Showing posts with label 2 stars. Show all posts
Showing posts with label 2 stars. Show all posts

Thursday, 21 January 2016

BULAN TERBELAH DI LANGIT AMERIKA (2015) REVIEW : Cerita Terorisme Islam yang Diteroriskan

Kesuksesan dalam menggaet penonton mungkin menjadi salah satu poin penting bagi perfilman Indonesia. Entah, dengan menggaet jutaan penonton, hal tersebut bisa menebus modal yang sudah dikeluarkan oleh film tersebut atau tidak. Mungkin ini juga yang menjadi alasan mengapa novel-novel terbaru milik Hanum Salsabila Rais diangkat menjadi sebuah film layar lebar. Apalagi setelah 99 Cahaya Di Langit Eropa sukses menggaet total 1,5 juta penonton di dalam dua filmnya. 

Bulan Terbelah di Langit Amerika jelas diharapkan oleh Maxima Pictures menjadi sebuah Box Office Hit yang bisa mengekor kesuksesan film sebelumnya. Meskipun, proyek ini berada di tangan sutradara yang berbeda. Rizal Mantovani menggantikan Guntur Soeharjanto sebagai komandan tertinggi untuk mengarahkan perjalanan selanjutnya dari Hanum dan suaminya di negara Amerika. Bulan Terbelah di Langit Amerika tetap didukung dengan aktor aktris ternama Indonesia.

Sama seperti 99 Cahaya di Langit Eropa, Bulan Terbelah di Langit Amerika ini masih menjual eksistensi agama Islam di negara selain Indonesia. Tak seperti Guntur Soeharjanto, Rizal Mantovani membuat Bulan Terbelah Di Langit Amerika kehilangan poin utama dari filmnya. Alih-alih membahas terorisme agama yang menyerang agama Islam di negara Amerika, Bulan Terbelah di Langit Amerika malah jatuh menjadi sebuah film drama rumah tangga berbumbu islami. 


Diawali dengan bagaimana Hanum (Acha Septriasa) ditugaskan oleh bosnya untuk mengulik dan menulis artikel dengan judul ?What The World Would Be Better Without Islam??. Hal ini dikarenakan karena video yang terunggah di sebuah situs dengan judul ?Where?s My Dad?? yang bercerita tentang bagaimana ayahnya disangka teroris saat tragedi 9/11. Hanum pergi ke Amerika untuk mewawancarai narasumbernya yaitu Azima (Rianti Cartwright), Ibunda dari anak kecil tersebut.

Tetapi, perjalanan Hanum tak bisa berjalan mulus. Azima menolak dan menyuruh pergi Hanum karena isu yang dibahas sangat sensitif dengan warga Amerika. Hanum pun mulai memutar otak untuk mencari cara bagaimana bisa mendapatkan jawaban dan konten sebagai dasar tulisannya. Hanum tak berangkat sendirian, dia ditemani oleh sang suami, Rangga (Abimana Aryasatya) yang kebetulan juga mempunyai urusan di sana. Perjalanan mereka di negara Amerika tak hanya untu memenuhi tugas satu sama lain, tetapi juga menguji urusan rumah tangga mereka. 

 
Terorisme memang sering sekali disangkutpautkan dengan agama Islam. Sehingga, kejadian apapun yang mengatasnamakan terorisme jelas akan menyerang agama Islam. Hal ini juga terjadi ketika kejadian 9/11 terjadi. Salah satu kejadian paling fenomenal di dunia yang juga sekali lagi mengatasnamakan terorisme sebagai tersangka. Hal ini lah yang mendasari poin utama dari Bulan Terbelah di Langit Amerika. Mencoba mengangkat derajat agama Islam yang terlanjur memiliki citra buruk tentang sebuah terorisme.

Entah tak tahu seperti apa konten dari sumber aslinya, Bulan Terbelah di Langit Amerika sebenarnya berani menawarkan premis cerita yang seharusnya bisa menjanjikan. Usaha untuk membangkitkan kembali eksistensi yang lebih baik tentang agama Islam yang sudah menjadi kambing hitam tentang terorisme. Nyatanya, Rizal Mantovani tak menangkap secara baik poin utama dari Bulan Terbelah di Langit Amerika yang lebih menjanjikan ini.

Alih-alih membahas lebih dalam tentang minoritas Islam di negeri orang, Rizal Mantovani hanya bermain aman mengulik dapur rumah tangga Hanum dan Rangga dengan nafas islami. Tak lupa penggalan-penggalan kitab suci diselipkan ke beberapa dialog yang mungkin hanya sekedar menjadi sebuah orgasme para pengguna atribut keagamaan yang sama dengan karakter utamanya. Tak menjadi sebuah dialog simbolis yang dihadirkan sebagai sebuah bahan renungan tentang tuhan dan agama. 


Rizal Mantovani membanting setir poin utama dari Bulan Terbelah di Langit Amerika menjadi sebuah film romansa dewasa tentang pernikahan. Dialog-dialog simbolik tentang bulan terbelah memang ada dan menyangkut dua poin penting filmnya yaitu terorisme agama dan romansa pernikahan. Hanya saja Rizal Mantovani tak bisa menggabungkan kedua hal itu dengan irama yang sama. Maka perumpaan simbolik itu terkesan menggelikan dan tak dapat mendapat benang merah dari kedua poinnya.

Tak dapat dipungkiri, para pemain di film ini memiliki ikatan emosional yang sangat baik. Acha Septriasa, Abimana Aryasatya, Nino Fernandez, dan Hannah Al-Rashid bisa membuat Bulan Terbelah Di Langit Amerika tak jatuh terlalu dalam. Penampilan mereka berhasil membuat Bulan Terbelah di Langit Amerika memiliki poin menarik dalam mengulik romansa dewasa tentang pernikahan. Hanya saja ketika landasan agama yang diselipkan ke dialognya, ada sesuatu yang mengganjal hadir di dalamnya. 



Terasa ada keraguan menyertai mereka yang sedang tak tahu maksud secara lebih dalam tentang landasan agama yang mereka lantunkan di dalam dialog mereka. Sehingga, apa yang mereka tampilkan pun terkesan dibuat-buat. Mereka sendiri terlihat tak nyaman dengan atribut-atribut agama yang berusaha mereka kenakan untuk mendalami karakter yang dimainkan. Tetapi, tanpa atribut itu, calon penonton yang sudah mereka targetkan tak akan berbondong-bondong hadir ke bioskop untuk menyaksikan film ini.

Bukan suatu yang salah ketika menyelipkan drama romansa pernikahan ke dalam film Bulan Terbelah di Langit Amerika. Hanya saja, Rizal Mantovani belum benar mencarikan benang merah yang mampu menggabungkan perumpamaan simbolik tentang bulan terbelah dengan dua poin utamanya. Ikatan emosional para pemainnya dan kualitas akting mereka memang sudah mumpuni. Hanya saja, bagaimana mereka masih merasa canggung dengan atribut agama yang mereka kenakan di dalam karakternya yang membuat Bulan Terbelah di Langit Amerika terkesan tak nyata. 

SUNSHINE BECOMES YOU (2015) REVIEW : Pertunjukkan Cinta Pura-Pura


Sebagai bulan di mana film-film Indonesia dengan mudah menarik penonton, Desember menjadi ajang di mana rumah produksi bersaing satu sama lain untuk mencetak box office hit. Salah satunya adalah Hitmaker Studios yang selama ini berhasil mencetak beberapa film yang menduduki 10 besar film terlaris setiap tahunnya. Jelas, di tahun ini Hitmaker Studios tak mau kalah untuk membuat film yang memiliki potensi untuk menjadi box office hit.  
 
Alih-alih membuat film horor lainnya, Hitmaker Studios membuat sebuah film dengan genre berbeda di bulan desember 2015. Diangkat dari sebuah buku best seller karangan penulis ternama, Ilana Tan, Rocky Soraya bermain dalam genre roman picisan yang digadang dapat menggaet banyak penonton. Sunshine Becomes You berbekal banyak sekali potensi untuk menggaet banyak penonton. Bukan sekedar berbekal novelnya yang best seller, pemilihan aktor aktris utamanya juga menjadi poin penting dari film terbaru arahan Rocky Soraya ini.

Mencoba bermain di genre yang berbeda dari pakem rumah produksinya menjadi langkah yang mengagetkan. Rocky Soraya memang tak pertama kali mengarahkan sebuah film romance, sudah ada Chika yang pernah ia arahkan. Konten yang ada di Sunshine Becomes You sudah terlihat cukup lemah lewat premis yang biasa. Tetapi, Rocky Soraya membiarkan premisnya tanpa bisa berkembang dan dikemas menjadi lebih baik. Sunshine Becomes You hanya menjadi sebuah roman picisan tanpa ada usaha. 


Mia Clarke (Nabilah JKT48), seorang guru sanggar tari terkenal di New York berteman dengan Ray Hirano (Boy William) sejak lama. Mereka berdua berada di sanggar tari yang sama meskipun memiliki genre tari yang berbeda. Ray jatuh hati kepada Mia sejak lama dan dia mencoba untuk mengajaknya jalan dan bertemu dengan kakaknya. Alex Hirano (Herjunot Ali), kakak dari Ray Hirano yang juga seorang pianis handal yang sudah terkenal.

Tetapi, Alex memiliki sifat buruk yang bisa menjadi bencana bagi orang-orang sekitarnya. Sifatnya yang terlalu perfeksionis membuat orang-orang takut berurusan dengannya. Ketika Ray ingin mengenalkan Mia kepada Alex, sesuatu terjadi terhadap Mia. Secara tak sengaja, Mia jatuh dari tangga dan menabrak Alex sehingga menyebabkan tangan Alex patah sementara. Di saat masa pemulihan, Mia beri?tikad baik untuk membantu Alex selama masa pemulihan. Dan semakin lama, Alex juga jatuh hati dengan Mia. 


Tak memiliki premis yang kuat, Sunshine Becomes You memiliki potensi untuk menjadi sebuah roman picisan yang hatuh menjadi terlalu biasa. Perlu pengemasan yang segar dan pengarahan yang menarik untuk membuat premis dari Sunshine Becomes You agar menjadi sebuah film drama cinta remaja yang berbeda. Sayangnya, Rocky Soraya tak memperhatikan semua itu. Sunshine Becomes You pun masih terperangkap dengan beberapa poin yang ada di dalam film drama cinta remaja yang repetitif.

Tak ada yang salah ketika mengusung drama disease-porn dengan bumbu romansa cinta cheesy di dalam sebuah film. Ya, beberapa orang memerlukan itu untuk mencari tempat pelarian diri dari drama hidup yang berat dengan merefleksikannya ke dalam film seperti ini. Tetapi, harus memiliki penanganan yang baik agar film seperti ini bisa menjadi pelarian diri yang menyenangkan. Sunshine Becomes You absen memberikan sajian menarik malah cenderung memberikan presentasi yang kurang percaya diri.

Soraya bersaudara memang tak pernah absen mengemas tampilan filmnya secara mewah dan hal itu juga terjadi di Sunshine Becomes You. Banyak beberapa shot yang menarik dan membuat Sunshine Becomes You tampak sangat meyakinkan dengan konten yang apa adanya. Sayangnya, tampilan yang menarik itu tak didampingi secara signifikan dengan bagaimana Rocky Soraya menceritakan 126 menit dari Sunshine Becomes You. Menjadikannya sebuah drama cinta bertele-tele yang tak sebanding dengan panorama indah kota New York yang berusaha keras mereka tampilkan. 


Herjunot Ali memang masih bisa memberikan penampilan yang meyakinkan sebagai seorang yang perfeksionis. Karakter-karakter yang diperankan oleh Herjunot Ali pun terasa repetitif dan tak memiliki sesuatu yang berkembang lebih lagi. Sebagai aktor yang tampil secara individu, Herjunot Ali bisa bermain menarik. Tetapi, ketika sudah bermain bersama dengan sang lawan main, Nabilah JKT 48 ada hal yang terasa dibuat-buat. Ada kehampaan ikatan emosi antar dua individu meski bermain dalam satu film.

Nabilah memang bisa menarik massa yang cukup banyak karena rekam jejaknya sebagai anggota JKT 48. Hanya saja, sebagai seorang bintang baru masih banyak sekali poin-poin penting yang harus diasah lebih kuat. Bagaimana Nabilah hanya sekedar menghafal dan melantunkan dialog tanpa memberikan penekanan sana sini agar apa yang ia lakukan tak terkesan dibuat-buat. Perannya tenggelam karena Herjunot Ali berusaha kuat agar Sunshine Becomes You terlihat menarik. 


Poin penting yang harus diperhatikan dari Sunshine Becomes You, bagaimana Rocky mengadaptasi sumber dari Ilana Tan. Dengan premis yang sudah bukan menjadi kekuatan utama, adaptasi yang ditulis ke dalam skripnya pun tak bisa menyokong premisnya yang lemah. Banyak sekali dialog-dialog klise yang dimasukkan ke dalam naskah filmnya. Itu pun diperlemah lewat bagaimana aktor aktrisnya membawakan setiap dialog filmnya yang tak memiliki keterikatan.

Alih-alih membawa Sunshine Becomes You menjadi sajian segar, Rocky Soraya malah bermain aman dan secara repetitif mengulangi kesalahan drama cinta remaja yang sudah ada di perfilman Indonesia. Meski Dikemas dengan presentasi yang mahal untuk dipandang oleh mata penontonnya, tetapi penampilan dan ikatan emosi yang ditampilkan oleh para pemainnya tak dapat meyakinkan penonton bahwa kedua karakter utamanya sedang jatuh cinta. Sehingga, Sunshine Becomes You merupakan sebuah drama cinta yang mencurangi penontonnya karena mereka tak benar-benar terlihat jatuh cinta.

Wednesday, 25 November 2015

DI BALIK 98 (2015) REVIEW : Keterbatasan Dunia Fiktif dalam Setting Nyata


Para pelakon di bidang akting merambah keahlian mereka di dunia balik layar perfilman memang sedang menjadi tren. Mereka mencoba untuk mengarahkan film mereka sendiri, meskipun beberapa masih ada yang mencoba keahlian mereka lewat film pendek. Reza Rahadian, Acha Septriasa, Ladya Cheryl, dan Lukman Sardi awalnya juga memulai debut mereka lewat film pendek. Lukman Sardi memberanikan diri untuk mengasah lagi kemampuannya dalam mengarahkan sebuah film panjang yang di rilis di bioskop.
 
Lewat production house, MNC Pictures, yang diproduseri oleh Affandi Abdul Rachman, Lukman Sardi mengarahkan film dengan tema tragedi 98. Isu yang memiliki interpretasi luas dan menjadi salah satu tragedi yang menjadi sejarah transisi negara Indonesia. Lukman Sardi menggambarkan kejadian bersejarah itu lewat filmnya berjudul Di Balik 98. Film ini memiliki nama-nama terkenal seperti Chelsea Islan, Boy William, dan masih banyak nama-nama lainnya. 


Di Balik 98 adalah universe fiktif milik Lukman Sardi yang menggunakan latar belakang kejadian 98. Di mana memiliki banyak karakter untuk menjalankan beberapa cerita tematis untuk setiap karakternya. Di mana Diana (Chelsea Islan), seorang aktivis di Universitas Trisakti yang sangat melawan keotoritasan Soeharto pada saat itu. Diana adalah adik dari seorang Tentara bernama Bagus (Donny Alamsyah) dan pegawai dapur Istana bernama Salma (Ririn Ekawati). 

Di dalam rumah, pendapat mereka pun saling berlawanan. Diana pun mempunyai teman laki-laki bernama Daniel (Boy William). Daniel adalah lelaki keturunan tiongkok yang hidup bersama ayah dan adiknya. Etnis tiongkok yang sangat terancam di tragedi 98 ini tentu memengaruhi kehidupan Daniel dan keluarganya. Juga ada Ayah dan Anak gelandangan yang hidup kesusahan saat tragedi itu berlangsung. 


Menggabungkan tema cinta, keluarga, dan politik dengan setting tahun 1998 bukanlah perkara mudah. Tema tragedi 98 ini pun adalah sebuah tema yang sangat besar, perlu ketrampilan yang sangat baik untuk menyampaikan pesannya dengan baik kepada penontonnya. Tentu, Lukman Sardi mengemban tugas berat apalagi ini adalah debut pertamanya di layar lebar. Pintarnya, Lukman Sardi menggunakan sebuah cerita fiktif agar tak salah langkah di dalam pengarahannya.

Lukman Sardi ingin menyampaikan sebuah film dengan berbagai sudut pandang ras atau etnis dan kelas sosial saat tragedi 98 ini berlangsung. Sebuah pemikiran yang hebat dan besar meski jika salah sedikit, ini akan menjadi bumerang hebat bagi filmnya. Di Balik 98 adalah film dengan pemikiran hebat dan besar yang dijadikan dasar dalam menjalankan ceritanya. Tetapi, treatment yang masih belum sempurna ini membuat pemikiran hebat ini terhambat.

Untuk deliver sebuah cerita, apalagi dengan karakter yang sangat banyak butuh detil arahan yang baik. Sebagai debutan, Lukman Sardi masih perlu mengasah lagi kemampuannya dalam menyampaikan cerita dengan baik. Di Balik 98 memang memiliki cerita yang sederhana, tapi dengan catatan untuk setiap karakternya. Terbuai oleh kesederhanaan cerita, film ini tak sadar bahwa akan memiliki kompleksitas apalagi ada beberapa karakter yang saling berhubungan. 


Di sinilah salah satu sisi negatif dari Di Balik 98, bagaimana semua cerita sederhana di film ini pun tidak bisa membuat penontonnya untuk bertahan. Cara bertuturnya pun tersendat-sendat di dalam durasinya yang hanya 95 menit. Akhirnya, Di Balik 98 pun memiliki tempo cerita yang melambat saat durasinya semakin bertambah. Di sini terlihat bagaimana Lukman Sardi sangat berhati-hati saat mengarahkan filmnya. 

Tetapi, kehati-hatian sang sutradara harus mengorbankan suasana hati penonton yang tak pernah diajak naik. Penonton yang tak pernah menjamani era 98 tersebut pun tak pernah tahu bagaimana tegang, riuh, dan takutnya zaman itu. Meskipun hal-hal tersebut ditampilkan dengan nyata lewat adegan-adegannya, tetapi adegan tersebut pun kosong, tak memiliki nyawa atau suasana sebesar penggambaran adegan mereka. 


Film ini mempunyai banyak sekali karakter saat menggerakkan cerita. Tetapi, ruang untuk bergerak itu sangat sempit. Banyak sekali karakter yang akhirnya tidak memiliki tujuan yang jelas atau hanya tampil sebagai formalitas. Semua karakter pun tidak dapat bergerak bebas, banyak sekali cerita yang terasa belum selesai atau malah belum tersampaikan. Maka, tujuan Lukman Sardi untuk akhirnya menggabungkan beberapa tema cinta, politik, dan keluarga pun akhirnya gagal di dalam film perdananya ini.

Beruntung, Lukman Sardi masih sadar dalam memberikan detil-detil kecil dalam production value-nya di film ini. Beberapa cameo dari tokoh-tokoh besar, tempat-tempat yang digarap sama dengan zamannya, sehingga Di Balik 98 masih dapat digolongkan sebagai sebuah film yang masih digarap serius oleh sineasnya. Meskipun minim tragedi bersejarah karena Lukman Sardi memang memfokuskan ke dunia fiktif buatan dirinya sendiri. 


Sebagai debutan, Lukman Sardi sudah memiliki bakat untuk mengarahkan sebuah film. Karena beberapa hal teknis membuat Di Balik 98 masih dikategorikan sebuah film yang digarap secara serius. Namun, Lukman Sardi perlu untuk mengasah kemampuannya lagi dalam bidang penyutradaraannya. Lukman masih terlihat kesusahan untuk menyampaikan pesannya kepada penonton lewat karakter-karakter fiktifnya dengan setting tahun 98 yang notabene masih susah untuk diolah. 

FOCUS (2015) REVIEW : They Losin? it Focus.


Melakukan pekerjaan penuh trik atau tipuan akan sangat riskan jika trik tersebut sudah basi. Begitu pun di dalam sebuah film, trik atau tipuan akan menjadi sebuah premis yang menyenangkan dengan dukungan packaging yang baik. Glenn Ficarra dan John Requa mencoba menggunakan trik dan tipuan dalam mencuri sebagai dasar cerita di film terbarunya berjudul, Focus. Dengan Will Smith dan Margot Robbie yang digunakan sebagai pelakon utamanya.

Tak seperti judulnya ?Focus ?film garapan duo sutradara yang menangani Crazy, Stupid, Love dan I Love You Philip Morris ini pun menjadi sebuah ironi. Film terbarunya ini malah kehilangan satu poin yaitu fokus, fokus dalam menangani plot cerita yang digunakan, plot cerita dasar untuk menggerakkan subplot lainnya. Dan pada akhirnya, Focus ini malah terdistraksi oleh subplot-subplot kecil yang terkesan episodik di setiap babak filmnya.  


Toh, plot dari Focus ini sebenarnya menceritakan bagaimana Jess (Margot Robbie), wanita yang ternyata doyan melakukan pekerjaan kriminal yaitu mencuri. Saat di sebuah bar, dia bertemu dengan Nicky (Will Smith) yang ternyata seorang pencuri yang sudah memiliki kredibilitas yang tinggi. Jess yang tergila-gila dengan uang pun mencoba untuk masuk ke dalam dunia milik Nicky yang penuh trik. Jess pun melakukan segala cara untuk lolos tes yang dilakukan oleh Nicky.

Jess pun berhasil masuk ke dalam dunia milik Nicky dan melakukan banyak sekali misi untuk mencuri beberapa barang dari seseorang. Jess pun semakin mahir dan berkembang sangat banyak karena Nicky dan mengajaknya ke sebuah pertandingan American Football terbesar. Di sana lah, Nicky dan Jess melaksanakan misi besar mereka, mencari mangsa-mangsa baru yang lebih besar dan lebih ber-uang di acara ini. 


Ketika big point itu berlangsung cukup menarik di babak awal film ini, lambat laun film ini semakin melemah. Tak menunjukkan premis menariknya lagi untuk menggerakkan subplot-nya, tetapi malah subplot itu yang menggerakkan cerita secara keseluruhan. Maksud untuk menambah intrik cerita, konflik love interest antara Jess dan Nicky pun menjadi satu kelemahan yang tampil sangat menonjol di dalam film ini.

Focus pun akhirnya banting setir menjadi film romance dengan bumbu kriminal, bukan sebaliknya. Karena subplot love interest itu menjadi sangat mendominasi cerita dan tidak mempedulikan premis utama dari film Focus. Boleh lah ada bumbu romance tapi jangan sampai melupakan kulit utama film yang mau ditampilkan. Film pun terasa terbabak dengan subplot yang berbeda di setiap babaknya. Dan akhirnya semakin menuju akhir, Focus menampilkan performa yang sangat lemah dan berantakan.

Subplot love interest yang masih menjadi borok utama film ini dan tak coba untuk ditutupi, ternyata diperbesar lewat subplot masa lalu Nicky yang bermaksud menambah twist and turn untuk mewakili premis utama yaitu trik atau tipuannya, tetapi malah semuanya terjadi sangat tiba-tiba dan sangat berantakan. Focus benar-benar kehilangan kefokusannya, Glenn Ficarra dan John Requa benar-benar lepas kendali dalam mengolah Focus menjadi sajian yang rumit tapi menyenangkan. 


Beruntunglah, penampilan manis dan menggoda dari Margot Robbie masih bisa membuat penontonnya (khususnya penonton lelaki) senang menonton film ini. Will Smith masih tampil dengan porsinya yang pas, masih memberikan chemistry yang apik dengan lawan mainnya. Meskipun, Will Smith masih kalah scene-stealer dari Adrian Martinez yang berhasil membuat film ini masih memiliki unsur komedi yang bisa dinikmati. 

Maka, Focus adalah sebuah ironi yang tragis dari judul dan tagline filmnya. Film arahan Glenn Ficarra dan John Requa ini malah kehilangan satu poin yaitu fokus dalam menjalankan ceritanya. Subplot-subplot kecil yang mendominasi dan melupakan satu premis utama film ini menjadikan Focus semakin melemah di setiap menitnya. Juga, Focus akan terasa  sangat episodik di setiap babak dengan subplot yang berbeda. But, it has Margot Robbie and Adrian Martinez as a weapon.
 

CHAPPIE (2015) REVIEW : Crappie Things with Big Message


Neil Blomkamp sempat membuat karya sensasional untuk debut pengarahannya. District 9, karya pertama miliknya mampu tembus Best Picture pada perhelatan penghargaan film terbesar, Academy Awards di tahun 2010. Berselang 4 tahun, Elysium rilis dan mendapatkan mixed reviews dari para kritikus dan juga para penikmat film. Maka, 2015 ini Neil Blomkamp kembali hadir menyapa penonton bioskop dengan film terbarunya.

Neil Blomkamp yang selalu bermain di genre science fiction, kembali menghadirkan genre ini di dalam film terbarunya berjudul Chappie. Chappie dibintangi oleh Hugh Jackman, Dev Patel, dan juga aktris legendaris yang terkenal lewat film Alien, Sigourney Weaver. Dibintangi oleh bintang-bintang besar pun belum tentu menjadi jaminan bahwa Chappie akan berhasil memberikan performan terbaiknya. Chappie memiliki pesan yang sangat indah tetapi presentasinya tak mampu mengangkat pesan yang indah itu.


Di dunia yang sudah teramat canggih, sebuah perusahaan besar membuat sebuah intelegensi buatan untuk membuat dunia aman. Robot-robot diciptakan untuk menjadi pembasmi kejahatan menggantikan tugas polisi. Dan, robot-robot itu dibuat oleh seseorang bernama Deon Wilson (Dev Patel). Robot buatannya berhasil menangkap gembong-gembong mafia besar dan ternyata malah membuat Deon dalam kesulitan yang sangat besar.

Deon yang merasa tidak puas dengan robot buatannya, membuat robot yang memiliki tingkat intelegensi yang sama dengan manusia. Di tengah dia akan membuktikannya, Deon harus berhadapan dengan mafia-mafia besar yang menginginkan robotnya. Alhasil, robot yang baru akan dia uji diberikan kepada gembong mafia tersebut karena banyak sekali ancaman. Robot itu dinamai Chappie (Sharlto Copley), robot yang memulai kehidupannya layaknya seorang bayi yang baru lahir di muka bumi.

Chappie memiliki pesan-pesan indah yang memiliki presentasi berbanding terbalik dengan pesan indah tersebut. Akan banyak sekali simbol-simbol dan lambang yang direpresentasikan ke dalam adegan-adegan film arahan Neil Blomkamp ini yang bisa dikaji secara teoritis tentang seorang pencipta, tuhan, atau pun sekedar pergeseran hirarki antara manusia dan teknologi yang sudah semakin jelas terlihat pada era globalisasi ini. 


Sayangnya, Neil Blomkamp tidak bisa menata rapi isi dari Chappie yang begitu indah. Skrip yang ditulisnya sendiri bersama dengan Terri Tatchell tidak memberikan karakterisasi yang kuat dan bisa relate kepada penontonnya. Alih-alih ingin menceritakan sudut pandang lain dari karakter yang dibuatnya, malah penonton akan merasa sangat kesal dengan bagaimana karakterisasi dangkal dari segala karakter di dalamnya.

Belum lagi diperparah dari bagaimana narasi film ini yang berjalan sangat kacau balau. Akan ada beberapa subplot yang sebenarnya tak terlalu menganggu poin besar dalam film Chappie. Tetapi, bagaimana Neil Blomkamp dan Terri Tatchell memadu dan memadankan subplot-subplot dengan poin besar di dalam filmnya belum begitu rapi. Sehingga, menyia-nyiakan pesan-pesan metaforik yang seharusnya akan lebih mengena kepada penontonnya ketika subplot tersebut berhasil disampaikan dengan cara yang lebih menarik dan halus.

Lupakan bagaimana hebatnya Neil Blomkamp di film lamanya, District 9 yang mampu mempresentasikan film debutnya tanpa perlu visual besar tetapi mengena di hati penontonnya. Maka, Neill Blomkamp ingin sekali mencerminkan kembali kesederhanaan District 9 ini ke dalam film terbarunya, Chappie. Tetapi, sang sutradara tak melupakan bagaimana dia sudah pernah besar lewat film Elysium sebagai film keduanya. Alhasil, Chappie seperti sebuah rangkuman dari kedua film milik Blomkamp yang pernah dia rilis. 


Jika sudah ada yang pernah menonton kedua film tersebut, maka tak usah heran jika akan merasakan sedikit nostalgia dengan beberapa adegan di dalam film Chappie. Terutama ending yang mencomot dari film District 9 untuk menyampaikan pesan indah terselubung di dalam film Chappie. Film terbaru milik sutradara Neill Blomkamp ini ingin sekali menggabungkan kekuatan-kekuatan yang ada di dalam filmnya. Tetapi, kekuatan-kekuatan itu berubah seketika menjadi kelemahan dan masalah yang paling besar di dalam film milik Blomkamp ini.

Jelas, daya tarik Chappie adalah Hugh Jackman dan Sigourney Weaver, untung-untung Dev Patel juga bisa jadi daya tarik. Tetapi, selain dua nama tersebut, Chappie tak memberikan hal baru di dalam filmnya. Chappie akan terlihat sebagai film kelas B dengan pemain-pemain kelas A. Didukung dengan presentasinya yang ?entah disengaja atau tidak ?berantakan, setting tempat yang kumuh, juga pengembangan karakternya yang tak kuat. 

 
Toh, pada akhirnya Chappie yang ingin sekali menyelipkan kritik-kritik sosial yang tajam soal stereotyping, anomali karakter, pesan tersembunyi tentang seorang pencipta atau tuhan, dan juga pergeseran hirarki manusia terbuang sia-sia. Pesan-pesan besar yang sebenarnya tak disampaikan dengan ambisius akhirnya gagal dengan bagaimana presentasi secara keseluruhan di dalam film terbaru milik Neil Blomkamp. Karakterisasi yang dangkal, subplot yang tak dapat berjalan secara halus, menjadi poin penting bahwa Neil Blomkamp terlalu dini untuk mendapatkan pujian dan spotlight besar di ajang bergengsi layaknya Academy Awards.  

MINIONS (2015) REVIEW : Over Spotlight for A Cameo


Menjadi sebuah peran kecil di suatu film layar lebar lantas tak membuat beberapa karakter ini menjadi tak memiliki sorotan. Scrat di Ice Age, Aliens di Toy Story, dan Minions di Despicable Me adalah karakter sampingan yang secara tak sengaja memiliki sorotan lebih dari penonton. Dan dewi fortuna berpihak kepada Minions yang pada akhirnya menjadi karakter yang disayangi oleh penontonnya karena tingkah lakunya yang menggemaskan. Dan juga, bahasa yang mereka gunakan dalam melakukan percakapan sehari-hari.

Karena ingin tak hanya dijadikan sebuah gimmick dalam film Despicable Me, Pierre Coffin memiliki berbagai juta alasan untuk menghadirkan Minions dalam sebuah satu film dengan durasi penuh 90 menit. Dalam Despicable Me seri kedua, Minions memang benar-benar mengambil alih screening time karakter-karakter utamanya. Dan hal tersebut mengakibatkan kacaunya plot utama yang harus berkorban demi karakter sampingan tersebut. Dan Pierre Coffin mempersembahkan sebuah cerita orisinil dari makhluk kuning yang mendukung kegiatan kejahatan Gru ini.

Sebuah spin-off yang ditujukan kepada para makhluk kuning menggemaskan ini tetap disutradarai oleh sang sutradara dari Despicable Me, Pierre Coffin. Film stand alone dari makhluk kuning ini pun berjudul sama dengan nama makhluk tersebut, Minions. Tentu, film Minions hadir sebagai sebuah kesempatan besar bagi makhluk kuning itu mendapatkan sorotan penuh. Hanya saja, Minions belum bisa menjadi sebuah hidangan utama yang lezat. Tak sama seperti saat mereka menjadi sebuah hidangan pendamping. 


Minions menceritakan sebuah cerita orisinil tentang para makhluk kuning itu. Mereka adalah asisten dari para penjahat yang ada di dunia. Mereka berpindah dari satu majikan ke majikan yang lain karena kecerobohan mereka yang selalu membuat nyawa majikan mereka terancam. Para Minions pun diburu dan tidak diinginkan lagi keberadaannya. Mereka pun tak memiliki majikan yang menyebabkan mereka tak memiliki semangat hidup lagi.

Dan Kevin, Stuart, dan juga Bob berusaha untuk menjadi Minions yang berani lagi mencari majikan yang pas bagi mereka. Mereka berpetualang untuk mencari majikan yang pas bagi mereka. Hingga suatu saat, mereka berada di sebuah pameran untuk orang-orang jahat dan bertemu dengan penjahat terkenal, Scarlett Overkill (Sandra Bullock). Kevin, Stuart, dan Bob menjadi asisten bagi Scarlett Overkill dan misi pertama mereka adalah mencuri mahkota ratu Inggris. 


Minions bisa dibilang adalah spin-off dan sekaligus menjadi sebuah prekuel bagi kehidupan kejahatan Gru dalam film Despicable Me. Minions mengambil setting waktu beberapa tahun sebelum dia bertemu dengan Gru. Sebagai sebuah prekuel, Minions memiliki beberapa poin menarik yang menjadi trivia bagi para fans seri Despicable Me. Mereka jadi tahu seperti apa dan bagaimana awal mula Gru memiliki Minions sebagai asisten mereka dalam melakukan tindakan kejahatan.

Sayangnya, sebagai sebuah Spin-Off, Minions gagal menjadi sebuah tontonan yang mengesankan penontonnya. Dengan adanya Minions, hal ini membuat Despicable Me seri pertama menjadi sebuah keberuntungan pemula dari sang sutradara. Minions pun seperti sebuah film yang seharusnya bisa berhenti dalam durasi paling maksimal 60 menit. Tetapi, durasi minions yang hanya 82 Menit terasa banyak sekali plot yang terlalu panjang dan beberapa adegan hadir untuk memenuhi durasi.

Kehadiran Minions dalam Despicable Me menjadi salah satu adegan yang akan dinantikan oleh penontonnya. Tetapi, berbeda ketika para makhluk kuning itu selalu hadir di sepanjang durasinya, mereka benar-benar tidak memiliki daya tarik lebih ketika memiliki origin story-nya sendiri. Hanya dengan bermodalkan beberapa dialog abstrak yang diadaptasi dari berbagai bahasa di dunia juga pengantar narasinya, Minions akan dengan mudah membuat penontonnya kelelahan untuk berusaha mengerti apa yang disampaikan oleh Minions. 


Kurang adanya relevansi bahasa atau pun sikap yang dilakukan oleh Minions terhadap penontonnya, membuat penonton tak memiliki rasa simpati lebih terhadap karakter Kevin, Stuart, atau pun Bob. Bahkan, karakter layaknya Scarlett Overkill tak bisa membuat plot utama dari film ini bergerak dengan lancar. Ada yang hilang dari karakter-karakter di dalamnya, tak ada nyawa yang bisa menggerakkan koneksi penonton dengan filmnya.

Layaknya para penjahat di dalam filmnya, film Minions memiliki suasana hati yang dingin. Pierre Coffin tak memikirkan sedikitpun keikutsertaan suasana hati penontonnya agar bisa menjaga relevansi di sepanjang 89 menit durasinya. Bahkan, tingkah laku menggemaskan para Minions pun telah dirilis lewat trailer-nya. Maka, hasilnya, tak ada sama sekali kejutan-kejutan manis yang berhasil membuat penontonnya pun tertawa. Hanya beberapa bagian yang akan membuat senyum simpul, bahkan untuk anak-anak.

Maka, bersyukurlah Minions masih memiliki kualitas animasi yang sangat mengagumkan. Detil-detil setiap gambar di dalam adegan film Minions mampu membuat penonton betah untuk melihatnya. Dan kekuatan dari Minions adalah desain karakter Minions yang unik dan juga menggemaskan, meski tak bisa diaplikasikan ke dalam tingkah lakunya di dalam film. Pun ada satu momen untuk penonton Indonesia di mana Minions mengucapkan beberapa bahasa Indonesia di dalam filmnya. Setidaknya Minions memiliki suatu Intermezzo untuk dibicarakan. 


Dan benar, karakter Minions sebagai seorang pendamping atau bahkan bisa dibilang Cameo di dalam film Despicable Me, tak bisa memiliki sinar yang sama ketika mereka mendapatkan kesempatan untuk bermain di dalam filmnya sendiri. Film Minions tak ubahnya menjadi sebuah film animasi yang ada hanya untuk memuaskan para fans dari Minions. Nyatanya, keberadaan Minions yang selalu muncul di sepanjang durasi malah membuat penontonnya tak memiliki relevansi dengan mereka. Maka, Minions hanya tepat disajikan sebagai makanan pendamping dalam Despicable Me

PIXELS (2015) REVIEW : Wasted 80?s Arcade Games Excitement


Banyak orang bilang, tahun 80an adalah sebuah era emas di mana banyak sekali sesuatu yang ikonik yang berasal dari era tersebut. Pun, pengaruh-pengaruh tata busana, musik, dan hal lain di era 80 itu diadaptasi lagi di era moderen ini. Dan, salah satu yang menjadi sebuah ikon dari tahun 80 adalah permainan analog. Permainan sangat terkenal di era tersebut dan melahirkan beberapa nama-nama permainan terkenal seperti Pac-Man, Donkey Kong, ataupun Space Invaders.

Dengan adanya dasar dari permainan analog yang biasa dikenal dengan Arcade ini, Patrick Jean mencari sudut pandang lain tentang permainan-permainan ini dalam sebuah film pendek. Chris Columbus yang merasakan adanya potensi dari film pendek milik Patrick Jean, ingin menjadikannya menjadi sebuah film utuh untuk layar lebar. Dengan judul yang sama ?Pixels ?Chris Columbus sendiri yang akan menangani film ini.


Menjadikan Pixels sebagai sebuah film aksi komedi, Chris Columbus mengajak Adam Sandler sebagai pemain utama di dalam film terbarunya. Adam Sandler dan film komedi lambat laun semakin menunjukkan kemundurannya. Beberapa filmnya tak memberikan performa menyenangkan yang dapat membuat penontonnya terhibur. Dan hal itu kembali terulang di dalam film milik Chris Columbus yang paling baru ini.

Di dalam Pixels, menceritakan tentang Brenner (Adam Sandler) yang pernah menjadi orang yang paling hebat di sebuah permainan analog saat masih belia. Brenner mengikuti sebuah kompetisi permainan analog untuk menunjukkan bahwa dia yang paling hebat. Di tempat kompetisi tersebut akan merekam permainan mereka ke dalam sebuah kapsul dan ditunjukkan ke satelit mereka dan ditujukan kepada planet baru di luar sana. 

Sayangnya, Brenner tak bisa mengalahkan Eddie (Peter Dinklage) di permainan Donkey Kong dan gagal menjadi yang terbaik. Setelah beranjak dewasa, Brenner menjadi teknisi alat elektronik dan melupakan kemahirannya dalam permainan analog tersebut. Tetapi, ada satu hal yang membuat keahlian Brenner kembali digunakan. Kapsul yang merekam permainan analog di luar angkasa tersebut disalahartikan oleh makhluk luar angkasa sebagai sebuah deklarasi perang. Alien tersebut membentuk diri sebagai sebuah permainan 8-bit dan menyerang bumi. 


Memiliki sebuah excitement yang menarik, tak lantas membuat Pixels milik Chris Columbus ini akan sama menariknya dengan excitement yang ditawarkan. Konflik yang ditawarkan di dalam Pixels memang tak memiliki sesuatu yang besar dan itu sebenarnya bukan menjadi masalah. Hanya saja, menjadikannya sebuah film komedi, Chris Columbus harusnya memiliki visi untuk menjadikan komedinya menjadi sesuatu yang universal bagi penontonnya.

Tim Herlihy selaku penulis naskah dari Pixels, melulu menyelipkan sebuah slapstik komedi yang semakin lama semakin basi. Menunjukkan tingkah laku yang sangat tak sopan dari karakter-karakternya tak lantas membuat filmnya menjadi sebuah film yang akan membuat penonton tertawa. Pun, Chris Columbus sangat gagal membuat penontonnya tertawa, meskipun dia tahu mana momen yang diharapkan oleh Chris Columbus menjadi momen untuk mengocok perut penontonnya.

Pun, komedi yang diangkat masih tak jauh-jauh dari sensualitas yang cenderung mendiskriminasi dan membuat penontonnya menggelengkan kepala. Pun hal tersebut menjadi sebuah minus besar, terlebih Pixels ditujukan sebagai sebuah film musim panas untuk keluarga. Dialog-dialog kasar dan disampaikan dengan nada tinggi oleh karakternya yang digunakan sebagai momen komedik di film ini malah terasa sangat menganggu penontonnya.


Performa tak menyenangkan Pixels tak berhenti dari bagaimana lelucon di dalam setiap momen film ini yang gagal disampaikan dengan baik. Pun, Chris Columbus masih kebingungan untuk mengarahkan konflik dari film Pixels ini. Alih-alih untuk mengisi durasi agar memenuhi syarat sebagai sebuah film lebar, beberapa adegan di film ini pun malah terasa terlalu panjang. Salahnya, hal tersebut tak memberikan sesuatu yang efektif dengan bagaimana cerita di dalam Pixels ini disampaikan.

Pixels akan terasa tertatih untuk menceritakan bagaimana konflik di dalamnya berlangsung. Bukan terbata-bata, tetapi penyampaian cerita yang sangat terasa cepat dengan durasinya yang mencapai 100 menit. Segala bentuk konflik akan terasa loncat tak beraturan dan tak bisa membentuknya menjadi sebuah linimasa cerita yang baik. Pixels pun seperti kehilangan beberapa keping adegan yang tentu membuat penontonnya terasa bingung.

Chris Columbus sepertinya terlalu sibuk untuk mengatur excitement terhadap permainan analog di tahun 80an ini ke dalam filmnya. Sehingga, cerita yang tak beraturan di setiap menitnya ini adalah resiko yang diambil oleh Pixels sebagai pengorbanan dalam memberikan excitement terhadap ikon permainan analog yang menimbulkan efek nostalgia bagi penontonnya. Dan hal itu menjadi sesuatu yang setidaknya menjadi nilai plus dari Pixels yang sudah gagal dari berbagai poin. 


Ingin menjadikannya sebagai sebuah sajian film musim panas keluarga yang menghibur, Pixels masih belum bisa mencapai tujuan tersebut. Dengan pengarahan, naskah, dan momen komedi yang terasa masih di bawah batas yang diinginkan, Pixels tak bisa menjadikan poin excitement dari permainan analog di tahun 80 ini menjadi kuat lewat presentasinya. Dan Pixels tak bisa menjadi sebuah medium nostalgia yang menyenangkan meskipun Chris Columbus masih memberikan excitement terhadap permainan analog ikonik di era emas tersebut.

SINISTER 2 (2015) REVIEW : Another Inferior Horror?s Sequel


Ketika sebuah film dianggap berhasil, tentu rumah produksi itu tak akan mensia-siakan potensi yang ada di dalam film tersebut. Salah satunya adalah dengan membuat sebuah sekuel terhadap film tersebut. Entah, film itu penting untuk dibuatkan sebuah sekuel atau tidak, yang jelas film ini akan menghasilkan banyak sekali uang terhadap sebuah rumah produksi karena mereka tak perlu susah-susah membangun hype dari awal. Meskipun, tak semua sekuel akan bisa benasib sama dengan film orisinilnya entah dari respon penonton atau pun pendapatan.

Tahun ini cukup banyak film-film sekuel yang bertebaran. Salah satunya adalah film horor arahan Scott Derrickson, Sinister. Di tahun ini, Sinister kembali hadir menyapa penontonnya ?khususnya untuk para pecinta film horor ?agar mereka merasa ditakut-takuti. Sayangnya, Scott Derrickson tak lagi kembali menangani film horor yang sebelumnya adalah miliknya. Ciaran Foy lah yang mengarahkan seri terbaru dari Sinister 2 kali ini.

Sinister 2 memang masih menggunakan benang merah yang menjadi film horor satu ini menjadi ikonik. Beberapa elemen supranatural dan sekte pemuja setan yang semakin lama semakin banyak digunakan di berbagai film horor mana pun masih juga dipakai oleh Sinister 2. Tetapi, Sinister 2 memiliki penurunan performa yang sangat drastis jika dibandingkan dengan prekuelnya. Ciaran Foy tak mampu mengarahkan Sinister 2 menjadi sajian yang mengerikan seperti apa yang ditawarkan oleh Scott Derrickson di film pertamanya. 


Seperti layaknya film-film horor lainnya, Sinister 2 pun memulai ceritanya lewat sebuah keluarga yang memiliki anak. Courtney (Shannyn Sossamon) pindah ke sebuah rumah bekas gereja karena baru saja bercerai dan menghindari suaminya yang tempramental. Dia pindah dengan kedua anak mereka Dylan (Robert Daniel Sloan) dan Zach (Dartanian Sloan). Mereka berdua merasakan ada yang aneh di dalam rumah yang mereka huni saat ini.

Dylan terbangun di tengah malam karena ulah sosok arwah anak kecil yang gentayangan di sekitar rumah mereka. Dylan pun bisa berinteraksi dengan arwah tersebut dan arwah itu menyuruh Dylan untuk menonton sebuah video pembalasan dendam untuk dia terapkan ke keluarga mereka. Semakin lama, Dylan merasa gusar dan merasa video yang dia tonton bukanlah sesuatu yang pantas untuk diserap oleh otaknya. Tetapi, arwah-arwah itu semakin menghantui dia dan bahkan keluarganya. 


Performa Sinister 2 yang turun drastis itu disebabkan oleh bagaimana premis cerita sekuel ini dibuat. Mungkin, film ini terlalu gamblang untuk menyampaikan apa yang hendak dimaksud oleh sang pembuat cerita kepada penontonnya. Pun dengan apa yang dirasa gamblang oleh penontonnya, Sang sutradara tak memiliki rasa untuk menutupi plot ceritanya. Tak ada rasa penasaran atas apa yang terjadi di rumah itu, yang membuat penonton merasa apa yang dia lihat tak lagi sesegar apa yang dia lihat di film pertamanya.

Jelas, hal ini akan mengurangi bagaimana Sinister 2 mencoba untuk bermain dengan ceritanya. Sang sutradara pun mengolah apa yang ada di naskah yang ditulis oleh Scott Derrickson dan C. Robert Cargill secara mentah-mentah. Pengarahan milik Ciaran Foy jelas apa adanya asal apa yang dia kerjakan selesai dan siap untuk disebarluaskan ke pasar. Banyak sekali elemen-elemen horor yang absen di dalam film Sinister 2.

Sinister yang lebih kental akan atmosfir horornya yang menyeramkan, tak lagi ada di dalam film keduanya. Sinister 2 berisikan banyak sekali jump scares murahan yang bahkan penonton akan dengan mudah menebak setiap adegannya. Hal itu semakin menambah minus di dalam presentasi di dalam film sekuel ini. Sinister 2 pun kekurangan ide-ide segar untuk membuat filmnya menjadi sebuah film yang menyamai presentasi di dalam filmnya. 


Sebenarnya, Sinister 2 pun tak menggunakan cara instan untuk menyalin template cerita yang ada di film sebelumnya. Dan hal itu seharusnya bisa menjadi potensi agar Sinister 2 bisa menampilkan sajian segar di dalam genre ini. Tetapi, tak serta merta membuat Sinister 2 kehilangan signature dari film orisinilnya. Di film ini pun masih memberikan beberapa template dari film sebelumnya dengan tetap ada video-video pembunuhan yang menjadi kekuatan di dalam film sebelumnya.

Pun, juga masih ada benang merah yang coba disambungkan oleh Ciaran Foy dari film pertamanya sebagai penjalan konflik di proyek sekuelnya. Meskipun, hal itu tak menjadi poin yang sangat signifikan untuk diceritakan di dalam sekuelnya. Dan video-video yang ditampilkan di dalam Sinister 2 tak bisa menghadirkan atmosfir mengerikan yang juga menjadi signature dari film Sinister yang pertama. Signature yang setia Ciaran Foy selipkan di dalam film sekuelnya, ternyata tak bisa menyelamatkan betapa minimalisnya sekuel dari film horor yang sangat menyeramkan di seri sebelumnya. 


Sama dengan penyakit-penyakit film horor yang dibuat sekuelnya, Sinister 2 tak menjanjikan presentasi akhir yang sama kuatnya dengan film sebelumnya. Pergantian arahan dari Derrickson ke Foy membuat Sinister 2 memiliki performa yang turun sangat drastis dan membuat Sinister 2 hanyalah sebuah film horor sekuel dengan tampilan murahan. Meski memiliki beberapa signature yang diselipkan ke dalam filmnya, tak lantas membuat Sinister 2 bisa memberikan atmosfir horor yang kuat. Malah, Sinister 2 jatuh menjadi sebuah film penuh Jump Scares yang gampang ditebak dan tidak menyeramkan. 

HOTEL TRANSYLVANIA 2 (2015) REVIEW : The Hotel Has Nothing New to Offer

 

Setelah sukses luar biasa dari segi pendapatan, Hotel Transylvania jelas menjadi salah satu film animasi yang menjanjikan bagi Sony Pictures Animation. Film arahan dari Genndy Tartakovsky ini akan dijadikan sebagai senjata pengeruk uang bagi rumah produksi satu ini. Benar, selang 3 tahun kemunculan film pertamanya, Hotel Transylvania kembali dibukan untuk para penonton yang ingin merasakan kehidupan para monster di dalamnya.
 
Hotel Transylvania 2 tetap di bawah komando Genndy Tartakovsky. Meski film pertamanya memiliki presentasi yang tak terlalu baik, tetapi Hotel Transylvania 2 tetap mendapatkan lampu hijau untuk mendapatkan jadwal rilis. Hotel Transylvania 2 pun dibidik menjadi salah satu film keluarga yang dapat menghibur mereka, terutama untuk anak kecil. Adam Sandler dan Selena Gomez pun tetap kembali memberikan sumbangsih mereka sebagai pengisi suara karakter-karakter di dalamnya.

Kekhawatiran penonton terhadap sekuel Hotel Transylvania untuk bisa lebih baik dari yang pertama jelas ada. Presentasi Hotel Transylvania yang terkesan medioker bukan menjadi berita bagus bagi sekuelnya yang akan dibuat. Benar saja, Hotel Transylvania 2 pun tak bisa setidaknya berdiri sejajar dari film pertamanya yang setidaknya masih enak untuk diikuti. Sekuelnya kali ini memiliki banyak sekali konflik yang dijejalkan agar bisa memenuhi durasi selama 89 menit. 


Setelah sekian lama berpacaran, Mavis (Selena Gomez) dan Jonathan (Andy Samberg) pun akhirnya menikah. Keberadaan Jonathan menjadi salah satu anggota keluarga dari Drac (Adam Sandler) memberikan perubahan besar bagi kelangsungan Hotel Transylvania miliknya. Hotel ini pun dibuka untuk kalangan yang lebih luas, contohnya adalah manusia. Kehidupan di Hotel Transylvania pun semakin berwarna karena Mavis dikaruniai seorang anak hasil dari pernikahannya.

Dennis (Asher Blinkoff) anak dari Mavis dan Jonathan pun diperebutkan oleh Drac dan juga keluarga dari pihak Jonathan. Drac sangat ingin tahu apakah Dennis ini adalah keturunan vampir sepertinya dirinya atau manusia seperti Jonathan. Keingintahuan itu pun membuat Mavis kesal karena Drac seperti memaksa Dennis menjadi seorang Drakula sepertinya. Drac pun mencari cara agar bisa membawa pergi Dennis dan membuktikan bahwa Dennis adalah vampir seperti dirinya. 


Hotel Transylvania mungkin bukan salah satu kontender film animasi yang kuat dan belum bisa menjadi ancaman bagi film-film animasi lainnya. Presentasi Hotel Transylvania pertama yang hanya sebatas menghibur belum bisa  menggoyahkan film-film animasi lainnya. Hanya saja, dewi fortuna datang menghampiri Hotel Transylvania. Mendapatkan word of mouth yang besar dan juga penghasilan yang besar sehingga sebuah sekuel layak untuk ia dapatkan.

Lewat presentasi medioker yang ditawarkan oleh Hotel Transylvania yang pertama, mungkin penonton mencoba lebih menerima apa yang ditawarkan oleh sekuelnya. Trailer yang dikemas menyenangkan juga bisa jadi menjadi pedoman utama penonton untuk memberikan kesempatan bagi Hotel Transylvania 2 memiliki presentasi yang sama menghiburnya dengan yang pertama. Memang, Hotel Transylvania 2 masih memiliki karakter yang menggemaskan hanya saja sekuelnya ini tak memiliki kekuatan yang sama besar dibanding film pertamanya.

Hotel Transylvania 2 pun terasa dipanjang-panjangkan di dalam durasinya yang hanya 89 menit. Konflik-konflik yang ditawarkan di dalam Hotel Transylvania 2 pun terlalu banyak, sehingga penonton pun akan merasa terlalu lelah untuk mengikuti 89 menit filmnya. Ganndy Tartakovsky pun seperti kehilangan semangat untuk mengarahkan film animasinya. Hal-hal menarik di dalam filmnya memang tak terlalu terlihat di trailer-nya, karena apa yang menarik itu hanya ada segelintir dari apa yang dipresentasikan olehnya. 


Semangat untuk menjadikan sekuel Hotel Transylvania mendapatkan lagi perhatian dan hati penontonnya, kali ini sepertinya sudah runtuh. Ganndy Tartakovsky terlihat bingung untuk menyelesaikan satu persatu konflik-konflik kecil yang dimunculkan olehnya di sepanjang film. Hasilnya, filmnya pun memiliki tempo yang sangat lambat meski dengan durasi yang singkat. Di paruh kedua, Hotel Transylvania 2 pun seperti kebingungan untuk menambahkan konflik apa lagi agar durasi filmnya memenuhi kriteria sebagai film layar lebar.

Segmentasi Hotel Transylvania memang ditujukan sebagai anak-anak, sehingga jokes yang ditawarkan di film-filmnya memang terkadang tak bisa menyenangkan penonton dewasa yang menemani mereka. Dan Hotel Transylvania 2 tak memiliki perkembangan signifikan untuk membuat tertawa penontonnya. Gurauan yang dihadirkan di Hotel Transylvania 2 pun gampang ditebak dan malah membuat penontonnya tak menghadirkan respon yang diharapkan sutradaranya.

Penonton di studio pun hening, tak menimbulkan suara tawa riuh ketika menonton Hotel Transylvania 2. Sedikit senyum simpul atau tawa lembut hadir di dalam bioskop ketika humor tersebut di sampaikan oleh Ganndy Tartakovsky di dalam Hotel Transyvania 2 dan itu pun bisa dihitung jari. Hotel Transylvania 2 pun sedikit gagal menghadirkan kekuatan yang sama yang dihadirkan oleh film pertamanya untuk menghibur penontonnya.


Tujuan Ganndy Tartakovsky pun berubah, dari sebuah film yang menjadikan sarana hiburan keluarga menjadi sebuah sarana pemenuh hasrat kebutuhan para penggemarnya. Beberapa ikon menarik seperti ?I Zing You? pun hadir hanya sebatas lewat, tak memiliki momen magis seperti film pertamanya. Dan juga, Hotel Transylvania 2 hanyalah sebatas penjawab bagaimana kehidupan Mavis dan Jonathan selanjutnya di mana hal tersebut sudah terjawab di paruh awal filmnya.

Dari presentasi yang kelewat sederhana di film pertamanya, Hotel Transylvania 2 bukanlah sebuah kabar baik. Ganndy Tartakovsky meruntuhkan ekspektasi penonton yang sudah berharap besar untuk terhibur dengan sekuel dari kehidupan Drac, Mavis, dan Jonathan. Selain dari visual yang menarik dan karakter yang menggemaskan, Hotel Transylvania 2 tak menawarkan apa-apa untuk dikembangkan di dalam sebuah sekuel. Malah, Hotel Transylvania 2 mengalami penurunan yang meski tak signifikan tetapi sangat berpengaruh bagi kelangsungan 89 menit filmnya yang terasa panjang.