, Marvel tak henti-hentinya untuk membuat dunia sinematik yang lebih besar lewat fase ketiga. Setelah menambah karakter superhero di fase kedua lewat Guardians of The Galaxy, fase ketiga akan menambah beberapa barisan karakter superhero baru yang akan ikut serta membasmi kejahatan di kubu Avengers. Dan salah satu karakter manusia super pertama yang dikenalkan oleh Marvel adalah Ant-Man.

Karakter manusia super baru ini jelas akan terasa asing di mata penontonnya, layaknya film Guardian of The Galaxy kala itu. Ditambah lagi, akan terdengar menggelikan ketika tahu ada manusia super yang berubah ukuran sekecil ukuran semut. Tetapi kembali lagi, ketika ini adalah produk milik Marvel yang diproduseri oleh Kevin Feige, maka tak ada yang tidak mungkin menarik minat penonton untuk menyaksikan filmnya.

Film manusia super terbaru ini diarahkan oleh Peyton Reed yang menggantikan Edgar Wright yang seharusnya berada di posisi sutradara. Hanya saja, Edgar Wright tak serta merta meninggalkan proyek Ant-Man ini, bersama Joe Cornish dia tetap mendapat kesempatan sebagai penulis naskah untuk kisah manusia semut satu ini. Dengan premis yang terlihat nyeleneh ini, rasanya tepat untuk memberikan porsi bagi Edgar Wright dan Joe Cornish sebagai penulis naskah yang kiranya dapat menyokong keanehan manusia super satu ini. Tetapi, tetap bercitarasa Marvel lewat arahan Peyton Reed.


Hank Pym (Michael Douglas) menciptakan sebuah formula dan perlengkapan terobosan baru. Hal tersebut dapat membuat manusia berubah menjadi seukuran semut tetapi dengan kekuatan yang sangat besar. Hanya saja, proyek milik Hank Pym ini tersendat oleh beberapa kasus. Sehingga beberapa puluh tahun kemudian, Pym Tech ?perusahaan milik Hank Pym ?mendapatkan pimpinan baru yaitu Darren Cross (Corey Stoll) yang ingin membuat proyek mirip dengan milik Hank Pym.

Pym yang sudah lama mencari seseorang yang pantas membawa tanggung jawab atas perlengkapan supernya, menemukan seseorang dengan catatan kriminal papan atas, Scott Lang (Paul Rudd). Terkenal lewas kasusnya yang meretas Vista Corporation yang memiliki tingkat keamanannya yang tinggi. Dia kembali merampok demi memenuhi kebutuhan anaknya dengan mantan istrinya. Dan secara tak sadar, itu adalah tes untuk menjadi seorang Ant-Man yang dilakukan oleh Hank Pym dan anaknya, Hope (Evangeline Lilly).


Menjadi salah satu produk Marvel yang beresiko, jelas tak mudah untuk memperkenalkan Ant-Man kepada khalayak umum. Guardians of The Galaxy pun memang terdengar asing, tetapi premis dari filmnya masih bisa kita temui lewat Star Trek atau pun Star Wars. Berbeda dengan Ant-Man yang memiliki dasar yang lebih unik dan akan terlihat kesusahan untuk menemukan pasarnya. Tetapi, apa yang tidak mungkin jika proyek ini adalah proyek milik Marvel untuk memperluas dunia sinematik di fase terbarunya.

Ant-Man berhasil melampaui ekspektasi dan kekhawatiran dari para penikmat film yang takut tak akan bisa untuk bernegosiasi dengan premis unik milik Ant-Man. Film ini memang memiliki konflik yang terlihat lebih personal dibandingkan dengan film-film manusia super lain milik Marvel. Ant-Man memiliki konflik dengan skala yang lebih kecil layaknya seekor semut. Apa yang memengaruhi plot cerita hanya seputar konflik keluarga dan rekan bisnisnya tanpa ada impact dari villain untuk menguasai dunia.

Meski Ant-Man akan terlihat menjadi manusia super berukuran kecil, tetapi filmnya memiliki banyak sekali poin yang terasa sangat besar. Dengan konflik yang lebih sempit dan premis yang lebih unik, kedua hal ini lah yang ternyata yang menjadi kelebihan dari Ant-Man. Film arahan Peyton Reed ini bisa menggabungkan sebuah Heist movie dengan tema manusia super dan juga tak lupa konflik keluarga dengan takaran yang pas. Sehingga, Ant-Man memiliki kuantitas hati yang terasa lebih besar ketimbang film-film Marvel lainnya.


Edgar Wright dan Joe Cornish pun memiliki naskah yang mampu menggelitik penontonnya tanpa perlu kehilangan identitas mereka di dalam film-film sebelumnya. Hanya saja, tentu Edgar Wright dan Joe Cornish tidak bisa tampil se-eksperimental mungkin seperti film yang mereka garap sendiri. Jelas, ini karena Marvel membutuhkan sesuatu yang lebih terasa universal terlebih untuk karakter manusia super baru yang belum memiliki pangsa pasar yang jelas.

Naskah milik Edgar Wright dan Joe Cornish selalu bisa menghadirkan humor-humor pintar dan padat tanpa perlu terasa memaksa. Guyonan sarkastik menjadi andalan bagi Edgar Wright tetapi sangat berhasil membuat penonton sangat terhibur saat menonton Ant-Man. Juga, berbagai tata adegan yang mampu bergerak sangat dinamis dengan berbagai tempelan subplot cerita yang malah tak membuat Ant-Man menjadi sajian yang tersendat-sendat.
Dan Peyton Reed hadir untuk mengarahkan film Ant-Man menjadi sajian yang sangat menyenangkan. Menawarkan sesuatu yang malah terlihat segar dengan film yang menggunakan template yang sudah terasa familiar bagi penontonnya. Ant-Man memiliki sekuens aksi yang berbeda, meski terlihat besar, tetapi dipresentasikan dengan skala ukuran yang kecil. Dan hal tersebut pun, tak lantas menjadi suatu kelemahan bagi Ant-Man untuk menjadi sesuatu yang sangat menyenangkan untuk diikuti.


Dengan Paul Rudd sebagai aktor utama, Ant-Man sangat terasa pas dengannya. Dia berhasil menghadirkan suasana komedi tanpa perlu berusaha keras menjadi seseorang yang konyol. Meski begitu kharismanya sebagai manusia super tetap ada di dalamnya. Dan Michael Pena yang juga berhasil menjadi pemeran pendukung yang mencuri perhatian penontonnya. Lewat karakternya, dia menjadikan Ant-Man menjadi sesuatu yang mengocok perut penontonnya.

Meski memiliki ukuran mikro seperti seekor semut, Ant-Man memiliki sesuatu yang sangat besar di dalamnya. Hadir lewat premisnya yang unik, naskah yang dinamis, dengan arahan yang tepat sehingga Ant-Man menjadi salah satu film Marvel yang sangat menyenangkan untuk diikuti. Pun, Ant-Man memiliki kuantitas hati yang akan terasa lebih besar daripada film Marvel lainnya. Dengan konfliknya yang personal dan lebih sempit, tak menjadikan Ant-Man tak bisa sebesar film-film Marvel sebelumnya. Dan ini adalah Penutup yang bagus bagi Marvel Cinematic Universe Phase 2.

MISSION: IMPOSSIBLE - ROGUE NATION (2015) REVIEW : Best Mission In Ethan Hunt?s Career


Banyak sekali jatuh bangun yang dialami oleh Ethan Hunt dan sekutunya di IMF untuk melanjutkan seri-serinya. Film yang diadaptasi dari serial televisi dengan judul yang sama, Mission Impossible ini pun mengalami naik turun karena pergantian arahan dari orang yang berbeda di setiap serinya. Dari Brian De Palma hingga Brad Bird, pernah menjadi sutradara untuk menuntaskan misi yang dilakukan oleh Ethan dan Hunt dan sekutunya.

Meski tetap tertatih, Mission: Impossible tetap melanjutkan jejaknya hingga seri kelima. Dan ya, kali ini, Brad Bird tak lagi mengarahkan seri kelimanya dan digantikan oleh Christopher McQuarrie. Rogue Nation diambil sebagai sub judul dari Mission: Impossible seri terbaru ini. Ini bukan pertama kalinya Christopher McQuarrie berkolaborasi dengan Tom Cruise. Sudah ada Jack Reacher dan Edge of Tomorrow yang mempertemukan mereka.

Kebangkitan seri Mission: Impossible memang ditandai lewat seri keempatnya, Ghost Protocol. Maka, dengan hengkangnya Brad Bird untuk menyutradarai seri kelimanya kali ini, cukup membuat khawatir akan presentasi akhir dari Rogue Nation. Ghost Protocol berhasil membungkus film Mission: Impossible menjadi sebuah film spionase dengan action sequences yang dapat menghela nafas penontonnya. Tetapi, Rogue Nation dengan mudah menyaingi bahkan melewati ekspektasi yang dipatok oleh Ghost Protocol. 


Kali ini, Ethan Hunt (Tom Cruise) harus terancam akan pekerjaannya sebagai mata-mata. IMF tempatnya bernaung sebagai mata-mata harus ditutup oleh pemerintah. Dengan adanya problematika itu, Ethan Hunt dan kawan-kawannya Benji (Simon Pegg) dan William Brandt (Jeremy Renner) berusaha mencari siapa yang ingin menghancurkan IMF. Di tengah dia mengusut hal tersebut, Ethan malah harus terjebak dalam bahaya.

The Syndicate, organisasi anti IMF yang berusaha untuk menjatuhkan Ethan Hunt dan kawan-kawannya. Saat Ethan harus ditangkap oleh The Syndicate, dia bertemu dengan Ilsa Faust (Rebecca Ferguson) yang beranomali dengan mendukung Syndicate tetapi juga membantu Ethan Hunt untuk melarikan diri. Kebaikan Ilsa saat menolong Ethan tak lantas membuatnya percaya begitu saja. Ethan mencari tau siapa Ilsa dan apa hubungannya dengan The Syndicate. 


Patokan terhadap seri Mission: Impossible sudah didapatkan oleh Ghost Protocol. Sehingga, rasanya mustahil ketika seri terbaru dari Mission: Impossible berhasil melewati apa yang sudah dicapai oleh Brad Bird lewat Ghost Protocol. Maka, Christopher McQuarrie justru memiliki tekanan yang sangat besar untuk membawa Rogue Nation menjadi presentasi yang setidaknya bisa berdiri sejajar dengan Mission: Impossible Ghost Protocol.

Memang tak ada yang bisa menandingi kegilaan yang dihadirkan oleh Brad Bird di Ghost Protocol lewat action sequences yang dia berikan. Sehingga, Rogue Nation memang tak dapat menandingi kegilaan itu. Tetapi, apa yang dihadirkan oleh Christopher McQuarrie Di Rogue Nation memiliki cita rasa sendiri. Action sequences yang ada di Rogue Nation memiliki cita rasa klasik film spionase-spionase dahulu yang juga menjadi poin plus-nya.

Action Sequences yang tak terlalu besar tak lantas membuat Rogue Nation kehilangan tensinya. Christopher McQuarrie masih bisa memacu adrenalin penontonnya dengan action sequences kecil yang diganjar terus menerus. Karena tahu ketidakmampuan McQuarrie untuk memberikan action sequences yang luar biasa, maka dari itu dia mencari hal lain yang bisa membuat Rogue Nation memiliki sesuatu yang lebih. Ya, lewat plotnya yang lebih kompleks. 


Kompleksitas plot yang dihadirkan oleh Christopher McQuarrie menjadikan Rogue Nation sangat menarik untuk diikuti. Apa yang diperlihatkan lewat trailernya ternyata sama sekali tidak serta merta membuat penontonnya tahu secara menyeluruh tentang plot milik Rogue Nation. Penonton akan sangat terkecoh dengan tampilan trailernya yang setidaknya memberikan sekelumit adegan yang ada di Rogue Nation. Sehingga, kompleksitas plot di Rogue Nation sama sekali tak bisa ditebak selain dengan menonton filmnya.

Kompleksitas yang dihadirkan oleh Christopher McQuarrie setidaknya tidak menjadi bumerang sendiri bagi Rogue Nation. Arahan dari McQuarrie berhasil membuat plotnya rapi dan semua berjalan sangat efektif. Begitupun dengan karakterisasi setiap karakter di dalam film Mission: Impossible Rogue Nation ini. Karakter-karakter itu menjalankan setiap karakternya secara efektif dan sesuai porsi masing-masing. Bukan malah menjadi penyesak layar yang membuat Rogue Nation terasa gegap gempita.

Dengan pengarahan yang begitu rapi lewat kompleksitas plot untuk menggerakkan durasinya selama 131 menit, Rogue Nation akan diselipi rasa sangat puas dengan adegan penutup di film ini. Penonton akan merasakan sesuatu yang melegakan setelah apa yang dilakukan oleh Ethan Hunt dan kawanannya berhasil menelusuri siapa musuh mereka sebenarnya. Dengan adanya intrik yang menarik tersebut, Rogue Nation yang memiliki durasi panjang tersebut benar-benar terasa sangat cepat. 


Dengan kompleksitas plot dan pengarahan yang rapi dari Christopher McQuarrie, Mission: Impossible Rogue Nation menghadirkan sesuatu yang sangat menyenangkan untuk diikuti. Lewat penampilan yang gemilang dari Tom Cruise dan Rebecca Ferguson, action sequences dengan tensi yang sangat di luar batas meski tak bisa sebesar Ghost Protocol, juga cerita penuh teka-teki yang akan membuat penontonnya menerka-nerka, Rogue Nation berhasil menyampingkan kekhawatiran fans seri ini karena kehilangan Brad Bird di posisi Sutradara. And here we go, Mission: Impossible Rogue Nation is the best from Ethan Hunt?s Mission.

CRIMSON PEAK (2015) REVIEW : Enchanting Yet Powerful Gothic Romance


Menghadirkan sebuah film mencekam dengan mempedulikan detil-detil artistik adalah keahlian dari sutradara, Guillermo Del Toro. Dengan anugrahnya tersebut, Guillermo Del Toro bisa menjadikan sebuah film horor naik satu tingkat dibanding dengan film-film horor lainnya. Tak hanya dalam film-film horor, tetapi Guillermo Del Toro tetap bisa mengarahkan film-film fantasi lainnya dengan kekhasan gaya penyutradaraan darinya. 


Poin yang membuat Guillermo Del Toro menjadi salah satu sutradara yang menjanjikan adalah kinerjanya dalam film Pan?s Labyrinth. Dia berhasil menjadikan sebuah film yang penuh dengan makhluk-makhluk yang berdampak mimpi buruk ini menjadi sajian yang cantik. Sehingga, banyak penonton yang menantikan karya-karya dari sutradara asal Meksiko ini. Di tahun 2015 ini, Guillermo Del Toro menghasilkan karya terbarunya yang menggabungkan sebuah film romance dengan gaya gothic yang sangat khas dengannya.

Crimson Peak, proyek terbaru dari Guillermo Del Toro ini mengalami pengunduran jadwal rilis dari Juni ke Oktober. Dibintangi dari Mia Wasikowska, Tom Hiddleston, dan Jessica Chastain, Crimson Peak menjadi sebuah film romance dengan level yang baru lewat pengarahan luar biasa dari Guillermo Del Toro. Crimson Peak menyajikan sebuah film horor artistik yang memiliki kekuatan luar biasa dari pembangunan cerita, karakter, dan atmosfir yang mengagumkan. 


Edith Cushing (Mia Wasikowska), anak dari Carter Cushing (Jim Beaver) memercayai tentang keberadaan sosok hantu. Sosok tersebut berusaha dia tuangkan ke dalam cerita-cerita yang dia tulis. Meskipun, karya-karyanya ditolak di berbagai penerbit, dia tetap tak patah semangat untuk menuliskan ceritanya. Hingga pada suatu saat, Thomas Sharpe (Tom Hiddleston) datang kepada Carter untuk meminta bantuan donasi terhadap proyek mesin yang sedang dia buat. Tak sengaja, Edith menaruh hati terhadap Thomas karena kepintaran dan kharisma darinya.

Hubungan tersebut tak mendapat restu dari Carter dan Edith pun dilema antara Thomas atau teman masa kecilnya, Alan McMichael (Charlie Hunnam). Musibah datang pada Edith, Carter dibunuh oleh seseorang yang tak tahu siapa. Edith melarikan diri dari musibah tersebut dan memutuskan untuk menikah dengan Thomas Sharpe. Edith pindah ke kastil tua milik Thomas yang dijadikannya sebagai tempat tinggal. Di sana, dia tinggal bersama dengan kakak Thomas, Lucille Sharpe (Jessica Chastain). Di sana, Edith merasa ada yang menerornya, sosok hantu yang ada di dalam kastil tua ini. 


Menjadikan film dengan poster, trailer  dan setting mencekam menjadi sebuah film drama romance memang bukan sesuatu yang lumrah. Tetapi, Guillermo Del Toro membuat hal tersebut menjadi sesuatu yang wajar dan mungkin untuk dibuat. Crimson Peak adalah pembuktian bahwa dengan premis cerita seaneh apapun Guillermo Del Toro berhasil membuktikan bahwa dia adalah sutradara yang menjanjikan di industri perfilman Hollywood.

Tak ada cerita terobosan baru dari Crimson Peak sebagai film bertema gothic. Drama tahun 80an dengan misteri yang kental tetapi memasukkan unsur supranatural di dalam filmnya. Crimson Peak memiliki cerita yang sangat intens di 119 menit filmnya. Naskah yang juga ditulis oleh Guillermo Del Toro ini berhasil memikat penontonnya untuk mengikuti setiap menit dari Crimson Peak. Cerita yang dibangun oleh Guillermo Del Toro ini memiliki kekuatan untuk menghipnotis penontonnya lewat gambar bergerak.

Tempo bertutur milik Crimson Peak memang bisa dibilang lambat. Paruh awal film Crimson Peak dipenuhi dengan pembangunan masing-masing karakter yang begitu kuat. Sehingga, penonton bisa menaruh simpati kepada karakter-karakter yang ada di dalam film Crimson Peak ini. Hingga semakin bertambahnya durasi, Crimson Peak menambahkan unsur-unsur misteri yang membuat penonton bertanya-tanya akan apa yang terjadi di dalam konflik ceritanya. 


Misteri yang disebar di dalam Crimson Peak ini tak terlalu terburu-buru. Sedikit demi sedikiit, Guillermo Del Toro menaruh setiap keping teka-teki di dalam filmnya. Perlahan, Guillermo Del Toro membanguh misteri yang kuat di dalam ceritanya. Bertambahnya durasi di dalam Crimson Peak, tensi cerita pun semakin naik. Bukan hanya dari aspek kepingan teka-teki yang disebar saja, tetapi dari pembangunan cerita dari Del Toro yang semakin kokoh hingga paruh akhir filmnya.

Ketika waktu yang tepat datang, barulah Crimson Peak berada dalam puncak emosi di dalam filmnya. Final showdown di dalam film Crimson Peak memiliki kekuatan luar biasa. Menggabungkan setiap tensi cerita bercampur misteri yang sudah terjawab yang bisa membuat penonton ikut serta merasakan atmosfir di dalam filmnya. Kejutan-kejutan yang ada di dalam akhir film akan dengan mudah membuat penontonnya merasa kaget dan hal itu tersimpan rapi berkat pengarahan dari Guillermo Del Toro.

Seperti Edith Cushing yang menganggap hantu di dalam cerita-ceritanya adalah sebuah metafora dalam kehidupan, Guillermo Del Toro pun juga menjadikan hantu-hantu itu sebagai metafora pertarungan psikis dari karakter Edith Cushing. Dan bisa dibilang, Crimson Peak bukan hanya menggabungkan romance dan gothic, tetapi juga thriller psychological yang juga menjadi poin penting di dalam film ini. Sehingga, dengan adanya poin itu Crimson Peak menambah kekuatannya. 


Detil artistik di dalam film Crimson Peak pun menjadi poin penting yang sangat diperhatikan oleh Del Toro. Hal tersebut menjadi satu poin wajib di setiap film milik Del Toro. Crimson Peak berhasil memanjakan mata penontonnya lewat detil-detil menarik, tata busana nomor wahid, serta permainan warna merah dengan hitam dan putih yang juga tampil sangat cantik. Dengan beberapa aspek itu, Del Toro berhasil membangun suasana mencekam meskipun penampakan makhluk supranatural tersebut tak terlalu memiliki poin besar bagi kelangsungan film ini.

Dengan segala pengarahan Guillermo Del Toro yang sangat visioner di dalam genre ini, Crimson Peak menjadi sebuah pengalaman menonton yang sangat indah. Penggabungan beberapa isu atau tema di dalam film ini menjadikan Crimson Peak tak kehilangan arah, malah menjadi sebuah kekuatan di dalam filmnya. Guillermo Del Toro berhasil membangun cerita dan karakter yang kuat di dalam film Crimson Peak. Dan hal ini berdampak bagi ketenangan psikis penontonnya, mereka seperti dihantui dan diusik lewat film horornya yang indah dan luar biasa kuat.

Saturday, 7 November 2015

KINGSMAN : THE SECRET SERVICE (2015) REVIEW : Suit Up and Ready for The Mission


Agen rahasia, pistol, dan misi adalah segelintir formula yang digunakan oleh beberap film genre spionase. James Bond 007 adalah sosok ikonik dan masih terus dinantikan setiap filmnya. Juga, franchise dari film Mission Impossible yang menggunakan formula yang sama dan tetap melanjutkan serinya meski tak sebanyak film Bond. Beberapa film spionase pun dibuat setidaknya untuk mengekor kesuksesan kedua film tersebut. Maka, hal ini juga menyerang Matthew Vaughn yang mencoba untuk menggarap sebuah film spionase.

Meskipun, Matthew Vaughn masih tak jauh-jauh dari zona amannya yaitu mengadaptasi komik ternama ke dalam layar lebar. Kick-Ass dan X-Men First Class adalah bukti bahwa Matthew Vaughn memiliki sepak terjang yang bagus dalam mengadaptasi sebuah komik. Tetap mengadaptasi komik milik Mark Miller, Kingsman : The Secret Service adalah adaptasi dari komik berjudul The Secret Service dan menjadi buku kedua dari Mark Miller yang diadaptasi oleh Matthew Vaughn. 


Kingsman : The Secret Service pada awalnya diperkirakan akan rilis pada bulan Oktober 2014. Kemunduran tanggal rilis ini mungkin menjadi sebuah bencana bagi film-film hollywood. Setelah banyak sekali film-film dua bulan ini yang juga mengalami pergantian slot tanggal rilis seperti Seventh Son dan Jupiter Ascending yang ternyata memiliki potensi flop dan konten yang buruk. Tetapi, Kingsman : The Secret Service berbeda, film arahan Matthew Vaughn ini memiliki konten yang sangat menyenangkan dan kuat.

Seorang pemuda badung bernama Eggsy (Taron Egerton) tiba-tiba diajak oleh Harry Hart untuk menjadi sebuah agen mata-mata. Kingsman adalah tempat para mata-mata di kota London berkumpul dan mendapatkan misi mereka. Tetapi, Eggsy harus melewati berbagai macam tes agar bisa menjadi salah satu agen mata-mata di Kingsman. Serta, menggantikan seseorang yang sudah terbunuh saat melakukan tugas.

Agen yang terbunuh itu sedang melakukan tugas untuk menyelamatkan seseorang yang berhubungan dengan Valentine (Samuel L. Jackson), seorang pengusaha kaya yang sedang ingin menguasai dunia. Rencana jahat Valentine adalah membenamkan chip pengontrol pikiran di dalam sebuah sim card yang dibagikan gratis kepada seluruh orang di dunia. Harry Hart dan segala orang yang ada di dalam Kingsman berusaha untuk menghentikan rencana jahat Valentine. 


Menjalankan tugas menjadi seorang mata-mata bukanlah hal yang mudah. Begitupun dengan mengarahkan film-film bertema seperti ini. Jelas, film bertema spionase memiliki formula yang hampir sama dari satu film ke film lain. Hanya saja, bagaimana formula itu bisa dikembangkan lebih luas dan diolah dengan baik oleh sang sutradara. Matthew Vaughn adalah salah satu yang berhasil mengolah formula-formula usang ini lewat film adaptasinya.

Misi Matthew Vaughn adalah bagaimana menjadikan film spionase-nya menjadi film yang menyenangkan, tak terlalu serius tetapi juga tak kacangan. Dengan cita rasa yang dimilikinya, Kingsman : The Secret Service ini dijadikan menjadi sebuah spoof di dalam film spionase yang tetap padat dalam bertutur dan menyenangkan. Dengan pakaian bersetelan lengkap, tentu Kingsman : The Secret Service ini sangat siap menyelesaikan misinya dalam menghibur penontonnya.

Matthew Vaughn menjadikan Kingsman adalah perpaduan antara X-Men First Class dan Kick-Ass yang sama-sama digarap olehnya. Eksekusi Kingsman : The Secret Service ini berhasil sehingga bisa memberikan pengalaman menonton yang sangat lengkap. Mulai dari cerita yang mampu berjalan lancar, porsi aksi yang juga masih mendominasi, serta komedi-komedi renyah yang dapat membuat penontonnya tertawa. 


Matthew Vaughn memberikan dark comedy yang renyah dan tepat sasaran. Belum lagi diselipi adegan-adegan tribut ke beberapa film-film spionase seperti James Bond dan yang lainnya. Juga, adanya beberapa referensi pop culture yang diolah menjadi jokes yang menarik meskipun bagi penonton yang kurang memahami masih bisa menerima guyonan itu. Tetapi, akan lebih terasa menyenangkan jika penonton lebih mengetahui beberapa referensi budaya pop itu karena akan menambah tingkat keasyikannya.

Jika membicarakan film mata-mata, jangan lupakan alat-alat canggih yang digunakan saat melaksanakan tugas. Kingsman : The Secret Service pun tak lupa menyelipkan alat-alat canggih yang menyenangkan. Sesuai dengan tone cerita Kingsman : The Secret Service yang classy, alat-alat canggih itu diselipkan ke barang-barang yang tak terduga. Dengan berbabagai macam alat-alat canggih yang tak terduga itu, setelah selesai menonton, para penonton pasti akan mengidam-idamkan alat canggih di dalam film Kingsman : The Secret Service.

Baku hantam dan adu tembak di dalam film Kingsman : The Secret Service pun menjalankan tugasnya. Tak hanya sekedar tembak sana-sini dan berisik, lebih dari sekedar itu karena akan banyak sekali adegan-adegan kekerasan yang jatuhnya menyenangkan dan terkenang setelah keluar dari bioskop. Meskipun, ada 12 menit adegan di gereja yang harus dipotong oleh LSF dan katanya itu adalah bagian terbaik dari Kingsman : The Secret Service. Tetapi tak perlu bersedih karena masih ada banyak adegan aksi yang menyenangkan.


Kingsman : The Secret Service mungkin masih sedikit terbatas dalam bertutur. Karena subplot yang mungkin terlalu banyak. Alhasil, ada beberapa latar belakang karakter yang tidak sebegitu tuntas dalam bercerita dan hal itu terjadi pada karakter Harry Hart. Yah, mungkin ada sekedar cerita atau adegan formalitas untuk menjelaskan kenapa Harry melakukan itu. Tetapi, adegan tersebut hanya terjadi begitu singkat dan tak terlalu memberikan dampak signifikan terhadap apa yang dilakukan oleh Harry di dalam filmnya. 

Tetapi, Kingsman : The Secret Service tak perlu banyak bercerita yang terlalu rumit karena akan membuatnya menjadi terlalu serius. Matthew Vaughn berhasil memberikan sebuah paket lengkap di dalam film adaptasi komiknya ini. Saat menyaksikan film spionase ini, penonton mendapatkan segala apa yang mereka inginkan mulai dari cerita, adegan aksi, serta komedi renyah dengan balutan adegan gore yang menyenangkan dan memorable. Ya, Kingsman : The Secret Service akan dengan mudah menjadi favorit para penonton. 

CINDERELLA (2015) REVIEW : Old-Fashioned Fairy Tale Without Lose it Magic


Dongeng sebelum tidur kembali dihadirkan di zaman yang sudah serba modern. Sesuatu hal yang menyenangkan ketika akhirnya anak-anak di era ini kembali merasakan dan mengetahui cerita indah di negeri dongeng ini. Tetapi, sayangnya, dongeng-dongeng itu mengalami beberapa perubahan agar bisa mendapatkan pasar yang lebih besar dan lebih universal. Cerita-cerita usang itu entah diceritakan dengan adanya pendewasaan karakter, lebih gelap, atau ingin membuat dongeng tersebut memiliki cerita yang lebih multidimensional daripada sebelumnya.

Snow White, Sleeping Beauty, dan Alice in Wonderland sudah pernah mengalami penceritaan kembali dan mengalami ekspansi di film-film mereka. Dan tak sedikit dari film-film tersebut tak bisa mendapatkan daya magisnya layaknya dongeng-dongeng yang mereka jadikan kiblat. Sekarang, giliran dongeng Cinderella yang dijadikan film live-action oleh Disney dan disutradarai oleh Kenneth Branagh. Uniknya, Cinderella versi baru ini tak perlu mengubah cerita dan mencoba untuk tetap setia dengan sumber aslinya. 


Bagi yang sudah mengenal dongeng Cinderella, pasti sudah sangat tahu seperti apa persisnya cerita dari Cinderella ini. Bermula dari Ella (Lily James) yang hidup bahagia dengan kedua orang tuanya. Tetapi, sang Ibu harus meninggalkan Ella karena sakit yang berkepanjangan. Setelah beberapa tahun, sang Ayah bertemu dengan seseorang bernama Lady Tremaine (Cate Blanchett). Wanita yang sedang digila-gilai oleh ayah Ella memiliki dua anak, Drisella (Sophie McShera) dan Anastasia (Holliday Grainger). Mereka pun menikah dan Ella kembali memiliki sosok ibu di dalam hidupnya.

Tetapi, ketika sang Ayah kembali merantau, berita buruk menghampiri Ella. Sang ayah meninggal saat perjalanan kembali ke rumah karena sakit yang tak kunjung sembuh. Ibu Tiri Ella dan kedua kakak tirinya menganggap Ella sebagai seorang pembantu yang harus melayaninya setiap saat. Tetapi ditengah penderitaannya, Ella malah bertemu dengan seorang pangeran tampan bernama Kit (Richard Madden) dan dia jatuh cinta padanya. 


Sebuah langkah yang mengejutkan dari Kenneth Branagh, ketika memutuskan untuk membuat film Cinderella miliknya ini menjadi film yang sangat setia dengan dongengnya. Mungkin akan menjadi sebuah resiko yang cukup besar juga, karena Cinderella tak menyuguhkan sesuatu yang berbeda dengan dongengnya yang sudah sering penontonnya dengar. Sehingga, penonton merasa tak memiliki alasan untuk harus menyaksikannya dalam layar besar.

Tetapi, Disney tahu benar pangsa mereka, Cinderella pun dikemas dalam kemasan yang menarik sehingga penonton akan berbondong-bondong pergi menyaksikan filmnya. Tanpa perlu mengekspansi atau bertutur lebih dewasa dari dongengnya, Cinderella mampu merekap cerita yang sudah usang itu menjadi sajian dengan tutur yang sangat lembut tanpa meninggalkan kemagisan dongeng aslinya. Ya, 100 menit milik Cinderella ini adalah cara instan untuk mendapatkan cita rasa klasik dongengnya.

Tanpa mengemban misi yang berlebihan, Cinderella berhasil menyajikan sesuatu yang sederhana. Malah, Cinderella garapan Kenneth Branagh ini berhasil mengeluarkan daya magisnya dan menciptakan suasana negeri dongeng yang kental. Juga disokong oleh Chris Weitz dalam departemen naskahnya yang mampu bertutur dengan sangat lembut. Juga diwarnai dialog-dialog cerdas tanpa yang masih menunjukkan kemewahan dan sikap anggun seperti karakter-karakternya. 


Memang tak melulu Cinderella milik Kenneth Branagh ini sangat setia dengan sumber aslinya. Lewat naskah milik Chris Weitz juga, Cinderella menjadi lebih kaya cerita dibandingkan dongeng sebelumnya. Terlebih, pengembangan karakternya pun tak menjadi komikal layaknya sumber aslinya. Para karakter ?terutama karakter antagonis ?menjadi lebih multidimensional dan berhasil memiliki yang sebenarnya bertujuan mengekspansi tetapi dalam batas yang wajar. Bukan serta merta memperluas sudut pandang, tetapi lebih kepada menunjukkan sisi vulnerable dari setiap karakternya.

Cinderella versi Kenneth Branagh ini tak hanya menjual mimpi seorang gadis untuk mendapatkan pria idamannya. Tetapi, ada sisi emosional tentang keluarga, berbuat baik, keberanian, dan cinta yang tak hanya berasal dari pasangan, tetapi dari siapapun itu. Dan sang sutradara berhasil menyampaikan setiap detil pesan dengan sangat baik dan penonton sangat bisa memiliki relasi yang kuat karena bagaimana Kenneth Branagh sangat kuat dalam mengarahkan filmnya.

Tak perlu diragukan masalah production value di dalam film Cinderella. Kostum, setting tempat, dan detil-detil lainnya tentu akan digarap dengan serius. Sehingga, segalanya nampak serasi dan menghibur mata yang memandang layaknya Cinderella yang baru mendapat gaun baru dari sang Ibu Peri. Juga, penataan kamera yang menarik sehingga terlihat memaksimalkan format IMAX yang digunakan di film ini. Tanpa efek tiga dimensi, gambar-gambar di film ini terasa dekat di mata penontonnya. 


Daya magisnya pun dikuatkan oleh performa hebat dari para aktor dan aktrisnya. Lily James sangat berhasil menjadi sosok yang gampang mendapat simpati penonton saat memerankan Cinderella. Begitu pula dengan Cate Blanchett yang tak perlu diragukan lagi memerankan sosok antagonis, Lady Tremaine, tanpa kehilangan keanggunannya. Penampilan singkat tapi memikat dari Helena Bonham Carter sebagai Fairy God Mother juga dapat menarik perhatian penontonnya.

Tanpa perlu memegang ambisi untuk menjadi lebih besar dari sumber dongeng aslinya, Cinderella garapan Kenneth Branagh ini berhasil merangkum dan mencapai segala kemagisan sumber aslinya. Bukan hanya menceritakan kembali, tetapi juga memperkaya cerita dengan menyelipkan pesan-pesan tentang mimpi dan harapan. Maka, Cinderella adalah sebuah bukti bahwa tak perlu berambisi untuk mengekspansi atau bertutur lebih dewasa dari sebuah dongeng. Cukup dengan setia dengan sumber, bertutur dengan lembut dan arahan yang kuat, akan ada sebuah keajaiban datang ke dalamnya.